Visi dan Kecerdasan

Rasulullah SAW. bersabda,”Orang yang cerdas adalah yang mengalahkan (hawa) nafsunya dan berbuat untuk kehidupan setelah mati”.

Petuah ini menyeru umat Islam agar menjadi orang cerdas, memiliki visi jangka panjang dan strategi bagus. Orang yang berpikir pendek tak memiliki visi jangka panjang. Kecerdasan dan kemampuan merancang ketahanan visi ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dalam doanya di Surah asy-Syu’arâ’: 84, “dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”. Al-Quran membahasakannya “lisâna shidqin”. Karena buah tutur yang baik itu bukan hanya pujian atau pengakuan, namun ada yang lebih dari itu. Nama baik yang bertahan lama, keteladanan dan (didoakan) yang juga bertahan lama. Doa Nabi Ibrahim tersebut dikabulkan. Nama Nabi Ibrahim kekal dalam kebaikan, keteladanannya juga terus bertahan, bahkan namanya disandingkan dalam bacaan shalawat saat kita membaca tahiyyat akhir sebelum mengakhiri shalat.

Itulah kekuatan visi Nabi Ibrahim. Kecerdasan memvisualisasikan masa depan. Kecerdasan mempertahankan harapan baik untuk tetap bertahan pada tiap individu yang memperjuangkannya. Meskipun, harus berhadapan dan berbenturan dengan rezim kezhaliman dan keburukan yang sangat merajalela dan menyebar ke berbagai sendi sosial.

Umat Islam tetap menjalankan shalat, berpuasa, berzakat dan berbagai amal lain karena memiliki motivasi. Utamanya adalah menjalankan perintah Allah dan yakin akan mendapatkan balasan kebaikan dari-Nya. Lihatlah, ciri-ciri ketakwaan di awal Surah al-Baqarah adalah beriman kepada yang ghaib. Memvisualisasikan itu tak harus membendakan dan menjadikannya materi. Tapi, mempertahankan tetap kuat dan ada dalam motivasi. Itulah letak kekuatan visi dan kecerdasan seseorang.

Ibrahim muda melawan kezhaliman yang merajalela, orang tuanya bahkan tak berpihak, namun ia tak menyerah. Ia melawan dengan strategi dan kecerdasan. Namrudz pun binasa. Benar, hal itu karena kekuasaan Allah, bukan karena kecerdasannya. Tapi, Ibrahim punya peran. Setelah menikah dan punya anak, beliau pun menyebar anak-anaknya ke berbagai penjuru dan pelosok negeri-negeri untuk diwakafkan sebagai pendakwah dan tokoh utama perubahan.

Karena itu, beberapa perintah Allah sering dikaitkan dengan kontinyuitas. Seperti, Surah Ali Imran: 200, firman Allah, “ishbirûwa shâbirû wa râbithû” kesabaran harus terus dilakukan dan saling dikuatkan antar sesama umat.

Kekuatan visi terkait dengan keberlangsungan cita-cita. Baik, untuk menanamkan kebaikan atau sebaliknya, mengusir keburukan dan kezhaliman. Tak boleh ada kata menyerah, tak seharusnya ada kata cukup di sini. Kata-kata tersebut adalah bentuk berakhirnya visi dan kecerdasan.

Sekedar contoh, jika umat Islam membela dan menjaga Masjid al-Aqsha adalah sebuah keniscayaan. Menyelamatkannya dari penistaan dan distorsi sejarah atau penghancuran fisik adalah salah satu bentuknya. Meski sulit, namun hal tersebut diyakini akan terus bertahan. Nama-nama seperti Umar bin Khattab, Nuruddin Zanky, Shalahuddin al-Ayyubi, dan Sultan Abdul Hamid adalah contoh para pemimpin yang cerdas, berani dan bervisi cerdas. Dengan pencapaian berbeda-beda, nama mereka kekal dalam ingatan umat Islam karena visi cerdas mereka terkait Masjid al-Aqsha.

Jika ada survey atau penelitian yang membandingkan kondisi umat Islam sebagai penduduk asli Palestina dan penduduk migran Israel yang menempati tanah-tanah rampasan, maka mereka tak seharusnya kehilangan harapan. Sebagaimana umat Islam lainnya terus mendorong dan berusaha membela mereka terlepas dari kezhaliman juga terus menjaga Masjid al-Aqsha. Karena, hal tersebut bukanlah masalah lokal. Masjid ini adalah simbol ideologis dan representasi peradaban umat, maka untuk menjaganya diperlukan sebuah visi kuat dan cerdas agar terus bertahan sampai Allah menentukan takdir kemenangan.

Catatan Keberkahan 53

Jakarta, 06.05.2017

SAIFUL BAHRI

(Visited 2 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *