Kondisi Kependudukan Palestina

Bangsa palestina adalah bangsa asli keturunan arab dan berbahasa arab. Populasi palestina termasuk jika dibulatkan adalah 10 juta jiwa. Pada tahun 2009, sekitar 51% atau setengah dari populasi tersebut tinggal di wilayah palestina, mencakup di wilayah Israel, yerusalem timur, jalur gaza dan yordania.

Pada tahun 2009, jika digabungkan, 51% dari seluruh penduduk adalah pengungsi. Sisanya lebih dari separuh dari seluruh palestina terdiri dari yang dikenal sebagai diaspora, lebih dari dua setengah juta hidup di Negara tetangga yordania, satu juta dibagi natara Suriah dan Lebanon, seperempat juta di Arab Saudi dan Chile setengah juta adalah konsentrasi terbesar di luar dunia arab.

 

A.    Ras, Suku dan agama di Palestina

 

Suku asli palestina adalah arab. Wilayah ini telah dikuasai oleh berbagai bangsa yaitu orang mesir kuno, orang kanaan, bani Israel, orang assyiria, orang babilonia, orang farsi orang romawi dll. Kebanyakan agama warga palestina adalah islam , khususnya cabang sunni islam dan ada juga minoritas Kristen. Ibu kota Palestina adalah Yerusalem (dinyatakan) dan GazaRamallah(administratif) kota terbesar di palestina yaitu GazaHebronNablusJeninBethlehem.

Jumlah Penduduk  Palestina pada tahun 2009 diperkirakan 4.136.540. Mata uang Palestina adalah Dinar di  YordaniaPound MesirShekel Israel.

 

B.     Pemerintahan

Pada saat ini daerah Palestina terbagi menjadi dua entitas politik:

Otoritas Nasional Palestina atau Palestina merupakan sebuah negara yang berbentuk Republik Parlementeryang diumumkan berdirinya pada tanggal 15 November1988 di Aljiria, ibu kota Aljazair. Berbeda dengan kebanyakan negara di dunia yang mengumumkan kemerdekaannya setelah memperoleh Konsesi Politikdari negara penjajah, Palestina mengumumkan eksistensinya bukan karena mendapat konsesi politik dari negara lain, melainkan untuk mengikat empat juta kelompok etnisdalam satu wadah, yaitu negara Palestina. Dalam pengumuman itu ditetapkan pula bahwa Yerusalem Timur(akan) dijadikan ibu kota negara.

Secara de jure, Kepala negara yang berkuasa saat ini masih dalam persengketaan antara Presiden Mahmoud Abbasdari Faksi Fatah dan Ketua Dewan Legislatif PalestinaAziz Duwaik. Namun, secara de facto, otoritas Palestina di bawah pimpinan Presiden Mahmoud Abbashanya menguasai wilayah Tepi Barat. Wilayah Gazadikuasai oleh Hamas di bawah pimpinan mantan Perdana Menteri Ismail Haniyeh, setelah Hamas merebut wilayah ini dari otoritas Palestina pada tahun 2007. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina, beranggotakan 500 orang. Kedalam, lembaga ini terdiri dari:

  • Komite Eksekutif.
  • Kesatuan Lembaga Penerangan.
  • Lembaga Kemiliteran Palestina.
  • Pusat Riset Palestina.
  • Pusat Tata Perencanaan Palestina.

Dalam hal ini, Komite Eksekutif membawahkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Penerangan, Pendanaan Nasional Palestina, Organisasi Massa, Tanah Air yang Diduduki, Perwakilan PLO, Masalah Politik, Masalah Administrasi dan Masalah Kemiliteran.

C.  KONDISI PEREKONOMIAN

 

Kondisi Perekonomian Palestina

Sumber keuangan untuk membiayai pemerintahan saat ini berasal dari negara-negara Timur Tengah, Lembaga Islam serta tokoh perseorangan yang bersimpati dengan perjuangan negara ini. Sebelumnya, Pelestina mendapatkan sumber keuangan dari hasil pajak yang dibagikan oleh Israel. Namun sejak beberapa waktu lalu, kucuran dana dihentikan secara sepihak oleh pihak Israel atas persetujuan Amerika Serikat. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa kucuran dana yang diberikan akan digunakan bagi kegiatan perlawanan terhadap Israel oleh Hamas yang baru saja memenangkan Pemilihan Umumdi Palestina

 

D.  KONDISI PARIWISATA

Pesona Objek Wisata Gaza City

Sisi Lain Gaza, Palestina. Tempat bersantai paling asyik warga Gaza adalah Madinatul Azda, pantai wisata warga Gaza atau kawasan rekreasi pantai di tepi Laut Mediterania.Luluh-lantak, reruntuhan bangunan di mana-mana. Mungkin itu yang terbayang di benak kita begitu mendengar kata Gaza, Palestina, wilayah yang diblokade Israel dari dunia luar dan kerap mendapatkan serangan udara dari jet-jet tempur canggih buatan Amerika yang “disedekahkan” kepada militer negara Zionis Yahudi itu. Mendengar kata “Gaza”, kita juga tidak membayangkan objek wisata di sana. Bagaimana mungkin Gaza jadi tujuan wisata? Bukankah itu wilayah perang?

Jalur Gaza sebenarnya menyimpan potensi wisata yang indah dan bersejarah, termasuk di kawasan pantainya. Secara geografis, Jalur Gaza (Gaza Strip, Qita Ghazzah) adalah sebuah kawasan di pantai timur Laut Tengah, berbatasan dengan Mesir di sebelah barat daya (11 km), dan Israel di sebelah timur dan utara (51 km).  Jumlah penduduk Gaza berjumlah sekitar 1,7 juta jiwa.

Mayoritas besar dan lahir di Gaza, selebihnya merupakan pengungsi dari wilayah lain Palestina yang menyelamatkan diri ke Gaza setelah meletusnya Perang Arab-Israel 1948.
Jalur Gaza merupakan bagian dari wilayah Palestina. Sejak Juli 2007, kelompok pejuang Hamas menjadi penguasa de facto di Jalur Gaza yang kemudian membentuk Pemerintahan Hamas di Gaza.

Gaza City (Kota Gaza) adalah kota terbesar di Jalur Gaza. Kota ini memiliki penduduk sekitar 410.000 jiwa. Bani Hashim, nenek moyang dari Nabi Muhammad Saw,  diyakini dimakamkan di gaza city

Objek Wisata Gaza City Objek Wisata di Gaza City berupa gedung-gedung bersejarah dan keindahan taman-taman kota. Jalur Gaza sendiri terkenal dengan pantainya, Madinatul Azda atau Pantai Wisata Warga Gaza. Di Gaza City ada sejumlah pusat budaya, masjid bersejarah, dan museum:

 

The Rashad Shawa Cultural Center. Terletak di Rimal, dibangun tahun 1988, dan dinamai pendirinya, mantan walikota Rashad al-Shawa. Sebuah bangunan berlantai dua dengan rencana segitiga, pusat kebudayaan melakukan tiga fungsi utama: pertemuan tempat untuk pertemuan-pertemuan besar selama festival tahunan, tempat pameran panggung, dan perpustakaan.

Pusat Kebudayaan Prancis. Simbol kemitraan dan kerja sama Perancis di Gaza. Ini memegang pameran seni, konser, pemutaran film, dan kegiatan lainnya. Bila mungkin, seniman Perancis diundang untuk menampilkan karya seni mereka, dan lebih sering, seniman Palestina dari Jalur Gaza dan Tepi Barat diundang untuk berpartisipasi dalam kompetisi seni.

Arts and Crafts VillageDesa Seni dan Kerajinan. Didirikan tahun 1998, ia merupakan pusat budaya anak-anak Gaza dengan tujuan mempromosikan dokumentasi seni kreatif yang komprehensif, teratur, dan berkala dalam segala bentuknya. Saat ini terorganisasi sekitar 100 pameran untuk seni kreatif, keramik, grafis, ukiran, dan lain-lain. Hampir 10.000 anak dari seluruh Jalur Gaza telah memperoleh manfaat darinya.

The Gaza Theater. Dibiayai oleh kontribusi dari Norwegia, dibuka tahun 2004. Sebagian besar dananya bergantung pada sumbangan dari badan-badan bantuan asing. Yayasan Qattan, sebuah seni Palestina amal, menjalankan beberapa lokakarya di Gaza untuk mengembangkan bakat artistik muda dan memberikan keterampilan kepada guru drama. The Gaza Theater Festival diresmikan tahun 2005

The Museum of Archaeology Gaza. Didirikan oleh Jawdat N. Khoudary, dibuka pada musim panas 2008. Ada ribuan item, termasuk patung, gambar dewa kuno, dan barang antik lainnya.

The Water Park Gila.Dibuka tahun 2010, namun dibakar oleh sekelompok 40 pria bertopeng, tapi kembali dibuka sebulan kemudian

 

Masjid Agung Gaza

 

Nama resminya Jāmi’ Ghazza al-KabÄ«r, dikenal juga sebagai Masjid Agung ‘Umari (Jāmi’ al-Ê¿UmarÄ« al-KabÄ«r), di di Kota Tua (Old City). Bekas kuil pagan dan gereja Ortodoks Yunani ini dijadikan masjid di abad ke-8.  Tentara Salib mengubahnya menjadi sebuah gereja, tapi dibangun kembali sebagai masjid segera setelah penaklukan Gaza oleh tentara Muslim. Masjid ini terletak di tengah pasar dan jalan-jalan yang sibuk.

Warga Gaza menyebutnya Masjid ‘Umari karena Khalifah ‘Umar bin Khattab pernah singgah di tempat ini, shalat, dan lalu mengubah gereja Romawi Byzantium yang sudah berusia 200 tahun dan sepi menjadi masjid. Dikisahkan, waktu itu Khalifah ‘Umar sedang dalam perjalanan menuju Masjid Al-Aqsha yang baru dibebaskan pasukan Islam.

Masjid ‘Umari Jabaliya. Ada di bagian utara Gaza. Masjid ‘Umari Jabaliya adalah tempat pertama kali meletus gelombang Intifadhah Palestina 1987.

 

Masjid Hashim.

Diyakini sebagai tempat dimakamkan leluhur Nabi Muhammad Saw, Hashim bin Abdul al-Manaf.  Madinatul Azda: Favorit Warga Gaza Tempat bersantai paling asyik warga Gaza adalah Madinatul Azda, pantai wisata warga Gaza atau kawasan rekreasi pantai di tepi Laut Mediterania. Pantai inilah yang biasanya dikunjungi warga Gaza untuk bertamasya. Suhu air lautnya dingin.

Kota rekreasi seluas lebih dari 50 hektare ini didirikan Pemerintah Palestina di Gaza pimpinan Perdana Menteri Ismail Haniyah. Pantai ini berada di utara Gaza. Dari sini juga tampak Pelabuhan Ashdod yang dikuasai Israel di arah utara.

Tempat rekreasi ini tidak memiliki fasilitas hiburan layaknya taman bermain. Yang ada hanya ayunan. Namun, di sinilah keluarga Palestina menghabiskan waktu mereka berlibur

 

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *