IDEOLOGI YAHUDI DAN ZIONISME (Bagian 2 – Negara Zionis Israel)

IDEOLOGI YAHUDI DAN ZIONISME

( Iskandar Samaullah – Pengamat Yahudi dan Zionisme, ASPAC For Palestine)

(Bagian 2 – Negara Zionis Israel)

 

Memilik tanah air dalam mengokohkan eksistensinya adalah hak setiap ras, agama dan etnis. Pakistan lahir dari kerinduan dan perjuangan untuk mendirikan sebuah negara Muslim, jelas terpisah dari tanah air Hindu India, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan memiliki struktur yang harmonis dengan agama-agama lain.

 

Indonesia mayoritas Muslim tetapi selaras dengan agama-agama lainnya. Oleh karena itu sebetulnya orang-orang Yahudi Israel bisa saja hidup berdampingan dengan Muslim dan Israel dapat memberikan hak yang sama kepada mereka tapi ini bukan tujuan Zionis. Tujuan Zionis adalah memiliki tanah air dari sebuah penjajahan, pembantaian dan pengusiran penduduknya kemudian terus memperluas batas-batasnya dengan peperangan. Tentunya ini adalah sesuatu yang tidak diterima dengan logika ketika Zionis Yahudi menyatakan klaim bahwa Sion yang membentang dari sungai Nil sampai Eufrat sebagai hak Zionis berdasarkan bukti sejarah berusia 2.000 tahun yang hingga hari ini belum ada bukti otentik yang membenarkannya.

 

Kebencian terhadap penduduk Palestina yang notabene beragama Islam dan Kristen telah dijadikan sebagai taktik bertahan hidup bagi kaum Zionis . Mereka mengalami kekhawatiran mendalam bahwa jika mereka tidak menekan orang-orang Muslim Palestina dan tidak mengobarkan peperangan terhadap mereka, mereka akan binasa. Namun pada kenyataannya  mereka juga akan binasa jika pola pikir ini berlaku karena cepat atau lambat bisa dipastikan nanti umat Islam akan bangkit melawan Zionis Israel.

 

Selama bertahun-tahun Zionis Israel  telah menggunakan ungkapan ” Israel adalah satu-satunya Negara demokrasi di Timur Tengah ” sebagai senjata ideologis untuk menjelekkan orang Arab dan untuk membenarkan kejahatannya. Pembantaian yang terjadi di Palestina menunjukkan kepada dunia, wajah buruk dari Zionisme serta bangkitnya fasisme Israel. Ini membuktikan bahwa Zionisme dan rasisme adalah sesuatu yang sama.

 

Sesungguhnya Zionis Israel menggunakan teori penindasan untuk membenarkan munculnya Zionisme, yang menjadi fenomena fasis di negara Israel. Dan kita ketahui bahwa klaim penindasan sesungguhnya tidak tepat karena banyak sejarah penindasan yang dialami etnis lain namun mereka tidak memanipulasi  dan memperdagangkan masa lalu kelam mereka dalam bentuk seperti Zionisme .

 

Ada banyak contoh yang menyerupai hal tersebut. Penduduk asli Amerika Serikat, Australia, Afrika dan Asia, jutaan di antaranya dibunuh dan sakit dirawat selama berabad-abad dan tidak ada satu pun yang melancarkan aksi seperti Zionis. Orang-orang Afrika diperlakukan sebagai budak, dibelenggu rantai kemudian dikirim ke Amerika. Hal tersebut merupakan penderitaan panjang mereka namun hingga sekarang tak seorang pun pernah mendengar tentang “Zionis Afrika”. Kita dapat membandingkan reaksi dari kedua etnis yang berbeda terhadap penindasan yang mereka alami. Theodor Herzl menjadikan budaya kebencian sebagai dasar budaya Zionis, untuk menjajah Palestina, membantai dan mengusir rakyatnya yang pada akhirnya nanti akan dujadikan negara rasis di Timur Tengah.

 

“The African Response” yang dirumuskan oleh Martin Luther King adalah untuk menegaskan bahwa Afrika, setelah berabad-abad penindasan, bermimpi tentang kebebasan dan keadilan dihari yang akan dating, ketika “anak laki-laki dan perempuan kulit hitam dapat bergandengan tangan dengan anak laki-laki dan perempuan kulit putih sebagai saudara dan saudari . ”

 

Antisemitisme

Antisemitisme mulai menghangat kembali pada bulan April 2002 ketika terjadi pemboman atas Palestina dan kamp-kamp pengungsi. Kejadian ini mendapatkan banyak kritikan tajam khususnya di Eropa dan di tempat lain. 59% penduduk Eropa mengungkapkan dalam jajak pendapat bahwa bahaya terbesar bagi perdamaian dunia datang dari Israel.

 

Dalam banyak kesempatan Zionis Israel menjadikan jajak pendapat tersebut sebagai prasangka terhadap orang-orang Yahudi secara keseluruhan dan menggunakannya sebagai kampanye antisemitisme. Sedangkan dalam realitanya, kecaman yang menggema diseluruh dunia tersebut semata-mata untuk mengutuk kejahatan yang dilakukan Israel dan para pemimpinnya. Serangan balik karena antisemitisme selama intifada itu disebarkan oleh organisasi-organisasi Yahudi di Amerika, oleh Dewan Yahudi di Jerman dan beberapa wartawan Yahudi serta akademisi di Eropa. Berikut adalah beberapa contoh : Editor Commentary, salah satu jurnal terkemuka Yahudi di Amerika, menulis : Yahudi di Amerika Serikat justru menjadi target pembunuhan.” pemimpin Anti Defamation League Amerika, Abraham Foxman, menegaskan bahwa ” kelangsungan hidup orang-orang Yahudi mungkin sekali sedang berada pada masa yang berisiko. ” Elie Wiesel, salah satu pengusung terkemuka isu Holocaust, berbicara pada sebuah konferensi antisemitisme di Berlin dan di PBB. ia berkata : ” Ada terlalu banyak kota di dunia dilanda kebencian dan kekerasan terhadap orang-orang Yahudi, spanduk mengutuk yang dilakukan politikus sayap kiri tanpa malu-malu memfitnah Israel, hasutan massa untuk mengutuk kemudian menjadi propaganda anti-Israel. “Di New York : “Enam puluh tahun setelah tragedi terburuk dalam sejarah manusia, Yahudi sekali lagi mengalami kebencian. ”

 

Para pemimpin Zionis telah melakukan aksi yang mencapai puncaknya pada konferensi antisemitisme yang menyatakan bahwa mengkritik Israel adalah merupakan antisemitisme. Dan kita mengetahui bahwa ini adalah cara berpolitik yang berbahaya dan dipaksakan tanpa adanya bukti-bukti yang jelas.  Selanjutnya  kita saksikan bagaimana perilaku zionis Yahudi terhadap bangsa Palestina dan Negara-negara di sekitarnya.

 

Holocaust

Di Amerika obsesi terhadap tragedi Yahudi adalah karya besar organisasi Yahudi dan mereka menduduki posisi kunci di surat kabar, jurnal, televisi, penerbitan buku, Hollywood dan di dunia akademik. Berikut ini contoh singkat  apa yang telah mereka capai :

 

1.      Ada museum holocaust tidak hanya di Washington, tapi juga di setiap kota besar di Amerika.

2.      Di Negara bagian New England ada monument yang didedikasikan untuk para pahlawan Revolusi Amerika dan juga ada sebuah monumen untuk korban Yahudi dari PD II .

3.      Di banyak negara bagian di Amerika, guru berkewajiban untuk mengajar siswa tentang holocaust . Untuk topik ini, ada profesor dan akademisi yang meneliti serta mengulas tentang holocaust di perguruan tinggi.

4.      Film tentang Holocaust ditonton oleh sebagian besar dari 110 juta pemirsa . Organisasi Yahudi menerbitkan cerita film Schindler’s List dalam bentuk brosur 16 halaman dan dicetak sebanyak 110 juta dan bekerja sama dengan

4.surat kabar ternama untuk mencetak dalam bentuk buku berseri .

5.      Antara tahun 1996 dan 2000 New York Times dicetak 3.500 artikel dengan tema holocaust.

 

Holocaust belum menjadi hal yang menonjol di Amerika sampai tahun 1960. Setelah Perang Dunia II, perang dingin berlangsung sampai akhir 1950-an. Kalangan politik dan media sibuk memerangi komunisme. Namun dengan berakhirnya perang dingin, berakhir pula upaya-upaya untuk memerangi komunisme. Puncaknya isu holocaust menggema kembali dalam kasus  Eichmann, yaitu penangkapan Israel atas Adolf Eichmann seorang perwira SS yang melarikan diri ke Argentina dan dihukum mati di Israel. Kasus ini mengambil perhatian dunia saat itu selain karena isu halacoust juga karena penangkapan yang dilakukan Israel menyalahi aturan internasional dan kedaulatan Argentina. Akibat tekanan dari Amerika maka protes dari PBB dan Argentina kemudian bisa dihindari.

 

Kampanye Zionis

Pertama : ” Seperti Herzl, tujuan utama mereka adalah untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa mereka adalah bangsa Yahudi dan bahwa Israel adalah Negara mereka. Dalam realitanya di Amerika di mana Zionisme memiliki basis terkuat di luar Israel, banyak orang Yahudi menolak klaim Israel dan menentangnya dengan keras.“ Herzl dan para penerusnya berusaha untuk menjaga orang-orang Yahudi bersama-sama dan terpisah dari orang lain dengan menyebarkan ketakutan dan ketidakpercayaan di antara mereka. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Eropa Timur, PD I dan PD II adalah salah satu rentetan peristiwa yang dijadikan dalih untuk menakut-nakuti orang-orang Yahudi agar mereka mau menerima ideologi Zionis. Bahkan Yahudi Amerika yang sudah hidup mapan pun senantiasa direcoki dengan isu keamanan dan ketidakpercayaan. Diantara upaya untuk mengingatkan para Yahudi Amerika dengan peristiwa tersebut diantaranya dengan sebuah kalimat : “Jika Anda tahu semua  sejarah, Anda  menganggap holocaust tidak akan terjadi lagi, tetapi itu akan terjadi lagi.”

 

Ini hanya masalah waktu. “Kesadaran bahwa holocaust akan terjadi lagi sangat diperlukan, sehingga orang-orang Yahudi siap untuk meninggalkan Amerika . “Tapi pernyataan ini adalah tipuan yang disengaja. Peter Novick, profesor sejarah di Universitas Chicago telah menunjukkan bahwa para Zionis yang panik ini mencoba untuk menghentikan campuran pernikahan dan pembauran. Pada tahun 1960, 40 % dari pria Yahudi dan 30 % dari wanita Yahudi menikahi non – Yahudi. Yang menyebabkan langkah-langkah kontra dari para penganut paham Zionis karena fenomena ini berbicara tentang hilangnya warisan holocaust dalam darah mereka

 

Tujuan kedua :Dukungan untuk Israel. Citra dan keuangan, diplomatik dan dukungan dari luar yang sangat penting untuk keberhasilannya. Para pemimpin Zionis khususnya di Amerika dan Jerman menempati berbagai jabatan publik di mana mereka dapat menyebarkan pandangan mereka tentang urusan Timur Tengah dan diketahui banyak orang serta memberikan pengaruh yang besar. Mereka menegaskan bahwa Israel hanya membela diri dan berjuang untuk keberadaannya. Dershowitz, misalnya: “Masalah moral yang dihadapi dunia pada awal milenium adalah apakah upaya Israel untuk melindungi diri terhadap terorisme akan menghasilkan peningkatan besar antisemitisme di seluruh dunia.” Paul Spiegel menyatakan dengan kalimat yang sama setelah serangan helikopter terhadap markas Hamas, di mana delapan warga sipil tewas, termasuk anak-anak : “Mereka menyatakan hal ini sebagai aksi mempertahankan diri. ” Kritik atas tindakan Israel ini sangat jarang dilakukan oleh pemimpin Zionis. Ketika anggota Dewan Yahudi di Jerman, Profesor Paul Verleger, mengkritik praktik Israel dalam pembunuhan tanpa sidang pengadilan dan penghancuran sebagian besar kota-kota di Lebanon, pimpinan Dewan menuduhnya menggunakan kalimat-kalimat klise anti -Israel dan mengusirnya dari Dewan.

 

Tujuan ketiga :Tujuan Zionis khususnya di Amerika dan Jerman adalah untuk mempertahankan posisi istimewa untuk mengingat tragedi Yahudi. Ada kelompok-kelompok etnis lain yang ingin penderitaan masa lalu kelompok mereka diakui. Sebuah rancangan resolusi di Kongres untuk pembangunan sebuah museum untuk mengenang apa yang telah dialami oleh budak kulit hitam di Amerika ditolak. Kulit hitam tidak pernah menerima kompensasi. Begitu juga suku Indian yang merupakan penduduk asli Amerika. Mereka tidak pernah mendapat kompensasi dan pengakuan yang layak.

 

Hal yang membedakan ideologi Zionis dan ajarannya adalah rasa takut dan ketidak amanan. Mereka memberikan gambaran kenyataan yang kelam. Seperti yang terjadi pada beberapa ideologi lain, usaha mengusung zionisme ini telah sukses mengantarkan pengusungnya kepada beberapa keberhasilan tetapi juga menimbulkan tragedi kemanusiaan bagi bangsa Palestina dan bangsa Arab lainnya.

 

 

Selesai…….

Disarikan dari buku Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha, ASPAC For Palestine.

(Visited 40 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *