Anak Palestina dan Penjara Israel

Bangsa Palestina membutuhkan generasi yang kokoh dalam menghadapi penjajahan Israel yang telah memiliki cengkraman kuat dengan memproklamirkan negaranya di tanah jajahan tersebut sejak setengah abad yang lalu, dan mendapat dukungan global selama lebih dari satu abad. Generasi muda yang kuat mesti terus hadir agar estafeta proyek pembebasan terus berlangsung cepat hingga Bangsa Palestina meraih kemerdekaannya.

Strategi pelemahan generasi dengan aksi teroris menjadi pilihan Israel saat manuver  halus tidak efektif bagi sebagian besar generasi muda Palestina. Selain intimidasi dan teror, kurungan penjara menjadi strategi penting Israel. Kepala PPC (The Palestinian Prisoner’s Club) Qadura Fares menjelaskan: Israel telah  menahan tidak kurang dari 7000 anak-anak Palestina berusia antara 12 hingga 18 tahun sejak intifadhah kedua tahun 2000.

Frekwensi penangkapan meningkat pada akhir 2017 pasca pengumuman Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Karena alasan tidak mendasar anak-anak Palestina yang memberikan reaksi keras terhadap putusan Trump tersebut dicap sebagai teroris. Israel semakin massif menahan anak-anak Palestina. Pada akhir 2017 mereka telah memenjarakan sejumlah 300 anak tanpa alasan jelas. Sejak awal tahun 2018 pada bulan januari, telah tercatat 52 tahanan anak yang dijebloskan dalam penjara Israel.

Setelah tahun 2015, pemerintah Israel telah memberlakukan undang-undang rasis terhadap anak-anak Palestina, termasuk undang-undang yang menetapkan hukuman penjara terhadap anak-anak dalam waktu yang lama, sampai puluhan tahun bahkan seumur hidup.

Sejumlah kejahatan yang dilakukan Israel terhadap tahanan anak-anak Palestina dalam berbagai bentuk pelecehan, penistaan, penganiayaan dan penyiksaan dapat merusak fisik dan psikis mereka. Mereka yang baru masuk penjara, dipastikan segera mendapat perlakuan tidak manusiawi, sebagaimana penuturan seorang narasumber dalam wawancara channel aljazeera. Israel juga mengedepankan cara-cara kasar dan teror dalam berinteraksi dengan para tahanan tanpa pandang usia.

Kejahatan yang menimpa anak-anak Palestina di penjara Israel dalam rentang waktu panjang menyebabkan trauma mendalam yang dapat menghantui pikiran dan perasaan mereka. Akumulasi kondisi itu dalam waktu yang panjang dapat berdampak buruk pada penurunan semangat dan optimisme mereka dalam menjalani kehidupan di masa yang akan datang.

Massifnya penangkapan dan tahanan anak Palestina di penjara Israel membuktikan besarnya potensi kekuatan anak-anak Palestina sebagai momok yang menghantui penjajah Israel. Israel tidak mau mengulangi kepanikan yang pernah melanda mereka saat terjadinya perlawanan massif pertama yang pada 9 Desember 1987 yang dikenal dengan ‘intifadhah batu’, karena anak-anak Palestina melawan penjajahan Israel dengan hanya bersenjatakan batu.

Tidak selamanya arogansi Israel dapat melumpuhkan semangat juang anak-anak Palestina. Bagi mereka, kondisi itu bisa menjadi bentuk ‘gemblengan’, yang semakin menumbuhkan jiwa kepahlawanan dan perjuangan.

Saat arogansi penjajah Israel semakin meningkat, anak-anak Palestina semakin berdiri tegak di garda terdepan menghadapinya. Pun demikian saat Presiden AS mengumumkan keputusan Yerusalem sebagai ibukota Israel, meski akhirnya sebagian mereka ditangkapi. Penangkapan Ahed Tamimi (16 tahun) pada 19 Desember 2017 menjadi peristiwa fenomenal, tidak hanya karena keberaniannya melawan tentara penjajah Israel, tetapi peristiwa itu mengundang perhatian dan solidaritas internasional. Termasuk aksi solidaritas yang dilakukan para aktivis dan pelajar sekolah Yahudi di Washington DC, ibukota AS, pada Kamis, 01/02/2018 terhadap Ahed Tamimi dan 300 anak Palestina yang sedang mendekam dalam penjara Israel.

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *