Tragedi Sinai dan Ide Pertukaran Tanah Palestina

Iwishcenter.org – Semenanjung Sinai, sebuah wilayah jarang penduduk di Mesir yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza, Palestina dan Negev, wilayah pendudukan Israel. Wilayah ini ramai dibincangkan paska tragedi berdarah di masjid Raudhah, Jum’at, 24 November 2017 pekan lalu yang menewaskan lebih dari 300 orang jama’ah.

Banyak pihak menganalisa, kejadian ini tidak lepas dari rencana pengosongan wilayah tersebut dari penduduk, untuk diberikan kepada orang Palestina sebagai realisasi dari agenda Israel melalui deal of the century.

Baru-baru ini situs berita berbahasa Inggris, middleeasteye.net memberitakan tentang deal of the century yang menjadi solusi presiden Amerika, Donald Trump dalam menyudahi konflik Palestina-Israel. Bila diteliti ada benang merah konflik di Sinai saat ini dengan kepentingan merealisasikan agenda tersebut.

Isi dari kesepakatan itu adalah, pertama, mendirikan negara Palestina yang meliputi Jalur Gaza dan Zona A, B serta sebagian zona C dari wilayah Tepi Barat. Kedua, negara pemberi bantuan akan menyumbangkan dana sebesar 10 miliar dollar untuk membangun bandara udara dan pelabuhan di Jalur Gaza, termasuk proyek di bidang pertanian, industri serta pembangunan kota-kota. Ketiga, menunda pembahasan terkait kota Al-Quds dan rencana pemulangan para pengungsi Palestina hingga perundingan mendatang. Keempat, perundingan final akan membahas perdamaian antara Israel dengan negara-negara Arab yang dimediasikan oleh Kerajaan Arab Saudi.

Sejak ditandatanganinya perjanjian Oslo II pada tahun 1995 oleh Otoritas Palestina dan pemerintah Zionis Israel, penjajah Yahudi seakan mendapat kekuatan hukum untuk mengontrol wilayah Tepi Barat, Palestina. Isi perjanjian itu adalah membagi wilayah Tepi Barat menjadi tiga zona, A, B, dan C.

Pertama, zona A luasnya meliputi 18% wilayah Tepi Barat. Dalam zona ini Otoritas Palestina memiliki hak mengontrol penuh wilayah tersebut, baik dari administrasi maupun keamanan. Kedua, zona B yaitu 21% dari wilayah Tepi Barat. Dalam zona ini Otoritas Palestina hanya diberikan hak untuk mengontrol wilayah tersebut secara administrasi, adapun keamanan diserahkan sepenuhnya kepada penjajah Zionis Israel. Sedangkan zona ketiga adalah zona C, mewakili 61% wilayah Tepi Barat. Di zona ini Otoritas Palestina tidak diberikan hak mengontrol baik secara administrasi maupun keamanan. Seluruh kebijakan dari Otoritas Palestina di wilayah tersebut harus berdasarkan persetujuan dari Zionis Israel.

Pertukaran Tanah

Deal of the century memang tidak secara langsung membicarakan pertukaran tanah untuk menempatkan orang Palestina di Mesir. Namun hal ini menjadi bagian dari mega proyek Zionis untuk menyingkirkan penduduk Palestina dari tanah kelahirannya, termasuk mereka yang menjadi pengungsi dan ingin kembali, agar ditempatkan di wilayah Sinai.

Pertukaran tanah ini sebenarnya bukan hal baru, karena pada beberapa dekade lalu pernah diusulkan namun ditolak oleh pihak Mesir. Pada tahun 2010 usulan ini kembali digulirkan oleh Giora Eiland, Mayor Jenderal Pasukan Perang Israel. Isinya terkait Gaza Raya yang melebar hingga ke wilayah Sinai di Mesir. Gaza akan mendapatkan wilayah tambahan seluas 720 km, atau  tiga kali lipat dari wilayahnya sekarang. Sebagai gantinya Israel diberikan hak untuk menguasai 12% dari Tepi Barat.

Tentu tidak mudah untuk merealisasikan ide ini, harus ada lobi yang dilakukan untuk mendapat persetujuan pihak Mesir. Kairo dijanjikan sebagian wilayah padang pasir Negev di Palestina yang kini diduduki Israel, dengan luas tanah yang sama dengan yang diberikan ke Jalur Gaza.

Israel menggunakan lobi Amerika dan Uni Eropa untuk menekan negara Arab agar mendesak Mesir menyetujui usulan tersebut. Namun baik Mesir maupun Palestina hingga kini menolak ide pertukaran tanah ini. Sehingga terjadi berbagai peristiwa berdarah di dalam negeri Mesir sebagai tekanan dari sektor keamanan. Termasuk tindakan terorisme yang terjadi di Sinai beberapa pekan lalu, yang diyakini oleh para pengamat sebagai drama politik global.

Dengan isu terorisme, Sinai mudah untuk dikosongkan, sehingga kapan saja siap difungsikan untuk menampung orang-orang Palestina. Sehingga wajar keluar pernyataan dari Menteri Kesetaraan Sosial Israel, Gila Gamliel yang menyebut Semenanjung Sinai sebagai wilayah yang tepat bagi orang Palestina. Permasalahannya, bagaimana cara Israel menempatkan orang-orang Palestina di Sinai? Akankah agresi militer kembali terjadi untuk mendorong orang Palestina memasuki Sinai? Waktu akan menjawab teka-teki ini semua.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *