Trump Sulut Kemarahan Dunia

Amerika Serikat melalui presiden Trump mengeluarkan keputusan sepihak dengan menjadikan Al-Quds sebagai ibukota Israel. Sontak kebijakan ini membuat dunia terkejut, tak terkecuali negara-negara yang selama ini bersahabat dengan Amerika. Terutama Arab Saudi, Mesir dan negara teluk lainnya yang akrab dengan Amerika selama ini merasa dikhianati, pertemanannya tidak memberikan hasil, tidak sanggup merubah kebijakan Paman Sam atau minimal membuatnya netral terhadap permasalahan Palestina. Karena kebijakan Trump ini sangat jelas keberpihahaknnya kepada Israel.

Trump bukan saja mengakui Al-Quds sebagai ibukota milik penjajah, tapi juga memerintahkan Kemenlu AS untuk segera memindahkan kedubes-nya dari Tel Aviv ke Al-Quds. Baginya ini adalah amanah dari hasil kongres Amerika di tahun 1995, yang menyepakati perpindahan kedubes AS di Israel ke kota terjajah Al-Quds.

Ide pemindahan kedubes AS ke Al-Quds ini sendiri sudah digaungkan sejak tahun 1990 lalu di kongres Amerika. Dan dipertegas dalam keputusan kongres tahun 1995 dimasa presiden Bill Clinton. Ada 3 poin yang disepakati saat itu, pertama, memposisikan Al-Quds sebagai satu kota yang tidak terbagi. Kedua, mengakuinya sebagai ibukota Israel. Ketiga, pihak Amerika harus memindahkan kedutaannya ke Al-Quds pada waktu yang tepat.

Baik Clinton, Bush Senior dan Baracak Obama, ketiga presiden AS itu tidak pernah merealisasikan keputusan tersebut, dengan pertimbangan akan mengganggu proses perdamian. Namun lain halnya dengan Trump, ia bangga dirinya dapat mewujudukannya sesuai janji kampanyenya selama ini, janji yang tidak pernah ditepati oleh tiga presiden AS sebelumnya. Lucunya Trump masih berani mengkalaim, kebijakan ini tidak mempengaruhi ide solusi dua negara yang kerap dikampanyekan. Padahal jelas keputusan tersebut telah menyulut perlawanan di berbagai sudut kota Palestina bahkan termasuk dunia.

Pengakuan ini setidaknya telah menyebabkan terjadinya tiga hal, pertama, pesan kepada dunia bahwa Amerika mencabut segala bentuk perjanjian yang disepakati dalam perdamaian Palestina-Israel. Karena tidak lagi sebagai penengah, tapi dengan jelas menunjuk keberpihakan dan melanggar berbagai perjanjian. Dengan dijadikan Al-Quds sebagai ibukota Israel menambah suram nasib pengungsi Palestina yang selama ini menuntut hak kembali ke tanah kelahiran.

Kedua, melanggar tiga resolusi yang telah ditetapkan DK PBB. Pertama, resolusi nomor 242 tahun 1967, yang meminta Israel menarik diri dari tanah yang diduduki tahun 1967, termasuk di dalamnya Al-Quds. Kedua, resolusi nomor 478 tahun 1980, terkait penolakan keputusan pemerintah penjajah Israel yang mencaplok Al-Quds dan menjadikannya sebagai ibukota abadi bagi negara penjajah Israel. Ketiga, nomor 2334 tahun 2016 yang isinya, Dewan Keamanan PBB tidak mengakui perubahan apapun yang dilakukan Israel di wilayah perbatasan tahun 1967 termasuk di Al-Quds tanpa melalui jalan perundingan.

Ketiga, melanggar kepemilikan tanah Palestina seperti yang telah diakui dunia. secara kepemilikan sejarah telah disepakati bahwa kota Al-Quds merupakan kota milik bangsa Palestina. Hal ini dipertegas oleh Komisi Warisan Dunia UNESCO PBB dalam konfrensi ke-41 di kota Krakow Polandia, Rabu (5/7/2017) yang menyebut Al Quds sebagai kota milik bangsa Palestina.

 Sikap Rakyat Palestina

Pengakuan Trump terhadap Al-Quds ibukota Israel memang telah menyakiti perasaan umat Islam sedunia. Bukan saja ini sebagia bukti penjajah masih bercokol di atas tanah Palestina, tetapi juga keberadaan Al-Aqsa sebagai masjid kiblat pertama umat Islam yang berada di Al-Quds semakin terancam identitasnya.

Namun apabila kita melihat hal ini dari sisi positif, kondisi ini telah membuat persatuan di internal Palestina, baik masyarakatnya maupun faksi-faksi yang ada. Dan dampakanya positif pula terhadap persatuan umat Islam dunia. Bisa kita saksikan di berbagai media aksi-aksi protes terhadap kebijakan Trump tersebut terjadi bukan saja di negara-negara muslim tapi juga negara lainnya. Karena masalah Palestina bukan saja masalah ideologis bagi umat Islam tapi juga masalah kemanusiaan bagi seluruh masyarakat dunia.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *