Dari Al-Azhar untuk Baitul Maqdis

iwishcenter.org – Hasil sidang darurat Majelis Umum PBB yang digelar pada 22 Desember 2017 lalu memang telah mempermalukan Amerika. Karena klaim presiden Donald Trump dengan menjadikan Al-Quds sebagai ibukota Israel ditentang mayoritas anggota PBB. Tapi, apakah hasil voting itu dapat menekan Trump untuk menarik pernyataannya? Apakah lantas Al-Quds terbebas dari ancaman Yahudisasi?

Secara umum, hasil sidang darurat di Majelis Umum PBB tak begitu banyak arti. Karena resolusi yang dihasilkan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, sehingga tidak bisa memaksakan penggunaan hukum internasional seperti halnya jika resolusi dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB. Namun dari sisi pertarungan opini, cara ini sudah maksimal, dan perlu untuk terus diperjuangkan.

Adalah Al-Azhar, sebuah institusi Islam ternama di dunia yang turut menentang pernyataan kontroversial Trump. Pada saat dunia merasa puas dengan hasil voting di Majelis Umum PBB sehingga melupakan perjuangan selanjutannya. Rabu, 17 Januari 2018 kemarin, bertempat di Azhar Conference Center, Al-Azhar menyelenggarakan konferensi internasional untuk membela Al-Quds dengan melibatkan 86 negara muslim.

Ada empat pembahasan di konferensi yang turut mengundang Menteri Agama Indonesia, Lukman Hakim ini, pertama, membahas posisi Al-Quds dalam sudut pandang agama-agama, kedua, menelusuri peradaban, sejarah serta kondisi terkini Al-Quds, ketiga, dampak dari Yahudisasi dan kampanye kebencian Zionis, dan keempat, membantah klaim Zionis Israel atas Al-Quds dan Palestina.

Dalam rentang waktu 1947-1988 tercatat ada 11 konferensi yang pernah digelar Al-Azhar untuk membela Al-Aqsha. Dan kali ini di konferensi ke-12, Al-Azhar kembali menegaskan pembelaannya dan mengawal Al-Quds sebagai ibukota abadi bagi Palestina.

Melalui sambutannya di konferensi internasional, Syaikhul Azhar, Dr. Ahmad Thoyyib mengatakan, konferensi ini berangkat dari penolakan terhadap pernyataan presiden AS, Donald Trump yang sepihak menjadikan Al-Quds sebagai ibukota Israel dan berencana memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv ke Al-Quds.

Yang menarik dalam pidatonya, Syaikh Ahmad Thoyyib tidak pernah menyebut kata “Israel,” namun menggantinya dengan sebutan entitas Zionis, sebagai pesan tentang siapa otak dari penjajahan selama ini. Grand Syaikh Al-Azhar ini kemudian menetapkan tahun 2018 sebagai tahun Al-Quds, dan akan memasukkan pembahasan Al-Quds ke dalam kurikulum sekolah dan kampus-kampus.

Syaikh Thoyyib juga mengkritisi media negara-negara muslim yang hanya memberitakan Palestina di momen tertentu saja, padahal tiap harinya penistaan terhadap Al-Aqsha dan penjajahan terus terjadi di sana.

Sikap Al-Azhar ini sangat perlu diapresiasi, karena ini menjadi aksi lanjutan menentang pernyataan Trump. Hal tersebut sekaligus sebagai dukungan terhadap orang-orang Palestina dalam mempertahankan Al-Quds dan masjid suci Al-Aqsha.

Trump sendiri tidak ambil pusing dengan banyaknya negara yang menentang sikapnya. Ia masih tetap dengan rencananya memindahkan kedubes AS ke Al-Quds, walaupun itu tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Presiden AS ini juga melakukan tekanan terhadap Palestina dengan memotong bantuan kepada lembaga untuk pengungsi Palestina UNRWA menjadi USD 65 juta yang sebelumnya USD 125 juta. Pemotongan memberi dampak buruk terhadap pelayanan orang-orang Palestina yang hidup di berbagai kamp pengungsian.

Amerika juga melakukan tekanan kepada Otoritas Palestina pimpinan Mahmud Abbas, karena menolak menjadikan Washington sebagai mediator dalam perundingan damai. Semua ini akibat pernyataan Trump yang memihak Zionis, sehingga Amerika tak dipercaya lagi sebagai “juru damai” dalam konflik Palestina-Israel.

Sumber foto: azhar.org

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *