Cinta dan Pengkhianatan

source: http://www.lokerseni.web.id

Persiapan Rasulullah SAW untuk menaklukkan kota Mekah (Fathu Makkah) dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Sahabat beliau, Abu Bakar bahkan sampai tak diberitahu. Hanya pasukan khusus dari kaum muslimin yang mengetahui rencana ini. Di antara orang tersebut adalah Hatib bin abi Balta’ah. Namun, sayangnya Hatib justru bermaksud membocorkan rencana Rasulullah SAW kepada kaum Quraisy.

Hatib bin Abi Balta’ah berkirim surat untuk memberitahu mereka tentang hal itu. Surat tersebut dikirim melalui seorang wanita yang menuju Mekah.

Allah SWT turunkan wahyu kepada Rasulullah SAW perihal bocornya rencana tersebut. Beliau segera memanggil Ali, Zubair dan Miqdad dan memerintahkan untuk menyusul perempuan yang dimaksud.

Setelah mereka menjumpainya, Ali segera menginterogasinya. “Keluarlanlah surat itu!”

Ia menjawab “Surat apa, saya tidak membawa surat apapun”

Mereka bertiga lebih tegas mengatakan, “Betul kamu tidak membawa surat apap pun! Kamu mau berikan surat itu atau kami akan tanggalkan pakaianmu!”.

Akhirnya perempuan itu  pun mengeluarkan surat dari sanggulnya.

Di depan Rasulullah SAW surat dari Hatib dibacakan. Rasulullah SAW, dengan suara berat mengatakan, “Wahai Hatib! Apa yang telah kamu lakukan?”

Hatib menjawab ,“Wahai Rasulullah! Janganlah Engkau tergesa-gesa menuduh. Sesungguhnya aku seorang yang sangat dekat hubungannya dengan Quraisy dan aku bukankah orang yang terbaik di antara mereka, dan di antara orang yang bersamamu dari Muhâjirîn. Mereka mempunyai kaum kerabat dan mereka ingin menjaga keluarga serta harta mereka. Maka aku adalah seorang yang ingin memelihara kerabatku. Aku tidak melakukan hal ini karena memusuhimu, atau karena kafir dan murtad dari Islam.”

Umar pun bermaksud membunuh Hatib karena pengkhianatannya, tapi Rasulullah SAW memaafkannya. Allah pun menurunkan Surat al-Mumtahanah untuk memperingatkan kaum muslimin.

*****

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
” (QS. Al-Anfâl: 27)

Allah melarang kaum beriman untuk terjebak dalam pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dilarang untuk mengkhianati setiap amanah yang diberikan kepada mereka. Jika targetnya adalah menghindari pengkhianatan terbesar kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, Allah membimbing umat ini untuk mengetahui potensi sekaligus menjadi salah satu sebab terjadinya pengkhianatan. Ayat selanjutnya menyebutkan, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Penyebutan, harta (amwâl) dan anak-anak (aulâd) setelah warning di atas, tentu memiliki maksud. Agar umat ini berhati-hati dalam berinteraksi dengan keduanya. Keduanya merupakan perhiasan hidup manusia di dunia. Mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang sangat natural dan normal. Namun, keduanya berpotensi menjadi hal yang membahayakan jika tidak dididik dan dibiasakan dalam kebaikan. Maka, di saat harta dan anak-anak menjauhkan dari Allah dan Rasul-Nya itulah yang disebut pengkhianatan.

Kisah Hatib di atas, mengisyaratkan bahwa seseorang bisa saja terjebak pengkhianatan secara tak sadar. Kadarnya pun bisa meningkat hingga paling berbahaya, seperti peringatan Allah dalam surah al-Anfâl.

Maka, diperlukan seni mencintai harta dan anak-anak agar tidak menjebak pada pengkhianatan. Anak-anak perlu dididik bahwa harta adalah amanah sekaligus sarana. Keduanya harus berujung dan berpangkal baik. Didapatkan dari cara halal, kemudian dikelola dan disalurkan dengan baik. Anak-anak mesti diyakinkan bahwa yang memberi rizki adalah Allah, sedangkan orang tuanya hanya berusaha menyalurkan kepada anak-anak. Kikir dan sombong perlu dikikis sedemikian rupa, dengan meringankan tangan untuk menyalurkannya ke berbagai proyek-proyek kebaikan. Itulah solusi yang Allah berikan setelah memberikan warning di QS. at-Thaghabun ayat 14-15. Pada ayat ke 16, Allah memberikan solusinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan berinfaklah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Baik dalam surah al-Anfal maupun at-Taghabun Allah memberi solusi pencegahan dalam mencintai anak dan harta, yaitu ketakwaan dan berinfak. Saatnya di rumah-rumah kita ada tabung-tabung solidaritas, khususnya bagi Palestina, kemudian ada tabung infak kemanusiaan lainnya, selain tabungan yang kita biasakan untuk anak-anak belajar berhemat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 90

Jakarta, 23.02.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 69 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *