Halte-Halte Kemenangan

Dr. Saiful Bahri, M.A

Allah SWT memperjalankan hamba-Nya, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perjalanan isra mi’raj. Bertolak dari masjid menuju masjid. Kemudian menempuh perjalanan panjang sampai batas terakhir makhluk-Nya bernama malaikat sanggup menapak, yaitu sidratil muntaha. Dari sana Sang Nabi melanjutkan perjalanan ke suatu tempat yang hanya diketahui oleh Allah saja. Dzat yang mengundang hamba terkasih-Nya sekaligus memfasilitasi semua perjalanan sulit dan seolah mustahil tersebut. Perjalanan yang sampai pun dilakukan oleh makhluk tercepat yang terbuat dari cahaya, yaitu malaikat tetap saja takkan mampu melakukannya jika tanpa seizing Allah. Karena kecepatan malaikat mencapai tempat mi’raj ini disebutkan oleh Allah perlu waktu satu hari perjalanan yang setara dengan 50.000 tahun perjalanan biasa (QS. Al-Ma’ârij: 4). Namun, dengan izin Allah perjalanan panjang yang penuh misteri tersebut -Isra Mi’raj- ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW tak sampai satu malam, pulang dan pergi. Tubuh beliau utuh meskipun harus menempuh perjalanan dengan kecepatan yang tidak diketahui oleh siapapun. Karena ada unsur cahaya dalam diri manusia terbaik ini.

Seperti penuturan Allah berikut: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Al-Mâ’idah: 15).

Syeikh al-Mufassirîn, Ibnu Jarir ath-Thabary berpendapat bahwa yang dimaksud dengan cahaya ini adalah Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama lainnya seperti Imam al-Baghawy dan Az-Zajjaj, juga Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tafsir Jalâlainnya serta Syeikh Muhammad Sayed Thanthawi dalam al-Wasith.

Undangan khusus yang istimewa tersebut adalah sebuah isyarat turunnya kemenangan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Bahwa umatnya akan mendapatkan sebuah rahasia kemenangan Allah yang sangat eksklusif. Dan pintu serta kuncinya terletak pada konten maksud dipanggilnya Nabi Muhammad SAW menghadap Allah. Yaitu perintah shalat. Dan dengan amanah shalat tersebut sekaligus menjawab, mengapa Allah menjadikan halte pemberangkatan Nabi Muhammad adalah sebuah masjid, yaitu Masjid al-Haram dan menjadikan halte transitnya juga sebuah masjid, yaitu Masjid al-Aqsha. Kedua halte pemberangkatan serta transit tersebut berupa masjid dan bukan yang lainnya. Tentu ini berkaitan erat dengan shalat dan tempat sujud di bumi-Nya.

Allah hendak mengajarkan efektifitas. Shalat menjadi satu-satunya ibadah yang tidak ada toleransi untuk meninggalkannya dalam segala kondisi. Mukim atau musafir, dalam keadaan aman atau ketika berperang, dalam keadaan sibuk atau lapang, dalam keadaan sakit atau sehat, dalam keadaan sanggup berdiri atau tidak, dalam keadaan ada air atau tidak dan seterusnya. Nabi Muhammad SAW member tahu efektifitas pengerjaannya. Barang siapa yang mengerjakannya secara berjamaah maka itu setara atau melebihi shalat sendiri dengan kelipatan 27 kali. Artinya shalatnya seseorang sekali yang dilakukan secara berjamaah melebihi nilai shalat sendiri selama lima hari. Demikian halnya shalat seseorang di Masjid al-Haram sekali saja maka nilainya setara atau melebihi shalat 100.000 kali. Itu artinya seseorang menyamai shalat selama 55 tahun di masjid-masjid lainnya. Shalatnya seseorang di Masjid al-Aqsha bernilai –dalam sebuah riwayat- menyamai 500 kali shalat di masjid lainnya, dan itu setara dengan shalat 100 hari di masjid-masjid lainnya. Belum lagi jika dikerjakan di waktu-waktu istimewa seperti malam lailatul qadar. Maka, tentunya akan menghasilkan tingkat efektifitas yang luar biasa.

Energi-energi efektifitas tersebut didapatkan dari kedua halte tersebut. Agar menjadikan umat Islam selalu terkait dengan orbit keberkahan tersebut. Halte-halte kemenangan yang Allah tekankan di awal surah al-Isra’ ini mengindikasikan urgensi kedudukan masjid, terutama kedua masjid tersebut; Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha.

Menilik kondisi terkini Masjid al-Aqsha maka sudah semestinya setiap muslim menyadari amanah yang diberikan kepadanya sebagaimana ketika Rasulullah diperjalankan ke tempat tersebut. Masjid yang saat ini terancam, dinistakan, orang-orang yang hendak meramaikannya dengan berbagai kegiatan dilarang dan dibatasi. Saatnya semua umat Islam menyatu menyelamatkannya. Bukankah ketika kita shalat adalah bagaikan kita menapaki jejak-jejak Nabi SAW ketika menghadap Allah. Visualisasikan -jika berani- maka hal itu seolah kita hendak membonceng Rasulullah SAW dari tempat pemberangkatan ke tempat transitnya. Bukankah setiap tahiyyat kita menyapa beliau, “Assalâmu alayka ayyuhan nabiyyu warahmatulLâhi wa barakâtuh” pertanda bahwa kita selalu dekat dan menyapanya dalam setiap shalat kita.

Jika Masjid al-Haram dan Masjid Al-Aqsha yang menjadi halte pemberangkatan dan transit Rasul SAW ini kita jaga, biidznillah kita akan menapaki kemenangan sebagaimana Allah anugerahkan kepada beliau di perang Badar dan  peperangan lainnya. Keduanya juga menjadi kiblat shalat beliau. Masjid al-Aqsha menjadi kiblat selama 16 bulan dan setelah itu kiblat beliau beralih ke Masjid al-Haram.

Maka menjaga sinergitas antar masjid juga perlu, agar berbagai kegiatan yang diprogramkan dan dilaksanakan bisa saling mendukung dan menguatkan misi perbaikan sosial dan menuju kebangkitan. Menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas adalah hal yang juga pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika beliau berhijrah ke Madinah. Maka sudah seharusnya umat ini meniru dan meneladani apa yang dilakukan Rasul SAW. Jika saja umat ini selalu menyadari urgensi dan kedudukan masjid maka kemenangan dan masa keemasan rasanya tak terlalu jauh lagi. Namun, jika sebaliknya meski dengan jumlah yang banyak dan kemampuan materi yang mapan, rasanya sama saja semakin menjauh dari halte-halte kemenangan yang ditunjukkan Allah sebagaimana Dia menunjukkannya kepada kekasih-Nya, Muhammad SAW.

Di masjid orang-orang bersua dan berilaturahim, bertukar pikiran dan membuka wawasan. Seharusnya masjid menjadi pertemuan para pelaku dan penentu kebijakan, pembangun peradaban di posisinya yang produktif, para pemuda, pengusaha, para jendral, para ekonom, para pimpinan dan sebagainya. Meskipun tentunya, masjid selalu terbuka juga untuk orang-orang seperti para pensiunan, orang-orang yang sedang pailit atau bangkrut, sedang sakit atau tertimpa banyak masalah. Namun, jika orang-orang produktif tadi berkumpul maka akan menjadi rangkaian sinergi positif yang dahsyat.

Kemenangan itu dekat. Sangat terasa. Jika saat ini kita sering berada dan memperhatikan halte-halte kemenangan yang ditunjukkan Allah SWT. Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsha serta masjid-masjid lainnya.

Kembalilah ke masjid. Sentuhkan kening, ambillah kunci-kunci kemenangan dari Dzat yang maha menganugerahkannya. Wa fathun qarîb bi’idznihî ta’âla.

 

Catatan keberkahan 038

Jakarta, 25.04.2016

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *