LATAR SEJARAH PERSETERUAN DI AL-QUDS

Di era modern ini, tidak ditemukan karya tulis dan penelitian berupa buku,jurnal dan sejenisnya yang mengangkat tentang sejarah satu kota melebihi jumlah karya tulis yang mengangakat tema Al-Quds.  Sebelum memasuki abad 21 Hingga tahun 1988, data jumlah karya ilmiah tentang Al-Quds melebihi 6000 karya dalam bentuk buku ringan, besar maupun atlas[1]. Belakangan jumlah tersebut meningkat tajam, beriringan dengan tersosialisasikannya permasalahan Palestina dan Al-Quds secara massif di berbagai Negara, tak terkecuali Negara-negara di Benua Eropa.

Karya tulis dan penelitian tersebut, masing-masing memiliki orientasi dan motif yang berbeda-beda. Hal itu dilatarbelakangi secara historis, diantaranya karena beragam peradaban dan pengaruh yang pernah ada dan melikupi Al-Quds sepanjang sejarah, serta perseteruan yang berkecamuk di kota tersebut. Meski demikian, berdasarkan pemikiran objektif dan rujukan faktual, tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah kota Al-Quds memberikan kesaksian tentang keterikatan kuat kota suci tersebut dengan peradaban Arab dan Islam.

Terlepas dari upaya penggalian dan kegiatan arkeologis yang dilakukan Zionis Yahudi dalam rangka mengungkap peninggalan sejarah dan kuil Sulaiman atau sebagai upaya redesain sejarah Masjid Al-Aqsha versi Yahudi, namun faktanya, organisasi dan para aktivis Zionis Yahudi tidak pernah bisa membuktikan satu temuan yang menguatkan klaim mereka. Fakta keterikatan hubungan Arab-Islam dengan kota Al-Quds sudah begitu jelas di hadapan perjuangan Yahudi untuk mengklaim sejarah Al-Quds.

Apakah atas dasar semangat rasisme sejumlah Organisasi Zionis berupaya menepis fakta tersebut? Untuk mengklaim berbagai peninggalan sejarah dan selanjutnya meredesain sejarah baru, tanpa bukti riil. Mendistorsi fakta sejarah dan peradaban Arab sejak masa Kan’an pertama (3150 SM) hingga masa Islam.

Semenanjung Arab merupakan pusat tempat orang-orang Arab bertolak menuju Suriah, Palestina dan Irak sejak ribuan tahun lalu. Kan’an diantara keturunan mereka membangun kota Al-Quds pada tahun 4000 SM atau antara milenium ke 4 dan 3 SM,dilanjutkan oleh anak cucu mereka yaitu Kaum Yabusian. Kaum Yabusian ini yang dikenal sejak awal di Al-Quds, dan kota Al-Quds dahulu kala diberi nama Yabus. Selanjutnya berubah menjadi Ursyalim atau Ursalim pada masa Mulki Shadiq seorang raja Yabus.Klaim Israel bahwa penamaan awal Al-Quds (Ursyalim atau Ursalim) sebagai bahasa Ibrani adalah tidak berdasar, karena permulaan sejarah Yahudi di Palestina baru ada sekitar 3000 tahun setelah masa Yabusian yaitu sejak zaman Musadan Harun.Kendati demikian, Zionis yahudi mengatakan bahwa Jerusalem (nama sekarang) adalah bentuk dua dari nama asli (Ursyalim atau Ursalim),sebagai upaya mendasar dalam mengklaim Al-Quds, yang selanjutnya dibawa menjadi ideologi agama Yahudi, bahwa Jerusalem adalah bentuk dua yang berarti dua kesucian; kesucian langit dan bumi.

Fakta Arabisme Al-Quds bersandar kepada aspek sejarah berdasarkan penemuan arkeologis berupa data  artefak (benda alat), ekofak (benda lingkungan), sehingga dapat diketahui dan dipahami kondisi budaya, perilaku manusia dan proses perubahan budaya yang ada. Itu semua menguatkan identitas peradaban awal di Al-Quds berasal dari Kaum Arab, bahkan -penelitian tersebut- menguatkan keberadaan peradaban itu sejak kurun waktu yang sangat lama.

Lebih lanjut, dalam konteks pembahasan hubungan Al-Quds dengan peradaban Arab-Islam sebagai sebuah identitas yang mengakar kuat di sana,setidaknya berdasarkan kepada dua aspek:

  1. Agama. Islam sebagai agama awal yang hadir di Al-Quds, mendahului agama samawi lainnya.
  2. Fakta historis. Sejarah Arab dan aspek demografis (kependudukan) yang melikupi sejarah panjang Al-Quds.

Islam adalah agama para Nabi dan Rasul. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 67: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”.Dalam Al-Baqarah ayat 133 juga disebutkan: “Atau apakah telah kamu me­nyaksikan seketika telah dekat kepada Ya’qub kematian, tatkala dia berkata kepada anak-anak-nya: Apakah yang akan kamu sembah se­peninggalku ? Mereka men­jawab: Akan kami sembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim dan Ismail dan Ishaq yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepada­Nyalah kami akan menyerah diri (Muslimin).

Dalam perspektif Islam, Umat yang secara riil masih melestarikan prinsip-prinsip ajaran tauhid yang dibawa para Nabi dan Rasul, termasuk Nabi dan Rasul Kaum Yahudi adalah Umat Islam. Selain mereka, saat ini Yahudi dan Nasrani tidak menjalankan ajaran dibawa para Nabi dan Rasul mereka.Maka, dalam permasalahan mewarisi tanah Palestina, siapa yang lebih layak disebut sebagai penerus Musa dan harun? Tepatkah klaim penerus ajaran Musa dan Harun bagi Kaum yang melanggar ajaran-ajarannya meski mereka diutus kepada kaum tersebut? Bukankah inti dari pewarisan tersebut adalah pelestarian ajaran tauhid yang dibawa Musa dan Harun agar Palestina aman sentosa? Dan sudah jelas siapa Kaum yang melestarikannya.

Meneliti sejarah Al-Quds dari masa ke masa bisa menghantarkan kepada fakta historis bahwa keberadaan Arab-Islam sepanjang sejarah Al-Quds meliputi 67,8 % dalam kurun waktu 3000 SM – 1917 M. Sementara pemerintahan Yahudi pada masa Dawud dan Sulaiman berkuasa sekitar 1,5 % dalam kurun waktu tersebut. Satu rentang waktu yang pendek untuk umur sebuah peradaban yang berkuasa. Sementara generasi Arab terus ada dan berkembang meski di bawah kepemimpinan pemerintahan Yahudi. Etnis Arab di Palestina senantiasa eksis meskipun Pemerintahan berada di bawah kendali Kaum lain.

Permulaan sejarah Yahudi di Palestina bersamaan dengan pelarian mereka dari kejaran Fir’aun Mesir menuju padang Tiih sekitar 1260 SM, dan Nabi Musa dan Harun wafat di padang Tiih. Selanjutnya mereka memasuki Palestina di bawah kepemimpinan Yusha’ bin Nun. Kerajaan Yahudi berdiri di Palestina pada 1005 SM di bawah kepemimpinan Nabi Dawud dan dilanjutkan oleh Nabi Sulaiman sepanjang tujuh puluh tahun. Sepeninggalan Sulaiman, kerajaan terpecah menjadi dua kerajaan kecil yang saling berselisih.

Seluruh Nabi yang datang ke Palestina dan memiliki kekuasaan di sana, melandasi kekuasaan mereka dalam rangka beribadah kepada Allah SWT; mengindahkan ajaran agama Allah yang disampaikan dalam wahyu dan kitab suci. Nabi Ibrahim datang sebagai seorang Nabi atas perintah Allah SWT. Wafat di sana dan meninggalkan generasi yang saleh, Ishak dan keturunannya. Begitu sejarah kebaikan para Nabi dan Rasul di Palestina dan Al-Quds. Berbeda dengan sikap Yahudi sebagai Kaum Musa dan Harun. Pelanggaran dan pelecehan terhadap ajaran yang dibawa para Nabi menjadi sikap yang mendominasi kaum tersebut. Maka kehadiran Nabi Muhammad saw pada peristiwa Isra dan Mi’raj memberikan isyarat penting tentang penegasan Al-Quds untuk berada di bawah kendali ajaran kebaikan, dan Al-Quds harus dijaga dan dilestarikan oleh Umat yang setia mengemban estafeta ajaran para Nabi dan Rasul.

Al-Quds dibuka pemerintahan Islam pada masa khalifah Umar bin Khattab dengan deklarasi piagam Umar di hadapan pendeta Shafarniyus pada 15 H/ 636 M, yang berisi diantaranya syarat pelarangan Yahudi untuk tinggal di Elia (Al-Quds). Umar membuka Al-Quds tanpa pertumpahan darah, dan atas dasar sukarela Kaum Nasrani yang menyerahkan kunci Al-Quds secara simbolik oleh pendeta Shafarniyus kepada Umar bin Khattab.

Sejak awal Pemerintahan Islam, kemudian berlangsung selama limaratus tahun, Al-Quds melalui masa-masa penuh keamanan dan kejayaan.Kejayaan peradaban Palestina di masa Islam terlihat dari peninggalan infrastruktur dan situs-situs Islam yang indah, seperti renovasi Masjid Kubah Sakhrah dan Masjid Kibli yang dilakukan khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 72 H/691 M.

Salahuddin Al-Ayubi mampu merebut kembali Al-Quds, Palestina dan Bumi Syam usai perang Hittin pada akhir abad ke 12 (1187 M), setelah sempat terjajah oleh pasukan Salibis Perancis tahun 1099 M. Al-Quds sempat porak poranda pada 1265 M, pasca serangan Tatar dan Mongol yang menyebabkan konflik di Bumi Syam, tetapi kerajaan-kerajaan Islam setia menjaga dan membangun kembali Al-Quds hingga menjadi jaya.

 

Beragam infrastruktur kembali dibangun, seperti jalan, tiang, benteng, sekolah, tempat dan saluran air bersih. Infrastruktur yang lengkap tersebut mendorong Kaum Muslimin untuk berimigrasi ke Al-Quds terutama mereka yang datang dari Afrika Utara. Pembangunan Al-Quds terus bergulir, hingga kekhilafahan Utsmaniyah mampu membuat batasan wilayah dan landmark Al-Quds, seperti yang dilakukan Sultan Sulaiman Al-Qanuni pada 1522 M, dengan membangun pagar raksasa untuk menjaga dan melestarikan situs-situs peninggalan Arab dan Islam, seperti Masjid, madrasah dan infrastruktur lainnya.

 

Semua situs tersebut menjadi bukti sekaligus ikon bagi sejarah peradaban Arab dan Islam sebagai pihak paling berjasa dalam membangun Al-Quds.Situs peninggalan tersebut ibarat stempel sejarah bagi satu peradaban yang memiliki jasa paling besar dalam membangun dan menjayakan Al-Quds. Total jumlah situs peninggalan sejarah di Al-Quds lebih dari 270 situs. 10 situs milik Yahudi yang baru dibangun pada abad ke 19 dan 20. 60 situs peninggalan Nasrani. Selebihnya 200 situs peninggalan Islam, berupa masjid, sekolah, jalan, mihrab, benteng, dan lainnya. Fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi, dan itu yang melatarikerja keras dan keseriusan Zionis dalam menggencarkan berbagai manuver Yahudisasi Al-Quds.

 

Realitanya, Zionis bekerjasama dengan sejumlah Rabi untuk meredesain ajaran agama Yahudi,untuk mendukung proyek Yahudisasi. Beragam interpretasi terhadap ajaran Yahudi dan situs peninggalan sejarah mereka lakukan agar menjadi bahan doktrin untuk mengklaim hak terhadap Al-Quds. Beragam literaturyang disosialisasikan lewat berbagai media, terkait wawasan Israel dan Zionis baik yang kuno maupun modern,begitu sarat dengan prinsip perubahan dan pengembangan yang diyakini sebagai hukum kosmik, dan selanjutnya menguntungkan penjajahan Zionis. Fakta keterasingan dirubah menjadi perintah merebut Al-Quds.Proyek penjajahan dan Yahudisasi berkembang menjadi legalitas kepemilikan dan hak asli.Sejarah Yabus, Al-Quds dan Ursyalim didistorsi menjadi sejarah Yahudi dalam literatur, situs peninggalan dan penamaan. Palestina dan Bumi Kan’an menjadi Israel yang terpecah menjadi dua bagian.

 

Dalam rentang sejarah perseteruan, kota Al-Quds diliputi manuver penistaan dalam beberapa fase:

Pertama, pada tahun 614 M, saat Imperium Persia menyerang Al-Quds dan membunuh 70.000 orang Kristen Arab dengan bantuan 26.000 Yahudi. Mereka menghancurkan tempat peribadatan dan gereja-gereja Kristen, hingga direbut oleh Heraklius pada 630 M.

 

Kedua, pada tahun1106 M, saat Pasukan Salibis Perancis membantai 70.000 penduduk Muslimin Palestina.

 

Ketiga, Tragedi yang berlangsung selama 53 tahun, akibat dari konspirasi penjajah Inggris dan Zionis. Cikal-bakal tragedi yang dimulai awal abad 19, dan rencana penjajahan semakin jelas pada kongres I Zionisme yang dipimpin Theodor Herzl dan deklarasi perjanjian Balfour pada tahun 1917 tentang mandat Inggris atas Palestina.

 

Sementara Al-Quds melalui masa-masa kedamaian dan kejayaan pada fase-fase berikut:

Pertama, di bawah kekuasaan Kristiani setelah masuknya Imperium Hadrian pada tahun 135 M, yang dikenal dengan masa keselamatan di bawah gereja-gereja.

Kedua, SaatPatrik Shafarniyus menyerahkan kunci Al-Quds kepada Khalifah Umar bin Khattab dalam futuhatyang dipimpin Khalid bin Walid pada tahun 15 M/ 636 M.

Ketiga, Pasca pengusiran Salahuddin Al-Ayubi terhadap pasukan Salibis Perancis pada tahun 583 H/ 1187 M yang menjajah Al-Quds selama dua abad.

 

 

Ahmad Yani



[1] Jerusalem the holy city, a biblioghraphy by: James d. Puris. The American Theological Library, 1989, Metuchen.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *