KEWAJIBAN TERHADAP PALESTINA (3)

KEWAJIBAN TERHADAP PALESTINA

 (Muhammad Syarif, Lc – Bidang Kajian ASPAC For Palestine)

INTIFADAH

 

10.   Gaza dan Jericho

Tanggal 5 Agustus 1994, Yasser Arafat tiba di Jalur Gaza, dan mendapatkan sambutan luar biasa dari masyarakat Palestina. Ia menjabat sebagai presiden Otoritas Palestina berdasarkan kesepakatan yang dibina oleh Amerika antara Yahudi dan Palestina. Amerika sejak saat itu menjadi mediator resmi untuk perdamaian Israel Palestina. Di tahun yang sama, 25 Juli 1994, Raja Husein dari Yordania menandatangani perjanjian damai dengan Washington untuk mengakhiri perang antara Yordania dengan Israel. Mereka sepakat menandatangani perjanjian damai di Yordania. Kesepakatan itu berisikan pemberian dua wilayah Gaza dan Jericho saja kepada Otoritas Palestina atau 2% dari wilayah Palestina secara keseluruhan. Yang selanjutnya akan digelar kesepakatan tahap kedua, ketiga, dan tahap akhir. Di akhir nanti diharapkan semua permasalahan selesai, seperti masalah al-Quds yang selama ini pembahasannya kerap ditolak oleh Israel.

 

11.   Pasca-Kesepakatan Damai

Di luar prediksi banyak pihak, kesepakatan damai yang semula diharapkan benar-benar menjadi kesudahan dari perseteruan Palestina-Israel ternyata sia-sia belaka. Permasalahan al-Quds yang menjadi permasalah utama yang menimpa bangsa Palestina menjadi sentral perjuangan anak-anak bangsa untuk dibebaskan. Kelompok Islam yang ada di Palestina tiga hari setelah perjanjian damai mengejutkan dunia dikejutkan dengan aksi bom syahid dari gerakan Islam di jantung ibu kota Israel, Tel Aviv. Serangan ini mengakibatkan tewasnya 22 orang Zionis Israel dan melukai 48 orang dari mereka. Bom syahid ini menjadi pukulan telak terhadap perjanjian damai yang dilakukan dan membuat penjajah Israel terpukul. Mereka banyak berharap agar kesepakatan damai yang diimpikan benar-benar dapat membungkam faksi perlawanan. Namun, faktanya di lapangan, hal tersebut tidak pernah terjadi.

Menyikapi hal ini, Otoritas Palestina menekan gerakan perlawanan yang menolak perjanjian damai. Untuk pertama kalinya, mereka melakukan pembubaran terhadap para demonstran Palestina yang ada di Jalur Gaza. Bentrokan ini menyebabkan banyaknya korban, tercatat sebanyak 13 orang demonstran tewas dalam aksi pembubaran paksa ini dan 300 orang ditangkap. Kondisi ini telah memosisikan perseteruan yang luar biasa antarfaksi perlawanan di Palestina berhadapan dengan Otoritas Palestina yang berupaya untuk menjaga hasil dari kesepakatan dengan Israel. Akibatnya, faksi perlawanan harus menghadapi tekanan yang dilakukan oleh pihak Otoritas Palestina.

Bukan hanya di Palestina, gerakan di dalam Israel pun sama. Kelompok radikal Yahudi melakukan pembunuhan terhadap  Yitzhak Rabin, PM Israel, dalam sebuah acara pesta besar. Pembunuhan ini sebagai bentuk protes dari warga Israel terhadap perjanjian damai yang dilakukan Yitzhak Rabin dengan Palestina.

12.   Perjanjian Hamas dengan Otoritas Palestina

Pada tanggal 18 Desember 1995 diadakan dialog antara Hamas yang diwakili oleh  Khalid Misy’al, wakil Biro Politik Hamas, dan Otoritas Palestina di bawah pimpinan  Salem Za’un. Konferensi ini bertujuan untuk meredakan keinginan Hamas menyudahi operasi perlawanan dan ikut serta dalam pemilu Palestina. Namun, permintaan Otoritas Palestina ini ditolak, Hamas tegas tidak akan menghentikan gerakan perlawanan. Otoritas Palestina sendiri juga menolak syarat dari Hamas. Alhasil pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa.

Hamas tetap dengan pendiriannya dan mengadakan perlawanan kepada Israel dengan operasi jihadnya. Otoritas Palestina melalui Yasser Arafat pun tidak dapat berbuat banyak untuk menekan Hamas. Akhirnya, Israel memutuskan untuk menghentikan kesepakatan damai dengan Palestina. Tahun 1989 menjadi hari-hari yang sulit bagi warga Palestina. Maka Intifadah meletus begitu kuatnya sehingga memberikan ketakutan kepada Israel. Akibatnya dilakukanlah penangkapan terhadap  Syekh Ahmad Yasin pada tanggal 17 Mei 1989. Selanjutnya, Zionis pada tanggal 17 Oktober 1989 melakukan penistaan dengan meletakkan batu pertama pembangunan kuil Yahudi di dekat salah satu gerbang masuk Masjid al-Aqsha. Melihat kondisi yang semakin keras ini, Hamas mengeluarkan keputusan menolak upaya yang dilakukan oleh Otoritas Palestina yang berupaya mengajak Hamas bergabung dalam Majelis Nasional Palestina. Hamas mengeluarkan keputusan resmi terkait hal ini pada tanggal 7 April 1990 dengan menolak panggilan atas beberapa alasan:

1. Majelis Nasional belum terlaksana dengan cara pemilu namun ditentukan secara sepihak melalui petunjuk Arafat.

2. Surat kesepakatan menjadikan Palestina negara sekuler dan liberal.

3. Hamas mensyaratkan agar PLO menarik pengakuannya terhadap Israel dan berpegang kepada pengakuan bangsa Palestina secara keseluruhan dari darat, laut, dan udara. Dari Negev di selatan hingga Rasu Nagurah di utara, dan memberikannya untuk bangsa Palestina.  Namun, yang disayangkan adalah syarat-syarat ini semua ditolak oleh Arafat dan menjalankan Majelis Nasional tanpa menyertakan Hamas.

13.   Respons Israel Menghadapi Perlawanan Intifadah

Penjajah Israel bersikukuh dalam menghadapi perlawanan Intifadah yang berlangsung selama lebih dari 8 tahun. dengan berbagai macam cara untuk menancapkan politiknya di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak tahun 1967. Di antara cara politik yang dilakukan Israel adalah melakukan penangkapan secara membabi buta dan menerapkan teori pecah tulang yang diusulkan oleh pemerintahan Amerika dan Israel dan ini menambah jumlah korban luka dan syahid. Hal tersebut mendapat kecaman luas dari dunia internasional dan lembaga-lembaga HAM.

Menteri Peperangan Israel Ishaq Rabin kepada koran The Jerusalem Post pada petengahan bulan Januari 1988 mengatakan, setelah lima hari ia melakukan pelatihan kepada tentara Zionis cara memukul orang Palestina dengan memecahkan bagian ujungnya. Rabin mengatakan bahwa cara ini banyak digunakan dalam proses penangkapan, kemudian setelah ditangkap mereka ditempatkan di dalam penjara selama 18 hari. Baru setelah itu dibebaskan dan pasti mereka akan kembali beraksi di jalanan. Namun, dengan teori memecah tangan ini akan menyulitkan mereka untuk melempar batu saat keluar dari penjara nantinya.

Adapun dari mereka para cendekiawan Yahudi, khususnya di pihak Yahudi radikal, mengeluarkan ide di luar batas kemanusiaan dalam menyikapi Intifadah dan anak-anaknya dengan senjata api. Hal ini disampaikan oleh seorang profesor asal Amerika, Mark Cesler, yang mengatakan bahwa dalam menghadapi aksi Intifadah ini warga Israel menggunakan berbagai macam cara kasar dalam menghadapi warga Palestina. Misalnya yang disampaikan oleh pendiri partai  Hetaheya bahwa Israel akan mendeportasi ratusan orang warga Palestina yang ada di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Adapun dengan  Ariel Sharon ia menyerukan kepada militer Israel untuk menggunakan kekuatannya dalam mengubah UU. “UU harus berubah, kalau tidak maka militer akan ambil alih seluruhnya tanpa terkecuali,” paparnya.

Ia kemudian menambahkan bahwa penjajah Israel melakukan kejahatan dengan penyiksaan terhadap para penduduk desa dan pemukim Palestina, melarang berpergian para penduduknya, memutuskan jalur transportasi dan jaringan telepon. Mendirikan pos-pos militer baik yang bersifat permanen atau yang bergerak di berbagai jalan utama antara kota-kota dan desa serta permukiman.

Mereka juga menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina, melakukan penangkapan secara brutal, mereka merampas tanah, yang jumlahnya selama Intifadah meletus seluas 357.834 hektaree. Rata-rata setiap bulan tanah yang dirampas seluas 5.795 hektare, atau 153 hektare per hari. Puncaknya pada tahun 1990, di mana 50% dari total tanah yang dirampas sejak Intifadah meletus.

Adapun sikap Israel secara ekonomi dalam menghadapi Intifadah ini adalah menutup pasar dan merusak hasil panen pertanian warga Palestina. Upaya untuk memecah aksi mogok dagang yang dilakukan oleh warga Palestina karena ini merupakan senjata ampuh di sepanjang meletusnya Intifadah I. Lembaga-lembaga Palestina menghadapi tekanan untuk ditutup dan dibubarkan, khususnya lembaga pengajaran dan kesehatan. Selain itu, mereka juga terus melakukan penistaan terhadap Masjid al-Aqsha.

Adapun para pemukim Yahudi, mereka juga melakukan penekanan. Bersama dengan para tentara Israel melawan perlawanan rakyat menggunakan senjata dan meneror rakyat sipil dan anak-anak Palestina. Sebagain mereka bahkan dibunuh dan hartanya dirampas. Para pemukim Yahudi adalah sipil yang bersenjata. Mereka telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap warga sipil Palestina. Jumlah korban syahid ditangan mereka dari sipil Palestina adalah 95 orang atau 0,87% dari jumlah total warga Palestina yang syahid dengan cara ditembak peluru tajam. Ada 51 orang warga Palestina yang syahid akibat dipukul oleh para pemukim, sekitar 0,206 % dari jumlah mereka yang tewas akibat dianiaya oleh Zionis Israel.

Namun demikian, kuatnya tekanan yang dilakukan oleh penjajah Israel sama sekali tidak menyurutkan perlawanan dari bangsa Palestina itu sendiri. Politik seperti ini tidak berjalan sesuai target mereka, karena mereka berupaya menggiring opini kepada bangsa Palestina bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, dan solusinya kembalilah ke meja perundingan. Warga Palestina sendiri melakukan aksi Intifadah ini karena mereka telah muak dengan perundingan yang semuanya berakhir dengan kebuntuan.

Kekerasan yang dilakukan Zionis penjajah terhadap aksi Intifadah rakyat ini menyebabkan sebanyak lebih dari 1.392 orang syahid.12 Sebanyak 88% dari mereka tewas ditembak peluru tajam Zionis. Sekitar 2,5% tewas akibat pukulan dan kekerasan. Apabila diratarata, tercatat sepanjang Intifadah I meletus, setiap dua hari ada satu orang warga Palestina yang syahid. Paling tinggi terjadi pada bulan Desember 1987, di mana ada 37 orang warga Palestina yang syahid. Paling minim terjadi pada tahun 1991 di mana jumlah korban tewas sebanyak 8 orang dalam sebulan.

Kemudian dilaporkan juga bahwa jumlah mereka yang syahid dari anak-anak 26% dari total korban syahid secara keseluruhan, atau sebanyak 362 orang anak. Tahun 1989 menjadi tahun korban anak-anak tertinggi di antara tahun-tahun Intifadah, jumlahnya mencapai 8% dari total korban selama Intifadah terjadi. Sebanyak 31% dari total korban anak-anak.

Adapun korban luka-luka selama Intifadah berlangsung sebanayk 130.787 orang, yakni 6% dari jumlah penduduk di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Rata-rata korban luka sebanyak 656 setiap bulannya. Atau 55 orang yang terluka setiap harinya. Korban luka paling banyak terjadi pada tahun 1988 atau 35% dari jumlah korban luka selama Intifadah berlangsung.

Di samping korban luka dan syahid, Zionis penjajah juga kerap melakukan penangkapan terhadap bangsa Palestina. Menangkap tanpa pandang umur, baik anak kecil, dewasa, maupun orang tua. Jumlahnya sebanyak 160.000 lebih tawanan Palestina, atau rata-rata setiap bulannya sebanyak 2.025 orang, atau 68 orang yang ditangkap setiap harinya oleh Zionis penjajah. Sebanyak 18.211 orang dipenjara atas nama administratif, ditawan selama enam bulan atau setahun. Dipenjarakan tanpa melewati proses persidangan. Dirata-rata sebanyak 8 orang setiap harinya yang ditahan atas nama administratif.

Syuhada Palestina: Cara Pembunuhan, Penyebab Kematian, dan Korban Anak-Anak (9 Desember 1987—31 Juni 1994)

Penyebab Kematian Jumlah Korban Anak-anak
1. Karena tembakan peluru tajam

•  Oleh aparat keamanan Zionis

•  Oleh pemukim Yahudi/sipil Zionis Israel

•  Oleh sekutu penjajah

•  Dari pihak luar

 

1.109

95

18

3

 

283

16

6

2

Total 1.225 307
2. Meninggal diakibatkan pukulan dan alat lainnya selain pistol

•  Oleh aparat keamanan Zionis

•  Oleh pemukim Yahudi/sipil Zionis Israel

•  Oleh sekutu penjajah

 

 

56

15

2

 

 

8

2

0

Total 73 10
3. Penyebab kematian karena sesak napas dari gas air mata

•  Oleh aparat keamanan Zionis

•  Oleh pemukim Yahudi/sipil Zionis Israel

•  Oleh sekutu penjajah

 

 

93

0

1

 

 

36

0

0

Total 49 36
Jumlah Syuhada 1.392 353

 

 

14.   Intifadah II

Kekerasan yang terus berlanjut di luar kendali pada bulan April 2001 membawa Israel dan Palestina ke dalam pertikaian yang lebih dalam. Harus diingat bagaimana intifadah terakhir dimulai. Orang yang menjadi penyebab peristiwa ini adalah Ariel Sharon, yang kemudian menjadi perdana menteri. Sharon dikenal sebagai seorang politisi yang gemar menggunakan kekerasan.

Seluruh dunia mengenalnya karena pembantaian yang telah ia lakukan atas orang-orang Palestina, perilakunya yang suka menghasut, dan kata-kata kasarnya. Yang terbesar dari pembantaian-pembantaian itu terjadi 20 tahun yang lalu di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla, menyusul serangan Israel pada Juni 1982 ke Lebanon. Dalam pembantaian ini, sekitar 2.000 orang tak berdaya dibunuh, mengalami siksaan hebat, dan dibakar hidup-hidup.

Sharon, di bawah kawalan 1.200 orang polisi, memasuki Masjid al-Aqsha, suatu tempat yang suci bagi muslimin. Setiap orang, termasuk para pemimpin Israel dan rakyat Israel, sepakat bahwa masuknya Sharon ke tempat suci ini, suatu perbuatan yang biasanya terlarang bagi nonMuslim, adalah sebuah provokasi yang dirancang untuk mempertegang keadaan yang sudah memanas dan memperbesar pertentangan. Ia jelas-jelas berhasil. Penentuan waktunya sama pentingnya dengan tempat itu karena pada hari sebelumnya Ehud Barak telah mengumumkan bahwa Yerusalem mungkin dibagi dua dan dimungkinkan perundingan dengan orangorang Palestina.

Pada 28 September 2000, Intifadah Kedua meletus. Pada tanggal 26 Oktober 2004, gigihnya perjuangan Intifadah II membuat Israel kewalahan dan mengesahkan program penarikan mundur dari Jalur Gaza. Pada 11 Novemver 2004 Yasser Arafat, mantan ketua PLO meninggal.  Kepemimpinan di PLO digantikan oleh  Mahmoud Abbas.

September 2005 dimulai penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza. Inilah kemenangan para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun, Israel terus melancarkan serangan dan teror ke Jalur Gaza. Selain itu, Israel mendirikan tembok-tembok pembatas yang mengucilkan permukiman Palestina dan memperlebar perumahan bagi bangsa Yahudi.

Israel telah membunuh lebih dari 20.000 orang Palestina dalam rentang waktu 4 bulan ketika mereka melakukan pembantaian terhadap pengungsi Palestina di Lebanon tahun 1982. Peristiwa berdarah itu terkenal dengan nama  Peristiwa Shabra Shatila. Adapun sebagai perbandingan, Israel hanya kehilangan 21.182 penduduknya dalam usaha pendirian Negara Israel dalam kurun waktu 120 tahun, yakni dari tahun 1882 hingga 2002.

Perundingan tidak memberikan jawaban terhadap apa yang terjadi di Palestina, maka yang mereka lakukan adalah melakukan perlawanan dengan senjata batu, melanjutkan Intifadah berikutnya. Segala bentuk perundingan yang dilakukan oleh bangsa Arab sekalipun telah menemui kegagalannya ditambah dengan pengkhianatan dan makar yang dilakukan oleh Yahudi.

Bangsa Palestina dan juga dunia Islam bangkit melawan, marah dengan penistaan yang dilakukan oleh Ariel Sharon terhadap al-Aqsha. Perlawanan penuh berkah ini kemudian kembali terjadi. Seluruh bangsa Arab mendukung aksi Intifadah tersebut dengan harta dan dukungan moril. Bahkan parlemen di Kuwait mengirim secara resmi bantuan dananya kepada bangsa Palestina melalui otoritasnya.

Pada tahun 2000, pemerintah Israel tengah kedatangan sekitar 1 juta Yahudi asal Rusia. Dari 1 juta orang itu, 92 ribunya adalah ilmuwan dengan berbagai bidang disiplin ilmu, di antaranya pakar dalam nuklir dan militer.

15.   Sharon Nodai al-Quds

Pada tanggal 28 September 2000, Ketua partai Likud, Ariel Sharon, melakukan tindakan yang membahayakan dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Sharon masuk ke dalam masjid Al-Aqsha yang dijaga ketat secara formal oleh 3.000 orang tentara Israel. Mereka kemudian menodai masjid suci Al-Aqsha. Tindakan Sharon ini telah menghinakan umat Islam di manapun mereka berada, tanpa terkecuali.

Tindakan ini mendapatkan respons yang keras dari dunia Islam. terutama dari para pejuang Palestina. Tindakan nekat ini tentu sudah dipikir matang oleh Sharon, bahwa ia pasti akan gagal untuk bisa masuk ke dalam masjid. Ia sengaja melakukan hal tersebut tidak lain hanya untuk melakukan tindakan provokatif saja. Umat Islam yang menggelar ribath di Masjid al-Aqsha tentu tidak tinggal diam. Mereka segera bertindak cepat, mempertahankan masjid dari serangan Sharon dan tentaranya. Bentrokan hebat pun akhirnya tidak bisa dielakkan. Kekerasan seketika terlihat di pelataran masjid. Sebanyak 5 orang Palestina syahid dalam insiden serangan tersebut. Ratusan orang lainnya terluka ketika tengah berupaya menghalangi langkah Sharon untuk menodai Masjid Al-Aqsha.

 

 

  1. Meletusnya Gelora Intifadah II

Peristiwa yang keras ini telah membuat letupan perlawanan dalam aksi Intifadah yang baru. Ini semua membuat bangsa palestina semakin bersatu dan memiliki azam yang kuat untuk melakukan perlawan secara masif terhadap Yahudi. Sama seperti Intifadah I, ini semua lahir dari ketidakpuasan rakyat terhadap upaya perundingan damai yang berakhir buntu, termasuk pula upaya dari bangsa Arab sendiri yang gagal dalam menghadap siasat dan makar dari Zionis Yahudi. Mereka justru terbawa dengan perjanjian dan kesepakatan yang merugikan pihak Palestina dan menguntungkan Yahudi.

Namun, situasi yang berlangsung mendapatkan dukungan penuh dari dunia Islam dan Arab. Mereka memberikan sokongan dalam berbagai macam bentuk. Tindakan penodaan yang dilakukan Sharon terhadap masjid suci Al-Aqsha sudah tidak bisa ditoleransi. Aksi ini telah menyeret perhatian dunia internasional. Bahkan parlemen di Kuwait secara terang-terangan memberikan bantuan khusus kepada bangsa Palestina, bukan kepada Otoritas Palestina.

  1. Peristiwa Muhammad Durrah

Terjadi pula pada tahun ini pembantaian memilukan yang disaksikan oleh miliaran pasang mata manusia melalui televisi Perancis. Seorang anak yang bernama  Muhammad Addurrah syahid dan ayahnya terluka ketika ia berupaya melindungi putranya dari serangan penembak jitu Yahudi. Padahal baik anak dan bapaknya sedikitpun tidak melakukan aksi yang membahayakn Israel. Mereka hanya dua orang yang melewati jalan yang menjadi lokasi bentrokan terjadi. Kejadian ini direkam dengan baik oleh juru kamera TV Perancis sehingga disaksikan oleh banyak orang. Foto-foto mereka juga bertebaran sebagai bukti kekejaman Zionis terhadap bangsa Palestina. Dampaknya bukan saja bagi bangsa Palestina yang kian menggelorakan Intifadah, tapi juga umat Islam di berbagai negara yang melakukan aksi turun ke jalan. Tak sedikit kantor kedutaaan Israel yang menjadi sasaran amukan massa di negara-negara yang mereka diami.

  1. Dampak dari Meletusnya Intifadah II

Beberapa poin terkait dengan dampak Intifadah.

1. Ketakutan merejalalela di Israel, baik di pasar pasar, rumah makan, pasar dan tempat perkumpulan  lainnya.

2. Mengembalikan identitas dan perseteruan peradaban antara Muslim dan Yahudi.

3. Mengungkapkan tidak efektifnya proses perundingan perdamaian.

4. Terusirnya 40% warga Palestina dari tempat tinggal mereka.

5. Berkurangnya para turis yang datang ke Israel dalam jumlah besar dan tidak beroperasinya toko-toko dan rumah makan serta hotel sebanyak 30%.

6. Dalam sehari sebanyak 16 juta dolar kerugian dialami oleh Israel. Total kerugian ekonomi sebanyak empat miliar dolar.

7. Terjadi eksodus besar-besar dari pemukim Yahudi ke luar negeri karena khawatir akan meningkatnya serangan dari gerakan Intifadah ini.

8. Kembali menggelegarnya semangat jihad sehingga memberikan harapan baru bagi bangsa Palestina.

9. Intifadah bukan merupakan perang kebebasan, melainkan perang terhadap Zionis.

10. Menghilangkan rasa percaya diri dari Israel dalam melanjutkan penjajahan militer dan kezaliman serta penganiayaan terhadap bangsa Palestina. Akibatnya Zionis berupaya untuk mencarikan solusi terhadap permasalahan Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

11. Aksi Intifadah ini mampu menarik perhatian dunia internasional terhadap permasalahan Palestina, dan memaksa mereka untuk mencari tahu permasalahan politik yang terjadi serta mencarikan solusi untuk menyelesaikan permasalahnya.

12. Aksi ini juga mengungkapkan demokrasi palsu yang dikampanyekan oleh Israel karena negara Ibrani ini pada hakekatnya didirikan atas dasar rasisme, permusuhan, pendudukan, sebagaimana diungkapkan dengan jelas apa yang dilakukan oleh tentara Israel yang begitu kasar terhadap bangsa Palestina.

13. Intifadah akan menjadi kristalisasi dari identitas nasional bangsa Palestina dan loyalitas mereka.

14. Gerakan ini telah memperlemah hubungan ekonomi Palestina dengan lembaga-lembaga Zionis sehingga bangsa Palestina berusaha mencari alternatif bantuan ekonomi secara nasional dengan menggalakkan kembali berbagai sektor, seperti pertanian, industri dan produksi, dalam negeri. Oleh karena itu, dapatmenguatkan sebagian gambaran dari otoritas bangsa Palestina, dan meningkatnya kerugian ekonomi bagi Zionis Israel.

15. Memperkuat posisi PLO dalam skala internasional, dan dengan Intifadah ini permasalahan Palestina menjadi permasalahan prioritas setelah hampir dilupakan oleh masyarakat dunia.

16. Aksi ini menampakkan karakter dari masing-masing faksi politik dan militer yang ada di Palestina. Memberikan cerminan apa yang ada di bangsa Palestina. Tampak dua faksi Palestina yang memimpin jalannya Intifadah seperti Hamas dan Jihad Islami.

17. Gerakan ini memberikan pukulan telak kepada eksistensi Zionis penjajah dan juga lembaga-lembaga mereka. Khususnya kepada mata-mata dan pembantu dari para intelijen. Akibatnya, menimbulkan rasa frustrasi pada jiwa-jiwa musuh, banyak dari para petugas keamanan dan kepolisian yang kemudian mengundurkan diri.

18. Aksi ini telah berhasil mencetak generasi baru Palestina yang memiliki keberanian dan kepercayaan diri. Sebagaimana yang dikatakan oleh komentator militer,  Zayef Sayef di koran berbahasa Ibrani, Haaretz, “Syekh Ahmad Yasin telah melahirkan pemuda Palestina yang tidak bisa dicetak oleh organisasi-organisasi lainnya, menyelamatkan jiwa para pemuda Palestina, tidak saja sekadar menyelamatkan tanah air, telah tampak keikutsertaan dalam aksi serta aktivitas perjuangan Intifadah ini dari gerakan  al-Ikhwan al-Muslimun dan al-Jihad al-Islami dalam struktur dalam organisasi yang digandrungi oleh para pemuda. Gerakan ini telah mencetak semangat pengorbanan di antara mereka dan menumbuhkan kebanggaan hidup dengan penuh ketaatan kepada para pemimpin spritual mereka, dan mereka secara mutlak menolak upaya yang mengarahkan kepada dialog dengan Israel.

19. Bertambahnya dukungan bangsa terhadap permasalahan Palestina dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak memberikan hartanya ke Otoritas Palestina namun diberikan kepada bangsa Palestina dan kelompok perlawanan.

20. Munculnya pilihan jihad dan perlawanan Islami setelah banyak bangsa Palestina yang kecewa terhadap upaya yang dilakukan oleh Otoritas Palestina dengan solusi damainya, dan bergabungnya faksi Fatah dalam menempuh jalur perlawanan secara militer.

21. Semakin bertambahnya kebencian bangsa Palestina dan dunia Arab dan Islam terhadap Yahudi, serta meletupkan kemarahan terhadap Yahudi seperti yang terjadi di banyak negara.

22. Bangkitnya media Arab hingga ke level internasional baik melalui TV maupun internet sehingga hal ini mengantarkan para insan pers Arab berada di posisi terdepan, sekaligus menempatkan media Arab sebagai sokongan terhadap permasalahan Palestina.

23. Untuk pertama kalinya terjadi pemboikotan dalam bidang perdagangan dan ekonomi terhadap Amerika selaku negara yang mendukung Israel. Seperti penjualan ayam  Kentucky Fried Chicken yang mengalami penurunan di Arab Saudi yang mencapai 80%, serta penjualan  Pepsi Cola yang turun hingga 46% di Mesir. Bahkan perusahaan mereka, seperti  Mc Donald’s, terpaksa harus mematuhi peraturan yang berlaku dengan mengalokasikan satu real Saudi dari setiap makanan untuk mengobati para korban Intifadah.

24. Seluruh kelompok yang ada di Palestina ikut serta dalam aksi Intifadah.

25. Semakin suramnya kondisi bangsa Israel terkhusus pascaoperasi bom syahid.

26. Bentrokan militer secara langsung antara otoritas Palestina dan Israel.

27. Keikutsertaan anak-anak bangsa Palestina di Arab 48 dalam Intifadah serta operasi bom syahid.

28. Intifadah berkembang menjadi sikap perlawanan militer dalam menghadapi tentara Zionis secara langsung. Jumlah korban selama meletusnya Intifadah II sejak tanggal 29 September 2000 hingga 31 Oktober 2004 adalah sebagai berikut.

1. Jumlah korban meninggal: 3.800 orang

2. Dari kalangan anak-anak berusia kurang dari 18 tahun: 699 korban meninggal

3. Akibat agresi militer Israel: 732 korban meninggal

4. Dari kalangan wanita: 249 korban meninggal

5. Dari pihak keamanan nasional Palestina: 344 korban meninggal

6. Korban dari awak medis dan pertahanan sipil: 36 korban meninggal

7. Korban dari media dan wartawan: 9 korban meninggal

8. Jumlah korban luka-luka: 43.569 orang

Gerakan intifadah Palestina ini telah memberikan perubahan penting dan mendasar terhadap bangsa Palestina dan permasalahan Palestina yang telah menjadi aksi simbol perlawanan hingga di kawasan Timur Tengah. Perubahan ini telah memberikan dampak positif pada sebagian besar masyarakat Palestina baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza, karena telah mengubah karakter bangsa Palestina menjadi bangsa perlawanan, masyarakat yang siap berperang melawan penjajahan, terbukti dari dukungan logistik yang besar dari rakyat Palestina sendiri selama Intifadah berlangsung. Perlawanan Intifadah ini telah merakyat di kampung-kampung, kota, dan kamp-kamp pengungsian.

 

 

Disarikan dari buku Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha, ASPAC For Palestine.

*(terjadi kekeliruan dalam penomeran 10 dan 11 antara akhir tulisan sebelumnya dengan di awal penulisan ini)

(Visited 22 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *