Fikih Prediksi dan Prediksi Fikih

Revolusi telekomunikasi atau lebih tren industry 4.0 membawa dampak besar. Awalnya, revolusi industri keempat ini menyasar dunia bisnis dan manufaktur. Namun, perkembangannya akan merambah berbagai sektor kehidupan manusia. Klaus Schwab membahas dampaknya secara global sebagaimana berpengaruh pada komunitas masyarakat[1] bahkan sampai kehidupan individu manusia modern. Menurutnya, revolusi industri keempat ini bukan hanya mengubah apa yang bisa dikerjakan manusia, tapi akan mengubah secara pelan dan pasti “siapa kita”. Efek dan pengaruhnya bahkan akan sampai pada taraf personal. Masalah privasi, gaya konsumerisme, persepsi kerja dan rekreasi, peningkatan karir individu dan sebagainya[2].

Di era seperti ini, kebutuhan modifikasi fikih bagi umat Islam sangat urgen. Sebelumnya, seorang alim terkemuka Dr. Yusuf al-Qaradhawi mempopulerkan fikih prioritas (fiqh al-aulawiyât), maka saatnya umat ini perlu mempertajam lagi dengan fikih prediksi (tawaqqu’ât) yang pernah dibahas oleh para fuqaha dengan sebutan fiqhu al-ma’âlât. Tentunya, tanpa mengesampingkan urgensi fikih-fikih lain.

Di antara imam madzâhib yang punya pandangan prediktif adalah Abu Hanifah, yang tinggal di Iraq dengan berbagai masalah baru. Kasus talak tiga yang diputuskan Umar bin Khattab pun karena menggunakan pertimbangan prediktif. Sekiranya tak diantisipasi, mungkin semakin banyak yang mempermainkan talak.

Penulis takkan membawa ranah fikih ibadah. Ini sudut pandang lain, karena selain fikih prediksi, kita pun perlu membekali prediksi fikih. Bagaimana masalah-masalah baru disikapi dengan pendekatan hukum fikih. Tak bisa dihindari fikih harus menyikapi transaksi elektronik, termasuk e-money, belum lagi dengan semakin majunya dunia mesin (robot). Manusia mulai terdesak oleh teknologi yang diciptakannya.

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap industri dan mesin akan menyebabkan masalah. Utamanya adalah problem identitas, baik identitas kebangsaan, ideologi maupun sampai tahapan identitas gender. Sebagian manusia modern sudah sulit ditebak jenis kelamin aslinya, dikarenakan beberapa hal. Kepekaan sosial menipis, keuletan mulai pudar, dibarengi dengan ketergesaan dalam banyak hal.

Maka, hadirnya ilmu dan etika, yang menjasad dalam diri manusia menjadi penting dan mendesak. Karena, ilmu dan etika yang dirangkum dalam sebuah kewajiban menuntut ilmu oleh Rasulullah SAW ini menjadi kewajiban individu, yang perlu didukung oleh komunitas sosial dan negara berkewajiban memfasilitasi serta meningkatkan efektifitasnya.

Inilah yang penulis maksudkan dengan fikih prediksi. Bukan sekedar membayangkan masa depan, tapi apa yang perlu disiapkan. Melek literasi dan meningkatkan reading habbit yang disiapkan juga demikian, perlu dipilah dan disusun prioritasnya. Secara pribadi, apa yang menjadi tema penting untuk sering dibaca umat ini -tentunya setelah al-Quran dan Hadis-. Kemampuan-kemampuan apa saja yang perlu disiapkan dalam keluarga? Selanjutnya negara mengarahkan basis massa yang kuat untuk membuat ketahanan nasional di bidang tertentu.

Kondisi umat Islam dengan pendekatan politik dan ekonomi memang memprihatinkan. Namun, jika umat tak keluar dari kungkungan view ini, maka akan tenggelam dalam emosi kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. Padahal, jika dilihat dari potensi, kemungkinan akan lahir ide-ide brilian. Bukankah, kajian-kajian keislaman di perkantoran dan beberapa komplek perkotaan perlu dibaca dengan fikih prediksi? Ini kesempatan membuat kampus keislaman terbuka yang terintegrasi guna penyadaran masif. Islamic finance beserta turunannya menjadi tren yang tak bisa dielakkan, merupakan peluang lainnya yang dahsyat. Kita perlu memancing para pakar untuk membawa umat ini menelusuri bersama, fikih prediksi agar lebih produktif dan efektif. WalLâhu al-Musta’ân.

Bersambung …

Catatan Keberkahan 84

Jakarta, 11.01.2018

SAIFUL BAHRI

__________________________________________

[1] Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution, (Geneva: World Economic Forum, 2016), hlm. 86, 88

[2] Ibid, hal. 92

(Visited 2 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *