Siapa Pertama Kali Membangun Masjid Al-Aqsha?

Masjid al-Aqsha adalah masjid kedua di dunia yang berdiri setelah masjid al-Haram, dengan selisih pembangunan hanya 40 tahun. Maka sejarah pembangunannya pun tidak terlepas dari sejarah pembangunan masjid al-Haram (Ka’bah).

Bangunan yang pertama kali berdiri di atas muka bumi ini adalah baitullah (ka’bah) di Makkah. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 96:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِيْنَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah baitullah yang berada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Dan bangunan kedua yang berdiri di atas muka bumi adalah masjid al-Aqsha. Dalam hadits disebutkan bahwa Sahabat Abu Dzar al-Ghifari bertanya kepada Rasulullah tentang Masjid yang pertama kali didirikan? Rasul menjawab: “Masjid al-Haram”, kemudian apa? “Masjid al-Aqsha”. Berapa jarak antara keduanya? “Empat puluh tahun”. (HR. Bukhari-Muslim).

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُأَنَّهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الْمَسْجِدِ وُضِعَ فِى الأَرْضِ أَوَّلًا ؟ قَالَ : الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ . قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : الْمَسْجِدُ الأَقْصَى . قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : أَرْبَعُوْنَ سَنَةً …

Waktu empat puluh tahun sebagaimana hadits di atas bukanlah merupakan waktu yang panjang. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang membangun Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha adalah orang yang sama. Inilah isyarat pertama tentang jawaban siapa yang pertama kali membangun kedua Masjid tersebut.

Perbedaan Pendapat

Sebelum kita mengetahui siapa yang membangun masjid al-Aqsha pertama kali, alangkah baiknya kita mengetahui siapa yang pertama kali membangun ka’bah. Terdapat perbedaan pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun ka’bah:

Pendapat pertama, beberapa ulama menyatakan bahwa yang membangun ka’bah adalah para Malaikat.

Pendapat kedua, ulama lain mengatakan bahwa nabi Adam ‘alaihis salam adalah orang yang pertama kali membangun ka’bah. Kedua pendapat ini dikemukakan oleh al-Azruqi dalam kitabnya Akhbar Makkah[1]

Pendapat ketiga, adalah Syits bin Adam yang membangun ka’bah. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalany, mengambil pendapatnya Wahb bin Munabbih. Pendapat ini ditolak oleh beliau sendiri karena tidak ada dalil pendukung. [2]

Pendapat keempat, nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang membangun ka’bah. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir dan sejarahnya.

Melihat berbagai pendapat di atas, pendapat kedua adalah pendapat yang dikuatkan para ulama, diantaranya Imam Ibnu Hajar al-Asqalanybahwa Nabi Adam ‘alaihis salam adalah manusia pertama yang membangun Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha. Beberapa alasan kuat terkait pendapat ini, diantaranya:

  1. Tidak adanya dalil naqli, baik ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi, yang secara jelas menyatakan siapa yang pertama kali membangun masjid al-Aqsha. Yang ada hanyalah isyarat-isyarat dari dalil tersebut dengan berbagai pemahaman dari para ulama. Oleh karenanya, perbedaan pendapat tersebut tidak dapat dihindari karena berbeda dalam memahami dalil yang ada.
  2. Isyarat dari hadits di atas bahwa yang membangun kedua Masjid ini adalah orang yang sama, karena selisih waktu pembangunannya hanya empat puluh tahun.
  3. Nabi Adam ‘alaihis salam adalah manusia pertama di muka bumi. Masjid al-Haram adalah Masjid pertama di muka bumi dan Masjid al-Aqsha adalah Masjid kedua sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.
  4. Tidak dapat diterima secara logika bahwa malaikat membangun Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha karena malaikat mempunyai kiblat tersendiri di langit yang disebut dengan Bait al-Ma’mur, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya berkaitan dengan isra’ dan mi’raj. [3] Maka secara logika, yang membangun Masjid al-Haram dan al-Aqsha di atas muka bumi ini adalah manusia bukan malaikat. Walaupun Imam al-Qurthubi menyebutkan dalam kitab tafsirnya dan menambahkan bahwa para malaikat juga turut membantu pembangunan tersebut.
  5. Dalam hadits di atas disebutkan kalimat wudhi’a (didirikan). Maksud dari kata ini adalah penyebutan nama dan penentuan batas Masjid. Maka tempat pertama yang disebut Masjid di atas muka bumi adalah Masjid al-Haram (ka’bah) dan tempat kedua adalah Masjid al-Aqsha. Makna kedua dari kata wudhi’a bisa berarti penentuan batas-batas Masjid. Maka pendirian bangunan pertama Masjid dengan telah ditentukan batas-batasnya adalah Masjid al-Haram dan setelah empat puluh tahun didirikan Masjid al-Aqsha dengan penentuan batas-batasnya.
  6. Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang membangun Masjid al-Haram berdasarkan pada ayat al-Qur’an surat al-Baqarah: 127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيْمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيْلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ada beberapa jawaban untuk pendapat tersebut diantaranya: Pertama, ayat yang disebutkan di atas menggunakan kata yarfa’u (meninggikan). Maknanya adalah Nabi Ibrahim membangun ka’bah setelah ada pondasi sebelumnya. Beliau hanya meninggikan pondasi yang sudah ada. Hal ini dibuktikan pada surat Ibrahim: 37

رَبَّنَا إِنِّى أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرَ ذِى زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ…

“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,…

Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya (Hajar dan Ismail) di suatu lembah dekat dengan Baitu al-Muharram. Artinya, bangunan ini (ka’bah/baitu al-muharram) sudah ada sebelum Nabi Ibrahim menginggalkan Makkah.

Kedua, Nabi Ibrahim membangun ka’bah dibantu oleh Nabi Ismail sebagaimana dalam surat al-Baqarah diatas. Pembangunan ini terjadi ketika Nabi Ismail sudah dewasa, bukan ketika masih kecil atau sebelum Nabi Ibrahim meninggalkan sebagian keluarganya di Makkah. Sedangkan peristiwa ditinggalkannya keluarga Nabi Ibrahim di Makkah terjadi ketika Ismail masih kecil.

  1. Ibnu Hisyam dalam kitab at-Tijan menyebutkan bahwa setelah Nabi Adam membangun ka’bah, Allah memerintahkannya untuk berangkat ke Baitu al-Maqdis untuk mendirikan (Masjid). Maka beliau mendirikannya dan beribadah di dalamnya. [4]
  2. Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihimas salam yang membangun baitu al-Maqdis. Hadits tersebut berbunyi: “Ketika Sulaiman bin Daud membangun Baitu al-Maqdis, beliau meminta kepada Allah akan tiga hal: hukum yang sesuai dengan keputusannya, kerajaan yang tidak ada tandingan setelahnya, dan orang yang mendatangi Masjid ini untuk shalat di dalamnya, akan dihapuskan dosa seperti baru dilahirkan kembali oleh ibunya… (HR. Ibnu Majah).

Pendapat tersebut dijawab oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathu al-Bari  dengan mengambil pendapat dari Imam al-Qurthubi, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Sulaiman alaihimas salam mereka membangun kembali bangunan masjid. Bukan membangun dari awal. Karena pondasi dan batasan-batasannya sudah ada. [5]

Pendapat bahwa Nabi Daud dan Sulaiman ‘alahis salam yang membangun baitu al-Maqdis juga tidak dapat diterima secara logika sejarah. Perbedaan waktu antara pembangunan ka’bah dan masjid al-Aqsha hanya beda empat puluh tahun, dan ka’bah dibangun pada masa Nabi Adam ‘alaihis salam, padahal jarak antara nabi Adam dan Nabi Daud serta Nabi Sulaiman lebih dari seribu tahun.

Berbagai keterangan diatas menguatkan bahwa Nabi Adam adalah orang yang pertama kali membangun Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha, dan selisih waktu pembangunannya selama empat puluh tahun.

Sejarah Pembangunan Ka’bah

Setelah Nabi Adam ‘alaihis salam diturunkan Allah ke atas muka bumi, Allah memerintahkan Adam untuk berjalan menuju tempat yang akan dijadikan baitullah. Tempat dimana keturunannya nanti akan beribadah di sana. Karena Adam diturunkan di India, maka ia berjalan menuju Makkah. Setelah Nabi Adam membangun ka’bah, Allah memerintahkannya untuk berangkat ke Baitu al-Maqdis untuk mendirikan (Masjid). Maka beliau mendirikannya dan beribadah di dalamnya. [6]

Dahulu ketika ditinggikan pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, ka’bah tidak berbentuk seperti sekarang yang menyerupai kubus. Tapi bentuknya menyerupai persegi panjang dan tidak beratap. Dindingnya pun lebih pendek. Bentuk ini menyerupai kawasan persegi panjang berpagar.

Bangunannya terbuat dari batu, dengan ketinggian 9 hasta (4,5 m). Panjang dindingnya dari sisi timur 32 hasta (16 m), dari sisi barat 31 hasta (15,5 m), dari sisi selatan 20 hasta (10 m) dan dari sisi utara 22 hasta (11 m). Mempunyai dua pintu yang terbuka dengan posisi sejajar dengan tanah tanpa undak-undak. Kemudian Jibril turun dengan membawa hajar aswad dan nabi Ibrahim meletakkan hajar aswad tersebut di tempatnya. [7]

Ka’bah berubah bentuk bangunan dari aslinya sejak lima tahun sebelum nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Ketika itu ka’bah rusak dan orang-orang quraisy bahu membahu membangun kembali. Mereka mengurangi panjang ka’bah dari sisi timur sebanyak 6 hasta (3 m) sehingga panjangnya hanya 13 m. Mereka menggantinya dengan dinding pendek setengah lingkaran (Hijir sekarang) agar orang-orang tawaf di belakangnya, karena hijir masih bagian dari ka’bah. Tinggi ka’bah ditambah menjadi 18 hasta (9 m) dan mereka membuatkan atap diatasnya dengan ditambah talang dari kayu. Mereka menutup pintu ka’bah sebelah barat dan meninggikan pintu timur dari atas tanah. Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ikut serta dalam pembangunan ini bersama para pemuka quraisy, sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Khulafa’ ar-rasyidin wafat, kota Makkah dipimpin oleh sahabat Abdullah bin Zubair. Pada tahun 64 H./683 M.  Yazid bin Mu’awiyah mengirim tentara dari Syam untuk mengepung Makkah. Mereka menyerang kota Makkah dengan menggunakan manjaniq (pelontar batu) sehingga menyebabkan ka’bah rusak kembali dan terbakar.  Setelah 27 hari pengepungan, Yazid wafat dan tentaranya yang dikirim dipulangkan ke Syam. Kemudian Ibnu Zubair merencanakan pembangunan kembali ka’bah yang telah rusak dan terbakar.

Diantara peninggalan Ibnu Zubair yang tercatat dalam sejarah adalah beliau menjalankan pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana hadits Aisyah. Beliau menghancurkan ka’bah dan membangunnya kembali sesuai dengan pondasi yang pernah didirikan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Lalu dibuat dua pintu, di sebelah timur dan barat. Satu pintu untuk masuk dan pintu lainnya untuk keluar.

Dalam kitab Shahih Bukhari diriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ruman, dari Urwah, dari Aisyah r.a. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Seandainya bukan karena keberadaan kaummu yang masih lekat dengan kejahiliahan, tentu aku sudah perintahkan agar ka’bah baitullah dirubuhkan, lalu aku masukkan ke dalamnya apa yang sudah dikeluarkan darinya, dan aku akan jadikan (pintunya yang ada sekarang) rata dengan permukaan tanah, lalu aku buat pintu timur dan pintu barat, dengan begitu aku membangunnya di atas pondasi yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam”. Sabda nabi inilah yang kemudian dijadikan alasan oleh Abdullah bin Zubair ketika merobohkannya. Yazid (perawi hadits) berkata: Aku melihat Ibnu Zubair ketika merobohkannya lalu membangunnya kembali, dia memasukkan sebagian hijir dan aku melihat pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berupa bebatuan menyerupai punuk-punuh unta. Jarir berkata: Aku bertanya kepadanya: Dimana posisinya? Yazid menjawab: Akan aku tunjukkan kepadammu sekarang. Maka aku bersamanya masuk ke dalam hijir lalu dia menunjuk pada suatu tempat seraya berkata: Inilah posisinya. Jarir berkata: Kemudian mengukur jaraknya dari hijir, ternyata kira-kira kurang lebih enam hasta.” [8]

Ka’bah yang telah dibangun kembali oleh Abdullah bin Zubair sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam rupanya tidak berlangsung lama. Karena khalifah Abdul Malik bin Marwan mengirim tentaranya dengan pimpinan al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi untuk menguasai Makkah dan membunuh Ibnu Zubair. Kemudian al-Hajjaj menulis surat kepada khalifah bahwa Ibnu Zubair telah menambah-nambah bangunan ka’bah dari aslinya pada zaman quraisy. Khalifah Abdul Malik mengizinkan kepada al-Hajjaj untuk membongkar bangunan tambahan tersebut dan dikembalikan ke bentuk semula seperti pada masa quraisy.

Dengan izin ini, al-Hajjaj membangun kembali ka’bah sesuai pondasi pada masa quraisy pada tahun 74 H/ 693 M. Beliau juga menutup pintu ka’bah sisi barat dan meninggikan pintu timur. Beliau menghancurkan sisi dinding sebelah utara dan menguranginya sebanyak 6 hasta (3 m) dari hijir. Al-Hajjaj tidak merubah tinggi ka’bah.

Dalam beberapa riwayat sejarah, ketika khalifah Abdul Malik bin Marwan mengetahui bahwa Abdullah bin Zubair membangun ka’bah berlandaskan pada hadits Aisyah r.a. (sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim), beliau menyesal dengan telah memberikan izin kepada al-Hajjaj untuk merubah pondasi ka’bah. [9]

Pada masa Sultan Murad Khan dari Daulah Utsmaniyah, ka’bah roboh karena imbas dari hujan deras dan banjir di sekitar kota Makkah. Air masuk ke dalam ka’bah dan membanjiri hingga batas setengah dari dinding ka’bah (6 meter). Kemudian Sultan memerintahkan kembali pembangunanka’bah pada tahun 1040 H/ 1630 M seperti sedia kala. Bangunan inilah yang sampai saat ini masih ada, tentunya dengan berbagai perbaikan disana-sini.

Saat ini, ukuran Ka’bah sebagai berikut:

Dinding Utara : 9,90 meter

Dinding Timur : 11,68 meter

Dinding Selatan: 10,18 meter


Dinding Barat  : 12,04 meter

Tabel Sejarah Perkembangan Pembangunan Ka’bah

Masa

Dinding Utara

Dinding Timur

Dinding Selatan

Dinding Barat

Tinggi Dinding

Keterangan

Adam Pondasi Pondasi Pondasi Pondasi Pondasi Menentukan batas masjid
Ibrahim 11 meter 16 meter 10 meter 15,5 meter 4,5 meter Tanpa atap, ada 2 pintu (timur dan barat),
Quraisy

(th. ke-5 sebelum kenabian)

11 meter 13 meter 10 meter   9 meter Beratap dan ada talang dari kayu, hanya satu pintu (timur) dan ditinggikan, pintu barat ditutup, ditambahkan hijir setengah lingkaran
Abdullah bin Zubair

(th. 64 H./ 683 M.)

11 meter 16 meter 10 meter 15,5 meter 13 meter Beratap dan ada talang dari kayu, dibuat 2 pintu (timur dan barat), hijir dihilangkan
Al-Hajjaj bin Yusuf

(th. 74 H./693 M.)

11 meter 13 meter 10 meter   13 meter Dikembalikan ukurannya seperti masa quraisy kecuali ukuran tinggi ka’bah.
Sultan Murad Khan al-Utsmani (th. 1040 H./ 1630 M.) 11 meter 13 meter 10 meter   13 meter Dibangun kembali sebagaimana sebelumnya.
Ukuran Ka’bah Saat ini 9,90 meter 11,68 meter 10,18 meter 12,04 meter 14 meter  

 

Salman Alfarisy, Lc


[1] Vol. 1 hal. 11-14.

[2]Fathu al-Bari: Vol. 6 hal. 487

[3]  Lihat kitab Shahih Bukhari, Vol. 2 hal. 628-629

[4]Fathu al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Vol. 6 Hal. 509

[5]Fathu al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Vol. 6 Hal. 508

[6]Fathu al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Vol. 6 Hal. 509

[7] Kitab Makkah al-Mukarramah Tarikh wa Ma’alim oleh Mahmud Muhammad Hamu, hal. 43

[8] Shahih Bukhari dengan syarh haditsnya Fathul Bari, Vol. 6 Hal. 539 hadits no. 1586.

[9]Kitab Makkah al-Mukarramah Tarikh wa Ma’alim oleh Mahmud Muhammad Hamu, hal. 46

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *