Pergi dan Kembali

Berpisah dengan orang yang dicintai tentu berat dan menyedihkan. Apalagi jika kehilangan untuk selamanya. Allahlah yang menyatukan orang-orang yang lama berpisah. Disatukan secara fisik dalam keadaan sehat dan sangat baik. Kadang ada yang dipertemukan secara fisik, salah satunya jasad yang ditinggal nyawa. Kadang Allah menyatukan puzzle-puzzle memori seseorang ketika kembali ke tempat asalnya, atau tempat leluhurnya.

Seorang lelaki bernama Farukh meninggalkan keluarganya. Ia tinggalkan istrinya, Suhailah bersama 30 ribu dinar. Ia tak tahu kalau istrinya sedang hamil. Ia keluar dari kota Madinah untuk berjihad ke Khurasan dan beberapa tempat lainnya. 27 tahun ia berjihad mengawal risalah kenabian Muhammad SAW dan menyebarkan dakwahnya. Relung kerinduannya menyeruak, mengusik hatinya. Ia pun bergegas kembali ke Madinah, menengok keluarganya, setelah hampir tiga dasawarsa tanpa kabar.

Farukh memasuki Madinah. Dengan syahdu ia shalat di Masjid Nabawi. Usai shalat ia saksikan sebuah halaqah ilmu yang dihadiri orang banyak, membludak. Ia tak tahu, siapa suara pemuda yang dikelilingi orang-orang. Ia pun bertanya. Mereka menduga ia bukan penduduk Madinah, karena tak mengenal seorang alim tersohor bernama Rabiah ar-Ra’yi. Setelah halaqah ilmu selesai, ia menjenguk Suhailah. Sesampai di rumah, seorang pemuda menghalanginya memasuki rumah. Dalam beberapa riwayat disebut sampai terjadi percekcokan antara Farukh dan sang pemuda. Hingga muncullah Suhailah. Pertemuan yang mengharukan yang tak diperkirakan sebelumnya olehnya dan anaknya.

Suhalilah ditanya Farukh, apakah uang yang ditinggalkannya mencukupi? Suhailah mempersilakan Farukh memasuki rumah dan menyediakan hidangan untuknya. Ia akan beritahu harta yang dititipkan kepadanya.

“Pergilah dan shalatlah di masjid Nabawi, Farukh”

“Iya. Aku sudah melakukannya” Farukh menyahutinya

“Apakah engkau mendengar orang-orang menyebut tentang Rabi’ah ar-Ra’yi, orang alim yang berilmu seluas samudra?”

“Betul, aku mendengarnya demikian” Farukh menjawab pelan

“Apakah engkau rela, seandainya uangmu kugunakan untuk mendidik seseorang yang punya ilmu seperti dia?” Suhailah serius bertanya

“Pasti istriku. Pasti!”

“Ketahuilah, Rabi’ah itu anakmu! Apa yang kau titipkan kepadaku kunafkahkan untuknya!”

Farukh berdiri kemudian berlari memeluk anaknya. Kemudian ia keluar dan berteriak, “Rabi’ah ar-Ra’yi adalah anakku”

*****

Adalah anak kecil yang yatim yang dibawa oleh ibunya, mengunjungi tanah leluhurnya. Sepeninggal ayahnya, Muhammad Idris kembali ke Mekah. Ia menghafal al-Quran di sana, kemudian berpindah ke Madinah untuk menjadi murid Imam Malik, sang guru besar hadis Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia hijrah ke Yaman, lalu ke Baghdad dan menjadi ulama terkenal di sana. Kemudian beliau juga menetap di Mesir hingga akhir hayatnya.

Anak yatim, sang musafir yang berhobi travelling ini adalah seorang alim di antara empat imam madzhab. Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Saat ia kembali ke tanah haram, ia mengumpulkan memori asal dirinya yang bersuku Quraisy. Pun saat beliau terinspirasi sabda Nabi Muhammad SAW untuk mengunjungi tiga masjid suci. Menariknya, saat beliau ke Masjid al-Aqsha adalah saat kembalinya memori masa kecilnya di sebuah wilayah yang tak jauh darinya. Beliau di lahirkan di Gaza. Semenjak Umar bin Khattab menaklukkan Baitul Maqdis, beliau mengangkat Ubadah bin Shamit sebagai Qadhi di sana juga menugaskan Syadad bin Aus. Para sahabat tak sedikit yang berbondong-bondong ke tanah suci kiblat pertama umat Islam ini. Para tabi’in meneruskannya, Muqatil, al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauriy, Lays bin Sa’d. Imam Syafi’i termasuk dalam kafilah para ulama yang berkunjung ke Masjid al-Aqsha dan sempat mengajar di sana. Masjid al-Aqsha mengumpulkan puzzle-puzzle memori para tokoh. Baik pengalaman pribadi mereka atau menelusuri jejak kenabian saat hendak bermi’raj bertemu Allah.

Tak sedikit, anak-anak kecil dan para istri yang dipisahkan secara zhalim dengan ayah, suami atau saudara. Dipisahkan oleh tembok rasial. Dijauhkan oleh kezhaliman yang didiamkan banyak manusia. Kezhaliman yang seringnya hanya terlihat dibalik kaca televisi atau media sosial. Semoga Allah segera pertemukan kembali mereka. Dengan sebuah pertemuan yang mulia. Melalui kemenangan yang mengakhiri penjajahan dan kezhaliman yang sudah sangat lama. Seperti Farukh, ketika shalat fajar di Masjid Nabawi, atau seperti Imam Syafi’i saat kembali ke tanah kelahirannya, mengunjungi Baitul Maqdis dan mengajarkan ilmu yang didapatkan dari jejak-jejak leluhurnya. Wallahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 88

Jakarta, 08.02.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 80 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *