Israel, Berdiri di Atas Rasisme dan Apartheid

Kata “apartheid” belakangan ini makin mengemuka dalam berita internasional di sekitar kita. Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana apartheid ini pernah terjadi di negara Afrika Selatan. Sebuah negeri berpenduduk asli kulit hitam yang mengalami diskriminasi dari penduduk berkulit putih yang notabene adalah pendatang. Sistem apartheid telah membelah negara tersebut atas nama ras dan kedudukannya atas nama hukum. Setelah perjuangan selama bertahun-tahun, pada tahun 1990 sistem ini berhasil dihilangkan.

Pada abad 21 ini aura apartheid muncul kembali dengan sangat kuat di Palestina. Lebih lama dan lebih besar daya rusaknya dibanding yang terjadi di Afrika Selatan. Dimulai sejak hadirnya gelombang pengungsi Yahudi pada awal tahun 1900 ke tanah Palestina. Orang-orang Arab Palestina pun menyambut para pengungsi Yahudi ini atas dasar kemanusiaan. Tidak ada dalam benak orang-orang Palestina, para pengungsi ini di masa depan akan merampok tanah mereka.

Maka gelombang imigran pengungsi ini pun datang tanpa terbendung. Melakukan provokasi, merebut rumah dan puncaknya pada tanggal 15 Mei 1948 terjadi pengusiran besar-besaran penduduk Palestina keluar dari tanah air mereka, yang disebut juga dengan peristiwa Nakba. Sebuah penjajahan dan aksi rasisme yang tidak pernah terjadi di belahan bumi lainnya.

Ini merupakan nasib buruk dari 10 juta orang Kristen dan Muslim Palestina selama 70 tahun terakhir. Mereka dipaksa tinggal di tenda pengungsian di negara mereka sendiri dan juga di negara-negara tetangga, dan kehilangan hak asasi manusia untuk hidup bermartabat di tanah kelahiran mereka.

Wartawan dan penulis David Hirst telah menggambarkan kehidupan di tenda-tenda pengungsian dengan jelas: “Gubuk reot, atap timah atau besi bergelombang ditindih dengan batu untuk menghentikan mereka tertiup angin, lalat, bau binatang dan kotoran, antrian panjang wanita meminta nasi, tepung atau bahan bakar; dengan wajah kosong, kelelahan bertahun-tahun membawa air dan beban berat, bersama anak-anak dengan raut muka sendu dan kotor.

Salah satu aksi rasisme yang sangat fenomenal dari pemerintah Zionis Israel adalah dengan pembangunan tembok pembatas. Dibangun sejak tahun 2002, tinggi 8 meter dan panjang 710 km. Tembok ini membelah desa dan kota di Palestina. Memisahkan mereka dari keluarga, sekolah, kebun rumah sakit dan tempat kerjanya.

Zionis Israel secara sistematis menggunakan aksi militer dan UU illegal untuk mendukung aksi apartheid ini. Penangkapan, isolasi, pengusiran dan penghancuran rumah menjadi rutinitas setiap hari. Menjadikan Zionis Israel sebagai entitas yang berdiri atas ideologi apartheid dan darah orang-orang Palestina.

Inilah saatnya bagi dunia untuk untuk menolak keberadaan Zionis Israel sebagai anggota sah dari dunia Internasional. Sebagaimana dulu dunia Internasional memboikot dan mengecam apartheid di Afrika Selatan.

Perdana Menteri Israel yang pertama, David Ben Gurion, mengatakan pada tahun 1948: “Kita harus melakukan segalanya untuk memastikan bahwa orang-orang Palestina tidak akan pernah kembali.” Memberikan janji kepada Yahudi Zionis bahwa orang-orang Palestina tidak akan pernah kembali ke rumah mereka. Dia mengklaim bahwa, “Orang tua akan mati dan anak muda akan lupa.”

Andai Ben Gurion ada hari ini,  maka ia akan menyaksikan bahwa generasi muda Palestina belum lupa. Orang-orang yang mencintai keadilan di seluruh dunia pun tidak akan melupakan malapetaka yang menimpa pada orang-orang Palestina. Bahwa apartheid dan penjajahan atas Palestina akan berakhir.

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *