Terorisme, Bayangan Hitam di Belakang Israel

Mari kita sedikit membahas tentang terorisme. Definisi terorisme ini menjadi menarik karena kita ambil dari sumber yang sangat kontroversial, Benjamin Netanyahu, yang merupakan seorang PM Israel.

Dalam buku “Terrorism: How the West Can Win” yang ditulis pada tahun 1986, ia mendifinisikan terorisme sebagai :

“Pembunuhan yang disengaja dan sistematis, melukai dan mengancam orang yang tidak bersalah untuk mengilhami rasa takut akan tujuan-tujuan  politik kita”

Apa yang terjadi di Palestina saat ini sangat relevan dengan apa yang Benjamin Netanyahu definisikan mengenai terorisme. Israel melukai orang-orang yang tak bersalah, membunuh dan mengebom sekolah, rumah dan lain-lain. Menutup perbatasan, menghentikan pasokan listrik, makanan dan obat-obatan. Menjadikan Gaza sebagai penjara terbesar di dunia. Menggusur rumah penduduk Palestina di wilayah Tepi Barat.

Belum hilang dalam ingatan kita bagaimana Israel membombardir Gaza beberapa tahun terakhir ini. Memutuskan komunikasi dan bantuan dari dunia Internasional. Tak lupa pula politik belah bambu dalam menghadapi rekonsiliasi Fatah dan Hamas serta upaya agar pemerintahan bersatu Palestina tidak terwujud.

Definisi terorisme ala Benjamin Netanyahu ini pun kemudian terjadi lagi dalam Sidang Umum PBB kemarin. Taktik “bullying” Amerika Serikat dan Israel terhadap negara-negara Internasional sangat nampak sekali.Bagaimana pidato Dubes Amerika untuk PBB, Nikki Hayley, yang mengancam negara-negara Internasional, khususnya yang selama ini menerima bantuan dana dari AS, untuk mendukung pemindahan kedubes AS ke Yerusalem dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Beberapa hari kemudian Donald Trump mengancam akan menghentikan semua bentuk bantuan kepada Palestina. Amerika Serikat disebut-sebut akan membekukan bantuan senilai 125 juta dolar AS atau sekitar Rp1,6 trilyun kepada UNRWA, yang mengurus pengungsi Palestina.

UNRWA dibentuk oleh PBB pada tanggal 8 Desember 1949 untuk melaksanakan bantuan langsung dan program-program kerja untuk pengungsi Palestina seperti layanan pendidikan, perawatan kesehatan, bantuan dan sosial, infrastruktur kamp dan perbaikan, keuangan mikro dan bantuan darurat.

Didanai hampir seluruhnya dengan sumbangan sukarela dari negara-negara anggota PBB. Dana itu, yang nilainya setara dengan sepertiga bantuan tahunan Amerika Serikat kepada UNRWA, seharusnya dikirimkan pada 1 Januari 2018, namun ditunda hingga pemerintahan AS menyelesaikan peninjauan ulang kebijakan bantuan untuk Otoritas Palestina.

Terorisme terhadap UNRWA bukan hanya kali ini saja. Tahun 2014 Israel pernah membom sekolah yang dikelola UNRWA dan menewaskan 19 anak-anak yang sedang belajar pada saat kejadian. Sampai sekarang aksi terorisme ini tidak pernah diusut tuntas. Bahkan ditolak oleh Amerika Serikat dan Israel ketika dibawa ke mahkamah internasional dan sidang dewan keamanan PBB.

Demikianlah kita lihat bagaimana definisi terorisme ala Benjamin Netanyahu ini benar-benar tergambarkan dalam Israel dan Amerika Serikat. Mereka melukai, membunuh dan menakuti-nakuti dalam  rangka meraih tujuan politik mereka. Dimulai dari terorisme atas Palestina, berlanjut kepada terorisme atas diplomasi Internasional dan terorisme atas PBB.

Sekarang rakyat Palestina sedang berjuang melawan terorisme ini. Itulah hakikat perlawanan dalam gerakan BDS (Boycott, Divestment and Sanction). Perlawanan terhadap media milik Zionis, perlawanan menentang pemukiman illegal. Dari rakyat Palestina, akademisi, artis dunia, pemimpin dunia. Dari Illan Pappe, Rachel Corrie, Finian McGrath, dan Lorde.(Iskandar Samaullah)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *