The Untouchable Angels (Bidadari-Bidadari yang Tak Tersentuh)

Di dalam al-Quran, Allah menyebut kata hûrun ‘în yang berarti bidadari sebanyak tiga kali (di surah ad-dukhan: 54, Ath-Thur: 20, Al-Waqi’ah: 22), adapun status mereka sebagai istri atau pasangan bagi orang-orang shalih (azwâj muthahharah) yang dijanjikan Allah disebut sebanyak tiga kali (di surah Al-Baqarah: 25, Ali Imran: 15 , dan An-Nisa’: 57), sifat-sifat bidadari di dalam al-Quran yang disebut sebagai ekslusivitas dan dipingit (qashirât ath-tharfi) tiga kali (di surah Ash-Shaffât: 48, Shâd: 52, Ar-Rahmân: 56 atau maqshurat fi al-khiyam (di surah Ar-Rahman: 72) dan good looking, cantik, menawan serta berakhlak baik (di surah Ar-Rahman: 70).

Bidadari-bidadari tersebut umumnya dipersepsikan sebagai “makhluk lain” yang Allah ciptakan untuk seorang lelaki yang shalih nantinya di surga sebagai balasan untuk mereka selain rewardlainnya yang disediakan Allah. Padahal kata-kata azwâjun muthahharah juga bisa menjadi penjelmaan luar biasa para wanita shalihah yang ada di dunia. Artinya, para wanita shalihah itu nantinya bisa jadi bermetamorfosis menjadi bidadari, bahkan bidadari yang terbaik dan yang paling sempurna. Memang, hal ini menjadi pembahasan debatable di kalangan para pakar tafsir dan ilmu-ilmu keislaman. Yaitu tentang siapa yang paling baik nantinya antara para perempuan shalihah yang masuk surga atau bidadari-bidadari yang Allah ciptakan khusus untuk penduduk bumi yang berjenis kelamin laki-laki yang masuk ke dalam surga Allah. Tak ada dalil yang tegas-tegas menjelaskan atau mendukung salah satu dari dua pendapat yang berbeda tersebut.

Logikanya; wanita shalihah di dunia meraih surga dengan jerih payah amal baiknya didukung –pastinya- dengan keputusan dan ridha serta rahmat Allah, ridha suaminya, juga dari orang tuanya. Tentu berbeda kondisinya dengan para wanita surga (bidadari-bidadari) yang memang diciptakan untuk berada di surga tanpa melakukan apa-apa sebelumnya. Maka, wanita shalihah dunia –walLâhu a’lam– lebih baik dari para bidadari surga saat keduanya berada bersama di sana.

Penduduk surga yang laki-laki dijanjikan oleh Allah memiliki istri lebih dari satu. Selain istrinya yang di dunia (jika masuk surga bersamanya), maka ia juga akan beristrikan para bidadari sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Quran dan sabda Rasulullah SAW. Tiada lagi keberatan sebagaimana kondisi keberatan di dunia yang dialami para wanita dunia, tiada lagi perasaan dan ekspresi cemburu di surga. Karena, kuasa Allah berlaku, Dia cabut rasa cemburu di surga. Rahmat & cinta-Nya yg mendominasi suasana surga. Penduduk surga hanya mendengar dan berkata baik. Tiada iri, tanpa dengki, sirnanya dendam, nir makian dan kata kasar, atau bahkan perkataan yang sia-sia dan tak bermakna. Semua penuh kebaikan. Lihat penuturan Allah dalam surah Al-Waqiah: 25 dan An-Naba’: 35.

Kemasyhuran para bidadari tersebut dengan berbagai karakteristik wah yang luar biasa dan kecantikan yang memesona, pada akhirnya tiada satu pun dari manusia dunia yang sanggup memastikan seperti apa mereka itu. Karena mereka tidak pernah ada dan dilihat di dunia. Tak pernah diketahui hakikat kecantikannya. Sebagaimana realisasi kenikmatan surga sendiri, Allah senantiasa membunyikannya dengan permisalan. Karena, surga takkan pernah bisa disaksikan dan dilihat kecuali oleh mereka yang berhak dan saat benar-benar memasukinya di sana.

Pada bidadari tersebut benar-benar khusus diciptakan untuk para lelaki shalih. Mereka, tidak pernah tersentuh oleh siapapun baik jin maupun manusia, kecuali oleh pasangan mereka masing-masing; seperti dituturkan dalam surah ar-Rahman: 56.

******

Di dunia pun sebenarnya sudah ada bidadari-bidadari, meski tidak dengan karakteristik seperti halnya para bidadari surga. Mereka sebagian mungkin tidak menampakkan kecantikan fisiknya, karena yang menonjol adalah kecantikan karakternya. Sebagian lain meskipun secara fisik cantik dan feminism, namun nuansa kepahlawanannya menonjol dan mengalahkan sifat kewanitaannya. Sebagian lagi adalah berada di balik layar, menyiapkan si kecil untuk tumbuh sebagai aktor dan penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Sebagian lagi berkonsentrasi untuk mempercantik dirinya di depan para suaminya. Sehingga menjadi permata ketentraman dalam hidup, menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang menggelegak di antara gejolak-gejolak di jalanan, namun hampir semua –kalau tak dikatakan semuanya- yang tersedia di luar rumahnya adalah godaan-godaan syahwat yang haram.

Mereka itulah sebenarnya yang sudah menjelma menjadi bidadari di dunia, sebelum benar-benar menjadi bidadari surga yang selalu awet muda, selalu nyaman dipandang, cantik memesona, selalu bersih dari berbagai kotoran, tak pernah lagi lelah dengan berbagai beban dunia.

Di antara mereka ada pula yang menjadi bidadari dengan mengikatkan diri mereka menjaga asset keberkahan umat ini. Mereka senantiasa, di sepanjang waktu saling bergantian dan menguatkan untuk menjadi garda penjaga Masjid Suci al-Aqsha dari berbagai penistaan.

Jika sebelumnya, para tentara zionis sudah menakuti dan menargetkan para lelaki yang melakukan perlawanan fisik. Kemudian, dalam perjalanan waktu mereka juga takut kepada anak-anak kecil yang berubah menjadi sosok yang menghantui ketenangan mereka, mengancam perilaku lalim mereka. Kini hadir sosok-sosok baru yang menjadi target penistaan mereka. Yaitu para wanita al-Quds (al-maqdisiyât) yang sering disebut dengan murâbithât. Mereka saling membantu dan menguatkan dan bergantian untuk beri’tikaf dan berada di komples Masjid al-Aqsha. Dengan kata lain, mereka tak membiarkan Masjid Al-Aqsha kosong dari penjagaan. Mereka ingin terlibat dalam kontribusi pemeliharaan dan menjaga masjid dari segala jenis penistaan. Awalnya aktivitas mereka ini menjadi biasa, namun belakangan semenjak dua bulan terakhir di tahun 2015 seiring dengan meningkatnya eskalasi perlawanan terhadap Zionis Israel, maka sebagian dari mereka pun menjadi target penangkapan, sebagian divonis hukuman, sebagian lagi diasingkan secara permanen atau temporer beberapa bulan. Meskipun sebenarnya sebagian mereka sudah terasingkan, namun sesungguhnya para perempuan tersebut adalah sosok-sosok yang tak tersentuh oleh kezhaliman. Fisik mereka boleh jadi dipenjara dan diasingkan dari bumi suci. Tapi spirit perjuangan dan perlawanan mereka menjadi viral dan menular ke hampir semua para wanita, bukan hanya yang berada di orbit masjid suci, tapi kepada para wanita dunia yang dipertunjukkan kegigihan dan spirit tiada menyerah. Takkan pernah ada habisnya.

Mengapa perempuan? Karena para lelaki terbatas aksesnya. Lelaki muda yang berusia produktif di bawah 45 tahun dilarang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bahkan mereka yang tua pun tak semua diizinkan dengan mudah.

Maka kini, semua komponen anggota masyarakat bersatu melawan kezhaliman. Itulah sebenarnya yang semestinya dilakukan. Yaitu, jika para lelaki, anak-anak, dan perempuan bersatu padu dan kompak melakukan perlawanan terhadap kezhaliman, maka takkan lama lagi usia kezaliman yang masih bercokol. Takkan ada lagi ruang bernafas bagi para pelaku kezhaliman. Maka senjakala kezhaliman di bumi ini takkan lama lagi terjadi endingnya.

Dan karena bidadari-bidadari dunia tersebut takkan pernah bisa disentuh dan diruntuhkan spirit perjuangan dan perlawanan mereka. Jika malam sudah demikian gelapnya. Umat ini ternistakan di mana-mana serta menjadi target kambing hitam di berbagai aksi terorisme dan kejahatan publik, itu pertanda takkan lama lagi fajar kemenangan datang. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 35

Jakarta, 28.01.2016

 

DR. SAIFUL BAHRI, M.A

*) dedicated to murâbithât maqdisiyah yang kukuh dan tak pernah berhenti menjaga Masjid al-Aqsha dari penistaan zionis

(Visited 42 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *