Mutiara-Mutiara Surga

Penduduk surga digambarkan memiliki struktur tubuh seperti Nabi Adam yaitu 60 hasta (menurut riwayat Bukhari [no. 6227] dan Muslim [no. 2834] dari Abu Hurairah). Sedangkan usia mereka sekitar 33 tahun (menurut riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi [2545] dari Mu’adz bin Jabal). Istilah ayah, ibu, anak, cucu dan kakek bisa dibedakan secara fisik di dunia. Namun, hal tersebut tidak terjadi di akhirat. Karena, semua manusia memiliki fisik serta usia yang sebaya dan hampir sama. Uniknya, di dalam surga terdapat anak-anak kecil. Ada dua keterangan yang menyebutnya demikian. Yaitu di Surah ath-Thûr: 24 dan Surah al-Wâqi’ah: 17.

Di dalam al-Quran anak-anak kecil disebut dengan berbagai redaksi, yaitu: (ولدان) bentuk plural dari (وليد), (أولاد) bentuk plural (ولد), (غلمان) bentuk plural dari kata (غلام). Ini belum termasuk kata (بنون), (بنين) atau (بنات) dan sebagainya.

(وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ (الطور:24)

Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (Surah Ath-Thur: 24)

Kata ghilmânun lahum di atas menunjukkan isyarat bahwa anak-anak kecil yang belum baligh akan menemui kembali keluarganya yang masuk surga dan berkumpul bersama mereka. Kata ghulam single dari ghilmân biasanya digunakan untuk usia kanak-kanak menjelang remaja/baligh.

(يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ (الواقعة: 17)

Mereka dikelilingi oleh anak-anak kecil yang tetap kecil.” (Surah Al-Waqi’ah: 17)

Kata mukhalladûn setelah kata wildân mengisyaratkan mereka akan tetap menjadi anak-anak selamanya di surga. Anak-anak yang selalu menghadirkan keceriaan, kesenangan dan kebahagiaan bagi yang melihatnya. Bentuk single dari kata wildân adalah walîd yang berarti anak-anak dari sejak usia kecilnya. Diidentikkan anak kecil yang tidak berdaya atau lemah. Fir’aun pernah menyebut Nabi Musa dengan kata ini di Surah Asy-Syu’ara: 18. Juga termasuk yang dikecualikan atau mendapatkan keringanan dalam berhijrah atau berjihad fî sabîlillâh di zaman Rasulullah SAW (lihat Surah An-Nisa’: 35).

Maka, anak-anak kecil yang meninggal dunia pada hakikatnya merupakan tabungan bagi keluarganya, khususnya kedua orang tuanya. Anak-anak yang sudah lama dinantikan hadir di tengah keluarga, namun kemudian harapan itu sirna, tentu perih rasanya. Anak-anak kecil ceria yang menjadi pelipur lara dan pengibur orang tua di saat lelah dengan pekerjaan dan beban-beban hidup, tiba-tiba menghilang. Wajah-wajah yang menyajikan senyum dan tawa lebar tiba-tiba membuat rumah senyap, tentu berat bagi yang mengalaminya. Kehilangan mutiara-mutiara kehidupan itu berat dan sedih dirasa.

Itulah gambaran-gambaran kepedihan yang dialami oleh orang-orang yang kehilangan anaknya. Baik kehilangan karena belum sempat menatap dunia, atau karena sakit, atau karena kecelakaan, atau karena bencana alam atau pun sebab-sebab lainnya. Sedih yang tak  terbayangkan. Karena semua manusia yang normal sangat menyukai kehadiran anak-anak kecil. Keceriaan dan wajah lucunya menghias dan meramaikan suasana.

Lalu bagaimana jika anak-anak kecil itu hilang dari kehidupan keluarganya karena bencana kezhaliman dan peperangan yang dilakukan sesama manusia. Suriah, Iraq, Rakhine, Afghanistan, Somalia atau kejadian-kejadian lainnya yang berskala kecil sampai masif. Tetap saja menghadirkan luka di atas duka. Duka yang membuat luka semakin menganga. Lebar seolah tiada lagi ada yang sanggup menutup dan merajutnya, mengusir penderitaan dengan menghadirkan kebahagiaan.

Maka, jangan tanyakan tentang Palestina. Bahkan anak-anak kecil di sana sudah hilang urat takutnya. Mata-mata mereka tak lagi mengeluarkan air. Sedih, marah atau kecewa tak lagi bisa dibedakan. Waktu menangis ibu dan kakak mereka juga tak banyak. Karena kezhaliman sudah menjadi tayangan reguler harian. Kezhaliman seperti pertunjukan yang hanya ditonton, namun tak bisa dihentikan.

Jika ingin menjumpai mereka, temui mereka di surga. Dapatkan kembali mutiara-mutiara kehidupan yang hilang. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 89

Jakarta, 15.02.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 95 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *