Sejarah Palestina #3

Deklarasi Balfour  (1917) ialah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya/Inggris; Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild, 2nd Baron Rothschild), pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis. Surat itu menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis untuk  membuat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.

Itu artinya Inggris mendukung migrasi yang dilakukan oleh Yahudi-Eropa ke Palestina serta mendukung pengambilalihan sebagian tanah Palestina. Deklarasi yang memiliki dampak signifikan terhadap nasib Palestina tersebut telah didukung oleh pemerintah AS.

–          Imigrasi III

gelombang ketiga imigran tiba, total Yahudi pun menjadi 12 % . Namun, kepemilikan tanah atas Yahudi tidak melebihi 3 %, dengan adanya migarsi ini, demografi Palestina berubah secara dramatis yang kemudian hari banyak memunculkan masalah dan sengketa antara Arab dan Yahudi. Atas dasar itulah 7 konferensi Palestina besar diadakan yang bertujuan untuk mengecam deklarasi  Balfour.

Kondisi Palestina tidak juga berubah, maka muncullah intifada pertama yang pecah pada tahun 1920 dan pergolakan besar berlangsung di Yafa pada tahun 1921 yang akhirnya dilaksanakanlah sebuah konferensi di Nablus menyerukan boycot ekonomi Zionis.

Pada tahun 1922, didirikanlah dewan muslim tertinggi yang diketuai oleh Amin al-husseini , di lain sisi ‘Haganah’ juga  didirikan sebagai organisasi zionis militer, meskipun organisasi tersebut bersifat rahasia dan ilegal , Inggris mendukungnya secara langsung maupun tidak. Pada saat yang sama tentara Inggris menangkapi setiap warga Arab-Palestina yang menyimpan senjata di dalam rumahnya.

Imigran Yahudi banyak yang berasal  dari Polandia, Rusia dan Jerman. Populasi  Yahudi meningkat menjadi 17%. Kerusuhan terjadi di sekitar dinding al-Buroq ( dinding barat ) pecah di masjid al – Aqsha. Dan pada tahun 1933 terjadi pemberontakan besar oleh rakyat Palestina.

2 tahun kemudian ‘Izzuddiin al Qassam tewas bersama temannya saat berperang melawan Inggris  di kota Ya’bad. Gelombang imigrasi ke Palestina terus bertambah hingga mencampai seperempat juta orang Yahudi. Populasi Yahudi meningkat menjadi 30 %.

Kemudian terjadilah revolusi  besar Palestina.

Sumber: Palqa.com

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *