Siklus Peradaban Manusia

 “Hari-hari sulit akan melahirkan para pahlawan. Para pahlawan membuat perubahan dan menghasilkan kemakmuran. Kemakmuran dan kemewahan melahirkan orang-orang manja. Orang-orang manja membuat hari-hari menjadi sulit

(Abdurrahman Ibnu Khaldun, w. 19.03.1406 M)

Hari-hari ini adalah hari yang sulit bagi umat Islam. Hampir setiap hari terbaca dan terdengar berita tak mengenakkan di berbagai media mainstream tentang umat Islam. Dari sejak stigma negatif, ketertinggalan di berbagai sektor kehidupan, hingga carut marutnya politik dan ekonomi. Terlebih jika dikaitkan dengan momen dan menilik lini masa sejarah masa lalu.

Di bulan ini, ada sejarah pilu umat Islam untuk dikenang. Tepatnya, 3 Maret 1924 M ketika lonceng pupus dan runtuhnya Turki Usmaniy, yaitu ketika secara resmi jabatan khalifah sebagai pimpinan tertinggi umat Islam dihapuskan. Berakhirlah kisah tentang Daulah Usmaniyyah setelah berdiri mengayomi jutaan kaum muslimin dan berkhidmah serta memberikan kontribusi membangun peradaban manusia lebih dari enam abad lamanya. Ada banyak kisah di baliknya. Selain ada berbagai faktor internal yang melatari keruntuhan ini, terdapat konspirasi global yang menjatuhkannya. Dimulai dari permintaan Zionis Internasional yang meminta fasilitas tanah Palestina untuk mewujudkan mimpi mereka, berdirinya Negara Yahudi. Permintaan kepada Sultan Abdulhamid ini ditolak mentah-mentah. Maka, waktu bertutur mundur, menghitung satu demi satu rencana busuk terhadap sultan dan kekhilafahan ini.

Terdapat rincian yang detail tentang kejadian pahit tersebut. Sebaiknya, lebih bijak sekedar dijadikan spion untuk sedikit menengok masa lalu. Bersiaplah membangun masa depan yang serba misteri bagi siapa saja.

Tokoh yang wafat di bulan ini pun, bisa kita highlight pernyataannya tentang siklus peradaban. Hari-hari sulit yang dihadapi umat saat ini –biidznillah– akan segera melahirkan para pahlawan.

****

Hari-hari sulit di masa lalu bagi bangsa Mesir di tengah pacekliknya, memunculkan Yusuf dengan perubahan signifikan. Swadaya dan swasembada pangan kemudian menjadikan mereka supplier dan penolong bagi negara-negara tetangganya. Yusuf datang tidak tiba-tiba, ia sudah lebih dulu ditempa dengan berbagai kesulitan sebelum bangsa Mesir mengalaminya bersama-sama. Yusuf pun bermodalkan benda-benda, istana, orang-orang yang sama. Bahkan di antara mereka terdapat nara pidana yang diabaikan dan tak dianggap masyarakat. Dengan keimanan dan kecerdasan manajemennya, krisis berubah menjadi kejayaan

****

Hari-hari sulit Bani Israel, di tengah kebijakan zhalim Fir’aun yang mengeksekusi ribuan bayi lelaki, Allah munculkan Musa. Lalu, ia dikirim ke pusat kezhaliman, diistana Fir’aun. Rasa berhutang budi serta kesalahan yang pernah dibuatnya tak membuatnya bisa dibungkam. Bani Israilpun diselamatkan Allah dengan kemenangan.

Hari-hari sulit Bani Israil berlanjut, Jalut yang menakutkan dengan bala tentaranya yang sama-sama kejam. Bani Israil enggan memenuhi ajakan Raja Thalut untuk membangun pasukan kuat melawan Jalut. Maka mereka dibuat malu, Allah mengirimkan seorang Dawud kecil untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Jalut tewas di tangan Dawud kecil, dengan sebuah batu kecil saja. Lalu, Dawud pun mewarisi kerajaan Thalut, membangun kejayaan dan kemakmuran untuk rakyatnya.

****

Krisis kemanusiaan, pertikaian antara Aus dan Khazraj di kota Yatsrib yang berkepanjangan dan menahun tak kunjung usai. Allah kirimkan Nabi Muhammad SAW yang dengan singkat mengakhiri peperangan dan perseteruan yang tak perlu tersebut. Mereka digabung dan dipersaudarakan bersama kaum muhajirin. Negara baru dengan ruh baru, disegani oleh berbagai kekuatan yang sudah eksis terlebih dahulu. Pelan dan pasti, kekuatan-kekuatan besar seperti Persia dan Romawi bahkan akhirnya tunduk dan takluk kepada pengikutnya.

Karena, setelah gelap gulita dan pekatnya malam, fajar akan segera menyingsing. Sinar mentari mengikuti putaran waktu menghadirkan semangat bagi para manusia yang bersyukur. Bersama alam, hadirkan kesyukuran datangnya nafas baru. Bernafaslah bersama sumpah Allah, “Demi waktu subuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18). WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 92

Jakarta, 08.03.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *