Apakah Yahudi Berhak Atas Palestina Berdasarkan Perspektif Agama dan Sejarah??

Apakah Yahudi Berhak Atas Palestina Berdasarkan Perspektif Agama dan Sejarah??

Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka memiliki hak atas tanah Palestina. Klaim tersebut tidak berdasar bila dilihat dari perspektif sejarah dan prespektif agama.

Pertanyaan berikut bisa dimunculkan di awal sebelum jauh membahas tema di atas: Mengapa klaim hak Yahudi atas Palestina tidak muncul pada abad lalu? Bahkan mengapa tidak muncul ketika awal dibentuknya politik Organisasi Zionis di bawah pimpinan “Hertzel”? Faktanya, Palestina bukan sebagai negara yang direncanakan sejak awal menjadi Negara kaum Yahudi. Sejumlah negara diAfrika dan Amerika Selatan telah diproyeksikan menjadi Negara bagi kaum Yahudi sebelum kemudian beberapa dekade selanjutnya, muncul ide Palestina sebagai tanah yang dijanjikan.

Hertzel dan rekan-rekannya telah mencoba untuk mendapatkan tempat di Mozambik dan kemudian di (Kongo) Belgia, begitu juga “Max Nordo” atau biasa disebut Afrika, dan “Chaim Aziman” di Uganda, dan diusulkan pula (Argentina) pada tahun 1897 dan (Siprus) pada tahun 1901, dan (Sinai) pada tahun 1902 dan kemudian (Uganda)lagi pada tahun 1903 atas saran dari pemerintah Inggris.

Hertzel dilanda kekecewaan karena Yahudi belum juga menetapkan keputusan untuk  memiliki Negara Yahudi, baik karena alasan ideologis atau karena minimnya kemauan mereka untuk meninggalkan Negara tempat mereka tinggal. Bahkan pada konferensi yang diadakan di kota Piladelphia pada akhir abad ke sembilan belas para Rabi Yahudi mengeluarkan pernyataan: “sesungguhnya ajaran yang diusung oleh Yahudi tidak sesuai dengan pembentukan unit politik”.

Hertzel memikirkan bagaimana cara menghadapi situasi ini, dan akhirnya pikirannya menuntun untuk merubah topik ini ke ranah ideologi Yahudi dan menjadikannya sebagai isu agama untuk mengobarkan emosi warga yahudi . Dia percaya bahwa Palestina adalah satu-satunya tempat yang cocok untuk ide dan seruannya. Karena bagi orang-orang Yahudi, Palestina memiliki hubungan sejarah dengan mereka oleh sebab mereka memiliki tempat-tempat suci agama yang ada di Palestina.

Zionisme menghubungkan ide perebutan tanah Palestina dengan ajaran agama Yahudi dengan alasan mengobarkan emosi dan menarik orang-orang Yahudi.

Ide Hertzel akhirnyamendapat penerimaan luas di kalangan Yahudi, meskipun kondisi itu terjadi setelah kematiannya. Maka pada konferensi Yahudi seDunia pada tahun 1906, setahun setelah kematianHertzel, diangkat tema ‘Tanah Air Yahudi adalah Palestina’.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *