Bentang Alam Palestina

Palestina adalah suatu wilayah yang terletak di antara tepi sungai Yordan. Wilayahnya memanjang dari sebelah Selatan Laut Mati hingga Teluk Aqabah. Kawasan Palestina berbentuk segitiga. Bagian kepala menuju ke selatan dan ekornya ke utara. Bagian selatan Palestina bertemu dengan ujung teluk Aqabah sedangkan bagian utaranya memanjang dari Laut Mati hingga Laut Tengah. Wilayah Palestina berada di ujung sebelah barat dari benua Asia. Secara astronomis, membentang pada garis 15°–34° dan 40°–35° lintang timur, serta memanjang 30°–29° dan 15°–33° lintang utara.

Palestina berbatasan dengan Lebanon di wilayah laut tengah (laut mediterania). Tepatnya di di dekat kota kecil di Lebanon, yaitu kota Berit Jubael. Garis pemisah antara Palestina dan Lebanon berbelok ke utara dengan sudut yang nyaris lurus. Perbatasannya berada di bibir mata air sungai Yordania yang menjadi bagian dari Palestina. Di bagian timurnya, Palestina berbatasan dengan Suriah dan Danau Al-Hola, Lout dan Tabariyya. Dari sungai Yordan, wilayah selatan Palestina membelah pertengahan laut mati secara geometris dan lembah araba, hingga sampai ke teluk aqaba. Perbatasan tersebut dimulai dari Rafah, laut tengah, hingga ke daerah Taba di teluk Aqaba.Di bagian barat, Palestina berbatasan dengan perairan lepas Internasional dari laut tengah dengan jarak kurang lebih 250 KM2 hingga Rafah di bagian selatan.

Lokasi Palestina yang terletak di tengah Negara-negara arab menjadikan Palestina memiliki kombinasi geografis natural dan humanistic. Tanah Palestina menjadi istimewa dibandingkan dengan daerah lain karena menjadi jembatan aktivitas komersial dan tempat penyusupan ekspedisi militer di sepanjang sejarah. Lokasi strategis Palestina juga menjadi faktor penghubung berbagai benua, yaitu : Asia, Afrika, dan Eropa (Hermawati: 38).

Daerah-daerah di Palestina

1.      Daerah Pesisir

Daerah Pesisir Palestina memanjang dari Ra’s An-NAqurah hingga Rafah. Pesisir Palestina hampir datar, tidak terdapat pelabuhan-pelabuhan yang dapat dilabuhi kapal. Kota-kota penting dan pelabuhan yang terdapat di pesisir Palestina antara lain: Gaza, Yafa, dan Aka. Pesisir Palestina merupakan jembatan yang menghubungkan benua Asia dengan benua Afrika dan jalur tempur terpopuler dalam sejarah.

 

2.      Daerah Pegunungan

Daerah ini terdiri dari bukit-bukit dan barisan gunung-gunung kecil dengan beberapa daerah internal yang datar. Daerah ini terkadang dipandang sebagai tulang belakang tanah Palestina, dan membentang dari selatan ke titik yang paling jauh di selatan gurun Naqab.

Secara umum ketinggian wilayah ini tidak lebih dari 1,000 meter. Tanahnya secara bertahap turun menuju kawasan yang datar di Barat dan terus ke arah Timur, hingga sampai pada Lembah Jordan dengan lidah-lidah gunung dan batu cadasnya yang tinggi. Lembah-lembah telah menggali dalam ke arah bukit-bukit calcite dari Laut Tengah di Barat ke Sungai Jordan di Timur. Sebagian besar lembah-lembah ini kering atau musiman dan langsung banjir setelah turun hujan.

Daerah pegunungan ini dapat dibagi dalam dua bagian : Al Jaleel dan barisan gunung tengah.

(a) Al-Jaleel. Ekspansi wilayah Palestina di Al Jaleel terkadang dianggap sebagai perpanjangan dari wilayah Al Jaleel yang di Libanon yang juga dikenal dengan sebut dengan gugusan gunung Amel. Ketinggian tanah di Al Jaleel meningkat secara bertahap dan mencapai titik ketinggiannya di wilayah Utara di Al-Jaleel Al-A’ala. Dan titik yang paling rendah ada di wilayah Selatan pada dataran Marj Ibn Amer. Blok Al-Jaleel ini turun secara tajam ke Lembah Jordan pada titik yang paling tinggi dan titik pertengahan turun ke arah Timur. Kendati demikian, itu turun secara bertahap ke arah dataran Akka di wilayah Barat. Areal Al Jaleel ditaksir sekitar 2,083 km2. Dan Al Jaleel dapat dibagi menjadi sub-divisi berikut ini :

(i)      Al-Jaleel Al-A’ala (yang tertinggi) terdiri dari gunung yang tinggi dengan kepanjangan 40 km dari arah Timur ke Barat. Lebarnya adalah 25 km dari Utara ke Selatan. Gunung Jarmaq dianggap sebagai yang tertinggi dari gugusan yang ada dengan ketinggian 1,208 meter ke arah Barat Laut Safad yang merupakan puncak tertinggi di Palestina. Banyak lembah yang membentang dari Jarmaq menuju Barat Laut, Timur Laut dan Timur. Masih ada lagi gunung-gunung yang tinggi di Al Jaleel seperti gunung As’an dengan ketinggian 936 m (di sana kota Safat dibangun), gunung Haydar dengan ketinggian 1,047 m [ke wilayah Utara desa Al Ramah] dan gunung Adathir dengan ketinggian 1,006 m [ dekat desa Sa’sa’a]. Pada zaman geologikal bahela Gunung Al-Jaleel Al-A’ala sangat rentan dengan tekanan yang besar dan letusan volkanik. Aktifitas-aktifitas ini meninggalkan titik-titik basaltic (batu hitam keras dari letusan gunung) hitam pada permukaan gunung dan beberapa keretakan pada lembah ke arah Lembah Jordan. Demikianlah tanah tersebut menjadi tandus dan cadas.

(ii)    Al-Jaleel Al-Adna (yang paling rendah) bermula ke Selatan dari al Jaleel Al-A’ala. Lembah Shagour memisahkan mereka satu sama lain. Ini lebih rendah, dengan ketinggian yang tidak lebih dari 200 m di atas permukaan laut. Ini juga lebih subur dari bagian sebelah Utara. Panjangnya kira-kira 50 dari Timur ke Barat dan lebarnya lebih daari 15 km dari Utara ke Selatan. Wilayah ini terdiri dari gugusan gunung yang paralel yang membentang dari Timur ke Barat, antara lembah-lembah yang luas dan dataran terbuka. Di antara gunung-gunung yang paling pentingnya adalah Tabour atau Tour (562 m) ke sebelah Timur dari Nassira; Al Dahhi atau Harmoun el Sageer (550 m) ke Selatan Nassira; dan gunung Al Nabi Sa’een  (500 m) yang merupakan salah satu puncak yang mengelilingi Al Nassira. Lembah-lembah yang paling penting adalah Al Fajjas dan Al Beera; masing-masing berakhir di Sungai Jordan. Salah satu datarannya yang paling terkenal adalah Hitteen tempat terjadinya peperangan yang disebut Perang Hitteen terjadi dan Salah El Deen dapat mengalahkan pasukan Salibis. Ada juga dataran Battouf daerah di mana  negara Zionis membangun dam untuk menampung air dari Sungai Jordan dan disalurkan melalui terusan. Tanah wilayah ini juga mengalami depresi proses alam pada zaman geologis silam yang akhirnya membentuk dataran yang rendah dengan bintik-binting basaltik berwarna hitam. Mata air mineral yang hangat keluar di daerah Himma dekat dengan Tabariya.

(iii)   Dataran Marj bin Amer adalah nama yang diambil dari keturunan Bani Amer dari Bani Kalb yang mendiami daerah pada saat permulaan masuknya Islam ke kota tersebut. Itu disebut dengan “Marj” yang berarti padang rumput karena di sini adalah tempat tembuka yang mudah ditumbuhi tanaman liar di mana binatang gembala bebas makan. Dataran ini terbentuk sebagai hasil dari proses depresi yang terjadi pada waktu yang silam dan membentuk dataran yang membentang seluas jarak pecah batu-batu karena gempa. Dan karakteristiknya punya tingkat kedataran tanah dan agak bergelombang sedikit serta ada sisi-sisinya dengan ujung-ujungnya yang cadas dan terjal yang terpotong dengan lorong-lorong natural ibarat jalanan yang mengikat dataran dengan wilayah sekitarnya. Dan jalanan yang paling terkenal adalah jalan Majdou dan lembah Sungai Mukatta’ yang menghubungkan dengan dataran pantai Palestina dan lembah Zar’een yang menghubungkannya dengan Balghur di Bysan. Dan dari sana menuju Irbit di Timur dan Damaskus di Utara, sebagaimana dataran ini juga menghubungkannya  dengan wilayah Tengah dan Selatan Palestina. Dataran ini memisahkan Al Jaleel dari pegunungan Nablus dan Al Karmel. Ketinggiannya kira-kira 60-75 meter di atas permukaan laut.  Panjangnya kira-kira 40 km dari Barat ke Timur, dan luasnya kira-kira 19 km dari Utara ke Selatan. Arealnya diperkirakan sekitar 351 km2. Pada bagian tengahnya, di Al Afouleh, tanahnya mulai agak menurun ke arah Timur ke Lembah Jordan, tempat di mana Lembah Jalout berada dan airnya mengalir masuk ke Sungai Jordan. Tanahnya juga menurun ke arah Barat ke dataran Akka, tempat di mana sungai Mukatta’ mengalir hingga sampai Teluk Akka. Tanahnya sebagian besarnya adalah lumpur yang sangat cocok untuk bercocok tanam biji-bijian, dan tempat ini adalah salah satu tanah yang paling subur di Palestina. Maka dari itu, maka Zionis menduduki tempat ini terlebih dahulu setelah pemerintahan boneka Inggris.

(iv)  Gugusan Pegunungan Tengah : Gugusan datarang tinggi ini membentang antara Marj bin Amer di Utara dan daerah Beer El Sabe di Selatan. Wilayahnya ditaksir, termasuk gunung Karmel, sekitar 529 km2 yang terdiri dari bebukitan yang tinggi di mana terdapat beberapa tanah datar yang tertutup dan dikelilingi oleh gunung-gunung. Permukaannya pun tidak beraturan dan berbeda antara wilayah datar dengan gunung berbatuan yang cadas. Lembah-lembah kering yang menurun ke arah Laut Tengah ke wilayah Barat dan Lembah Jordan ke Timur dengan memotong dataran tinggi dan dalam membentuk formasi kalsait. Dan dataran tinggi ini mencuat dengan tempat bekas aliran air (cliff) yang cadas dan ujung-ujungnya yang terjal di Lembah Rendah Jordan yang di antaranya adalah gunung Al Kabeer, Ras Um El Kharouba, Um Halal, Qrn Sartaba, Al Qrantal, Rasl El Fashkha, Ras Turba, Ras El Marsad, Khashem Asdoun dan banyak lagi yang lainnya yang berbatasan dengan Laut Mati. Dataran tinggi atau bukit ini menurun secara bertahap ke arah Barat di mana akan bertemu dengan bukit-bukit di wilayah Timur di dataran Pantai. Kita dapat bagi dataran sedang ini dalam dua kelompok : Gunung Nablus di Utara dan Gunung Al Quds serta Hebron di Selatan.

Pegunungan Nablus membentang ke arah Tenggara hingga sampai di gunung Karmel, yang berujung di Laut Tengah. Itu membentang ke arah Selatan ke Lembah Dayer Bailout, yang merupakan aliran tertinggi untuk sungai Aooja yang mengalir ke arah Utara Jaffa.

Perlu dicatat bahwa pegunungan Nablus tidak terpisahkan dari pegunungan Al Quds, masing-masing merunduk dan membentuk sebuah kesatuan rantai. Panjangnya pegunungan Nablus ini diperkirakan sekitar 65 km dari Utara ke Selatan dengan lebarnya sekitar 55 km dari Barat ke Timur.

Pegunungan Ebal (940 m) merupakan puncak yang tertinggi dalam barisan rantai ini dan sebanding dengan pegunungan Jarzeem (881 m). Kota Nablus dibangun di atas dua pegunungan ini, dan bangunan gedung-gedungnya menutupi lembah antara dua gunung tersebut. Masih ada gunung-gunung lain, seperti gunung Faqou’a dan gunung Jabloun ke arah Timur Laut Janeen, gunung Aqra’, gunung Ba Yazeed, gunung Bilal dan lainnya. Di gunung-gunung ini terdapat beberapa daerah datar seperti dataran Araba (30,000 hektar), dataran Sanour (Marj El Garaq) dengan luar area 20,000 hektar, dataran Makhna, yang membentang sepanjang bagian timur gunung Ebal dan Jarzeem.

Di antara lembah-lembah yang paling penting di gunung Nablus yang turun ke arah Timur ke Sungai Jordan adalah lembah Al Baden, Al Farei’a dan Al Maleh. Namun lembah yang mengarah ke Barat ke arah Laut Tengah, hanya ada satu yang terpenting dan itu adalah lembah yang dialiri oleh Sungai Aouja dan berakhir di Jaffa di bagian Utara.

Perbukitan Jerusalem dan Al Jaleel membentang dari pertengahan Nablus dan Al Quds (desa Beiteen) di wilayah Utara mengarah ke Beer El Sabe’ di Selatan dengan jarak lebih kurang 90 km. Bebukitan ini terletak di pertengahan antara Lembah Rendah Jordan dan Laut Mati ke arah Timur dan dataran pantai bagian Selatan ke arah Barat. Dengan luasnya adalah dari 40 ke 50 km, termasuk bagiannya yang berseberangan dengan Laut Mati dan bebatuan tempat aliran air di bagian Barat yang mengarah ke dataran pantai.

Dataran tinggi ini secara mendasar terdiri dari batu kalsit, yang menjadi materi bangunan yang bagus khususnya di wilayah Al Quds. Dengan peredaran waktu, dataran tinggi ini mengalami banyak perubahan yang mengakibatkan mencairkan formasi kalsit. Itu dikarenakan oleh pengaruh curah hujan dan banjir-banjir yang terjadi di lembah-lembah yang kering. Pegunungan ini juga terputus menjadi bukit-bukit dan rantaian gunung, ditambah dengan formasi gua-gua dan batu-batu cadas.

Gunung-gunung yang ada di sekitar dataran tinggi ini membentuk dua bukit yang bulat di atas gunung yang luas yang meninggi dan mendatar membentuk dua busur, salah satunya disebut dengan Busur Al Khaleel—Bayt Lahm, dan yang lainnya disebut dengan Busur Al Quds—Ramallah. Dua busur ini dipisahkan oleh pintu gerbang yang rendah secara relatif di wilayah Al quds. Sebagaimana bukit ini juga mengalami kepecahan pada ujung-ujungnya dan khususnya pada slop yang turun di bagian Timur sampai pada level yang datar dengan bentuk tempat aliran air yang cadas-cadas mengarah ke Laut Mati.

Untuk air terjun di bagian Barat, turun secara secara perlahan ke arah dataran pantai dan berakhir dalam bentuk bukit-bukit menuju kedalaman pantai yang datar. Dataran tinggi ini secara jelas dibagi oleh karena pengaruh kering dan lembah-lembah musiman seperti Lembah Ali (Bab El Wad), Lembah Al Sarrar dan Lembah Al Khaleel. Berikut ini lembah-lembah terpenting yang turun ke arah Timur : Lembah Al Aouja dan Lembah Al Qalt, keduanya berakhir di Sungai Jordan. Dan Lembah Nar dan Zwueera, keduanya berakhir di Laut Mati.

Gunung-gunung yang terpenting di Al Quds adalah Tal El Asour (1,016 m), Al Nabi Samuel (885 m), Al Ma (819 m), Al Tour or Al Zaytoun (826 m) dan Al Makbar (795 m). Gunung-gunung yang terpenting di Hebron Khalet Batrikh (1,020 m), Halhoul (1,013 m), Su’eer (1,018 m), Bani Na’eem (951 m) dan Doura (838 m). Wilayah pegunungan ini  membentang kira-kira 24 km ke arah Selatan Hebron, dekat dengan desar Dhahirrya, di mana bukit gurun Palestina bermula.

3.      Daerah Lembah Jordan

Wilayah lembah membentang di seluruh wilayah bagian Timur Palestina dari pegunungan Sheikh di Selatan ke Teluk Aqaba di Selatan. Bagian Timur yang panjang ini terus hingga memasuki wilayah perbatasan Jordan, sementara di bagian sebelah Timurnya masuk bagian teritori Palestina.

Panjangnya Lembah Jordan ini adalah lebih dari 240 km, dan ini merupakan subdivisi sistem yang besar yang terdiri dari kelompok lembah bebukitan yang beruntun. Ini adalah bagian kecil dari sistem Afrika-Asia yang membentang dengan jarak 6,000 km dari latitud 20 ke arah Selatan Mozambigue ke garis lintang 45 sebelah Utara di Turki dengan terdiri dari derajat latitud 65, misalnya seperlima dari permukaan bumi.

Lembah Jordan adalah di antara depresi bumi yang mengundang perhatian besar dunia. Itu karena lokasi Laut Mati yang berada di sana, yang merupakan titik terendah dari permukaan laut di seluruh dunia. Lembah Jordan bermula dari gunung Sheikh, naik kira-kira 160 m di atas permukaan laut. Tidak terlalu lama kemudian mulai turun ke arah Selatan, di mana itu mencapai ketinggian sekitar 70 m di Danau Al Hawla (sebelumnya), dan ke tingkatan laut di jembatan Banat Ya’qoub di atas Sungai Jordan ke Selatan Danau Tabarriya. Kemudian turun ke bawah permukaan laut di Danau Tabarriya sekitar 212 m.

Maka dari itu, ia mencapai titik terendah di bawah laut ketika sampai ke Laut Mati yang berkisar 398 m di bawah permukaan laut. Titik laut yang paling dalam dari dasar Laut Mati ini kira-kira 797 m di bawah permukaan laut. Jadi ketinggian tanahnya mulai meningkat ketika mengarah ke arah Selatan Laut Mati ini, di mana ketinggiannya mencapai 240 m di atas permukaan laut. Daerah Ajram merupakan garis pemisah antara air Laut Mati ke sebelah Utara dan Laut Merah (Teluk Aqaba) di sebelah Selatan. Ketinggian tanah di Lembah Araba mulai kembali turun ke Selatan Al Ajram saat mendekati Teluk Aqaba.

Lembah Jordan terbentuk dari hasil depresi dan pecahnya batu-batu secara keras yang akhirnya hancur dengan kedalaman yang kita saksikan sekarang. Dan ini  berhubungan ke laut untuk beberapa saat kemudian terpisah setelah merembesnya formasi-formasi laut yang membentuk tingkatan-tingkatan secara beruntun dari bawah. Pada zaman hujan, bagian dari Lembah Jordan ini ditutupi oleh air yang lebih dikenal dengan sebutan Danau Jordan Kuno, yang membentang dari Danau Tabariyya di Selatan hingga kira-kira 30 km ke Selatan Laut Mati dewasa ini.  Danau ini lenyap ribuan tahun yang silam pada zaman pra sejarah, dan tidak ada yang tersisa darinya kecuali Danau Tabariyya dan Laut Mati. Kita argumentasikan kekeringan danau tersebut dari sisa-sisa perembesan danau untuk membentuk Marn El Lisan. Sungai Jordan muncul dan menemukan jalannya menuju formasi-formasi ini.

Kita dapat bedakan antara dua tingkatan tanah di Lembah Jordan—yaitu level kedalaman dan level Zour. Kedalaman (depresi) adalah lebih tinggi dua tingkat yang terbentuk dari presipitasi kelautan kuno dan sebagian besar ditutupi oleh lapisan lumpur yang baru. Dan untuk Zour, ini merupakan lapisan yang rendah terbentuk dari presipitasi Sungai Jordan. Perbedaan tinggi antara depresi dan Zour adalah antara 20 sampai 40 m. Semuanya dipisahkan satu dari yang lain oleh kelompon tanah yang keras dan cadas yang secara lokal dikenal dengan Al Katar. Lebarnya Lembah Jordan berbeda dari 5 km ke Selatan Aqaba sampai 35 km di sebelah latitud Areha ke Selatan Laut Mati.

Dari perbatasan dua gunung, dasar Lembah turun ke Sungai Jordan yang diasumsi sebagai tempat pembuangan yang natural buat aliran air di Lembah Jordan. Lembah-lembah yang paling penting yang datang ke Lembah Jordan dari ketinggian pegunungan Palestina yang menuju ke Sungai Jordan adalah Lembah Hindaj, Amod,Al Beerah, Jaloud, Al Farei’a, Al-Maleha, Al-Aouja dan Al-Qalt.

Lembah-lembah di sebelah Timur Sungai Jordan adalah Al Yarmouk, Al Arab, Zeqlab, Al Yabis, Kafernajja, Rajeb, Al Jaram, Al Zarqa, Shu’eeb, Al Kufreen dan Hasban. Semuanya tidak kering atau musiman, dan tidak juga permanen. Itu karena berbedaan antara tinggi-tingginya di mana lembah-lembah ini bergerak, dan secara mendadak turun menuju  tanah depresi mengurangi beban yang dikenal dengan flooding fans di sekitar aliran-alirannya dekat kaki-kaki gunung yang tinggi.

 

4.      Daerah Bi’ru Sabra dan Sabana Palestina

Wilayah ini menduduki setengah luas Palestina dan terletak di bagian selatan Palestina. Daerah ini seperti segitiga yang sudutnya terletak di teluk Aqabah. Mencakup wilayah yang terletak di antara kedua tanah Gaza dan semenanjung pulai Sinai serta timur Jordan dan selatan laut mati sebagai sikunya. Bi’ru Sabra merupakan satu-satunya kota di kawasan Palestina yang dihuni oleh orang-orang baduy dan semi baduy. Wilayah ini juga merupakan penghubungn perdagangan penting dunia masa lalu dan tempat kelahiran Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Nenek moyang kabilah Arab Kan’an.

Iklim di Palestina

Iklim Palestina sama beragamnya seperti topografinya. Dalam jarak sekitar 160 km, dari Laut Mati sampai Gunung Hermon, perbedaan ketinggian yang kontras menghasilkan kondisi iklim yang sama dengan iklim di tempat-tempat lain antara garis lintang daerah Tropis dan garis lintang Kutub Utara yang terpisah ribuan kilometer. Gunung Hermon biasanya berselimut salju hampir sepanjang tahun, sedangkan di bawah dekat L. Mati termometer kadang-kadang mencapai angka 50° C. Angin laut yang bertiup dari Laut Tengah menurunkan temperatur di sepanjang pegunungan tengah. Akibatnya, panas di Yerusalem jarang melebihi 32° C, dan di sana suhunya tidak pernah dingin sekali. Pada bulan Januari temperaturnya rata-rata sekitar 10° C. Di daerah ini jarang turun salju.

Curah hujan di negeri yang penuh perbedaan ini juga amat beragam. Di sepanjang pesisir curah hujan setiap tahun sekitar 38 cm, tetapi di tempat-tempat yang lebih tinggi di Gunung Karmel, di pegunungan tengah, dan tanah tinggi sebelah timur Sungai Yordan curah hujannya dua kali lipat. Sebaliknya, di Negeb, Lembah Yordan Bawah, dan daerah Laut Mati terdapat kondisi gurun dengan curah hujan antara 5 hingga 10 cm setiap tahun.

Hujan paling banyak turun pada bulan-bulan musim dingin seperti Desember, Januari, dan Februari; hanya 6 atau 7 persen pada bulan-bulan musim panas dari Juni sampai Oktober. Hujan ”awal”, atau hujan musim gugur, yang ringan pada bulan Oktober dan November membuat tanah dapat dibajak (setelah mengeras karena terpanggang panas terik matahari pada musim panas) sebagai persiapan untuk menabur biji-bijian musim dingin. Hujan ”akhir”, atau hujan musim semi, turun pada bulan Maret dan April.

Salah satu aset besar Palestina adalah embun yang melimpah, terutama selama bulan-bulan musim panas yang tidak ada hujan, karena tanpa embun yang limpah itu banyak kebun anggur dan padang rumput akan sangat kering. Embun di Palestina kebanyakan dihasilkan oleh tiupan angin lembap yang naik dari Laut Tengah dan turun dari Gunung Hermon. Di beberapa daerah, ada begitu banyak embun pada malam hari sehingga tumbuh-tumbuhan dapat memperoleh cukup air sebagai ganti air yang hilang akibat panas pada siang hari. Embun khususnya penting di Negeb dan dataran tinggi di Gilead karena curah hujan sangat sedikit.

Flora dan Fauna di Palestina

Varietas pohon, semak-semak, dan tanaman yang begitu banyak di daerah kecil di bumi ini telah menimbulkan kekaguman para botanikus; salah seorang di antaranya memperkirakan bahwa ada sekitar 2.600 varietas tanaman yang tumbuh di Palestina. Perbedaan dalam ketinggian, iklim, dan tanah telah menyebabkan adanya bermacam-macam flora; beberapa tanaman cocok di daerah alpin yang dingin, yang lain-lain di gurun yang panas, dan ada pula yang cocok di dataran aluvial atau plato berbatu-batu, masing-masing berbunga dan menghasilkan biji pada musimnya.

Di tempat-tempat yang relatif berdekatan terdapat pohon-pohon palem yang merupakan tanaman daerah panas dan pohon ek serta pohon cemara yang merupakan tanaman daerah dingin; ada pohon wilow di sepanjang aliran-aliran sungai dan pohon tamariska di padang belantara. Palestina juga terkenal karena kebun anggur, zaitun, dan ara, serta ladang gandum, barli, dan sekoi. Tanaman budi daya lainnya termasuk ercis (kapri), polong-polongan, miju, terung, bawang merah, dan mentimun, serta kapas dan rami.

Pada zaman modern, orang-orang yang berkunjung ke negeri ini sering kali kecewa kecuali pada musim semi, ketika daerah luar kotanya dipenuhi dengan pemandangan bunga-bunga yang bermekaran. Hampir sepanjang tahun, lereng-lereng gunungnya yang berbatu-batu itu tandus dan gersang.

Pada masa lalu, di Palestina yang bagaikan taman ada lebih banyak binatang, burung, dan makhluk air dibandingkan dengan zaman sekarang. Singa, beruang, lembu jantan liar, dan kuda nil sudah tidak ada lagi, tetapi satwa liar lain yang masih dapat ditemukan antara lain serigala, babi hutan, kucing liar, anjing hutan (jakal), terwelu, dan rubah. Hewan-hewan peliharaan ada banyak sekali—domba, kambing, sapi, kuda, keledai, dan unta. Diperkirakan ada sekitar 85 jenis mamalia, 350 jenis burung, dan 75 jenis reptil.

Kekayaan Tanahnya

Selain terbukti sebagai negeri yang banyak airnya dan dapat menghasilkan bahan makanan yang limpah, gunung-gunung di Palestina mengandung bijih-bijih besi dan tembaga yang berguna. Emas, perak, timah putih, dan timah hitam harus diimpor, tetapi ada banyak persediaan garam, dan di Lembah Yordan terdapat lapisan-lapisan tanah liat untuk industri batu bata dan tembikar. Juga batu kapur yang sangat bagus digali untuk digunakan dalam pembangunan, dan di beberapa bagian permukaan tanah terdapat basal hitam yang sangat bernilai oleh karena keras dan teksturnya yang halus.

Palestina bukan merupakan kawasan yang subur dengan hasil alam yang melimpah. Kawasan Palestina, menjadi penting bukan karena hasil kekayaan alamnya, melainkan lebih kepada posisinya yang strategis. Letak wilayah Palestina yang menghubungkan tiga benua, yaitu Eropa, Asia dan Afrika. Serta menghubungkan laut tengah dan laut merah. Wilayah Palestina juga berbatasan langsung dengan Lebanon, Suriah, Yordania, Arab Saudi, serta Mesir. Yang artinya,  menghubungkan Negara-negara Arab di kawasan Benua Asia dengan Negara-negara di Benua Afrika (Hermawati: 105).

Kesimpulan:

 

Letak Astronomi Palestina adalah terletak di 150LU-320LU dan antara 340BT-570BT, Letak Geografi Palestina adalah Palestina terletak di bagian barat benua Asia yang membentang antara garis lintang meridian 15-34 dan 40-35 ke arah timur, dan antara garis lintang meridian 30-29 dan 15-33 ke arah utara

Palestina berbatasan dengan Lebanon di sisi utara, Suriah di sisi timur laut, Jordania di sisi timur, dan Mesir di sisi selatan.

Iklim Palestina berfluktuasi (berubah-rubah) antara iklim Laut Tengah dan iklim gurun. Itu disebabkan oleh pengaruh laut dan gurun. Iklim laut ini lebih dominan, kendati pada masa-masa tertentu itu dipengaruhi oleh iklim gurun pasir.

Secara topografis, hamparan bumi Palestina terdiri atas: 1) dataran rendah (al-manthiqat al-sahiliyah), 2) dataran tinggi (al-manthiqat al-jabaliyat, manthiqat al-murtafa’at al-wustha), 3) kawasan cekungan Jordan (manthiqat al-ukhdud al-urduni), dan 4) kawasan Negev (hadhbat al-Naqab)

 

Referensi:

 

Hermawati. Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

 

(Visited 86 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *