Pengungsi, Korban Terorisme

 “We can’t help everyone, but everyone can help someone” (Ronald Reagan)

Pernah merasakan delay penerbangan? Atau transit yang panjang di tengah perjalanan? Atau penerbangan ditunda karena overbook? Sungguh tak nyaman, pastinya. Hal-hal ini tak seberapa jika dibandingkan dengan ketidaknyamanan yang dialami para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.

Belakangan, dunia sibuk membicarakan terorisme dan perang melawan terorisme. Porsi perbincangan yang demikian besar sampai mengurangi kerja-kerja nyata meringankan para korban terorisme, yaitu para pengungsi. Para pengungsi akibat bencana alam, biasanya tak sampai membuat mereka meninggalkan tanah airnya. Meskipun tak ringan dalam menangani mereka, namun -secara umum- recoverynya berjalan baik. Namun, para pengungsi akibat konflik bersenjata dan peperangan, jauh lebih berat menanganinya.

Jika menilik Konvensi Internasional tahun 1951 tentang pengungsi, bahwa yang dimaksud “refugee” (pengungsi) adalah,”orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.”

Data UNHCR tahun 2016 menyebutkan jumlah mereka melebihi angka 65 juta jiwa, atau naik 10 juta lebih dari tahun sebelumnya. Itu artinya, satu dari setiap 113 orang di dunia adalah pengungsi atau pindah secara paksa dari negaranya; atau setiap tiga detik, terdapat satu orang yang “terpaksa” menjadi pengungsi.

Beberapa tahun ini Suriah menjadi penyumbang terbesar bertambahnya angka pengungsi, karena konflik di negara itu berkepanjangan. Di beberapa tempat –bahkan– para pengungsi ada yang sudah sampai tiga generasi, karena mereka benar-benar tak bisa kembali ke tempat asal. Rakyat Palestina yang terusir dari negaranya sejak 1948, hampir semua tak bisa kembali ke tanah air mereka yang dirampas. Pada hari kelam tersebut, lebih dari 50% penduduk Palestina terusir. Lebih dari satu juta orang dipaksa keluar dari Palestina. Peristiwa ini dikenal dengan yaum an-nakbah. Kini jumlah pengungsi Palestina yang terdata resmi di UNRWA per 1 Juni 2017 adalah 5.869.733 jiwa, sebagian besar berada di negara tetangga mereka Yordania, kemudian di Gaza yang sudah terisolasi hampir satu dasawarsa lamanya.

Mengharapkan dunia yang tenang tanpa peperangan adalah keinginan sebagian besar manusia. Namun, keinginan mulia tersebut dikalahkan oleh ambisi dan syahwat sebagian kecil manusia yang bersenyawa menjadi setan yang mengubah pribadi manusia yang seharusnya mulia, menjadi lebih buruk dari binatang.

Bencana besar bagi kemanusiaan adalah saat terjadi hilangnya kepedulian dan persatuan menghadapi kezhaliman. Dan kerugiaan terbesar manusia dalam melawan waktu adalah dengan menyia-nyiakan peluang dan potensi kebaikan yang Allah sediakan. Dalam surah al-‘Ashr setiap manusia terancam kerugian karena salah mempersepsikan dan menggunakan waktu. Mereka yang menyatu dalam group value kebaikan yang bisa terhindar dari kerugian tersebut. Beriman, beramal baik secara bersama-sama dan masif, kemudian terus saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebaliknya, jika sabar menguap, baik karena para penasihat bosan menasehati dan orang-orang enggan mendengarkan kritikan dan nasehat (hilangnya tawashau bi ash-shabr), pertanda keangkuhan sedang mencengkeram. Cengkraman keangkuhan berakibat tiada lagi nasihat-nasihat kebenaran (lenyapnya tawashau bi al-haqq), berganti puja-puji para penjilat atau caci-maki orang-orang bodoh. Jika itu terjadi, orang-orang akan lebih sibuk bicara daripada berbuat baik (sedikitnya amal shalih), dusta akan mewabah dan kebohongan terus dibangga-banggakan. Jika hal-hal tersebut merajalela, maka iman dan keyakinan akan menipis dan kemudian hilang. Tiada lagi yang tersisa kecuali kerugian besar dan penyesalan.

Waktu kita tak banyak, karena terbatas. Solusi terbaik yang Allah berikan dalam Surah al-‘Ashr, tinggal kita laksanakan. Mengajak sebanyak mungkin orang-orang percaya dan beriman untuk berbuat baik dan saling menasehati. Kezhaliman pasti tumbang, digantikan cinta dan kasih sayang. Dan saat itu terjadi, tiada lagi orang-orang yang terasing dari negeri mereka. Bersatu, selamatkan para pengungsi dan hentikan -segera- berbagai jenis kezhaliman di muka bumi ini. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 93

Jakarta, 17.03.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 57 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *