Melampaui Keterbatasan Fisik

 “Inilah jalan yang kami pilih dan akan berujung pada satu dari dua pilihan;
menang dengan kebebasan atau gugur sebagai syuhada”

(Ahmad Yasin)

Dua hari yang lalu pada 22 Maret adalah tepat 14 tahun gugurnya seorang simbol perlawanan Bangsa Palestina. Simbol kegigihan dan pantang menyerah, Syekh Ahmad Yasin. Beliau gugur sebagai syahid setelah melewati bertahun-tahun membakar semangat putra-putri Palestina untuk tidak menyerah memperjuangkan kemerdekaannya, mengakhiri penjajahan dan kezhaliman serta selalu menjaga  Masjid al-Aqsha dari berbagai penistaan dan ancaman.

Kurang lebih sepekan sebelumnya, 14 Maret 2018 seorang fisikawan terkemuka Stephen Hawking juga menghembuskan nafasnya, menandai akhir kehidupannya, setelah puluhan tahun mematahkan vonis medis yang menyatakan akhir kehidupannya di saat ia masih muda, dahulu.

Ahmad Yasin, sejak berusia 16 tahun ia lumpuh dan menjalani hidupnya dengan keterbatasan fisik. Demikian halnya Hawking, sejak ia berusia 21 tahun juga lumpuh, kemudian menjalani sisa hidupnya dengan ketidakberdayaan fisik. Namun, keduanya tidaklah menjadi pesakitan. Keduanya melompati batas-batas ketidakberdayaan fisik. Keduanya terbang dengan idealisme dan cita-citanya masing-masing. Memang benar, secara ideologis keduanya bertentangan. Ahmad Yasin, seorang muslim yang termotivasi keyakinan dan imannya; sedang Hawking, seorang atheis yang tak mempercayai adanya Tuhan, ia tetap termotivasi dengan humanismenya sebagai manusia.

Dari keduanya, dunia belajar melawan ketidakberdayaan dan keterbatasan fisik. Hawking termotivasi melawan vonis medis dan menjejaki mimpi-mimpi serta cita-citanya. Ia menjelma menjadi rujukan penting secara saintifik dalam bidang fisika, dengan teori kosmologinya.

Sedangkan, Ahmad Yasin bukan sekedar melawan ketidakberdayaan fisiknya, namun ia menjadi simbol kuat perlawanan bangsanya yang terjajah. Kondisi fisiknya yang sangat lemah tak menjadikannya absen dalam perlawanan. Justru dialah yang menyulut dan terus mempertahankan perjuangan melawan penjajahan.

Hawking, bersama keterbatasan fisiknya sudah terpendam di dalam tanah, tapi dunia termotivasi perlawanannya terhadap keterbatasannya tersebut. Dunia bahkan sangat menghormati teori-teorinya. Jejak-jejak saintifiknya terekam di lini masa sejarah manusia.

Demikian halnya Syeikh Ahmad Yasin, berdarah-darah jasadnya saat ajal menjemputnya. Terbunuh oleh kepengecutan yang dipuja-puja para durjana. Tubuhnya yang ringkih itu bahkan harus dihujani rudal supermahal dari kendaraan yang juga berharga mahal. Musuh-musuhnya mengira kematiannya menyudahi perannya semasa hidup. Sepeninggalnya, ruh perlawanan terus menggelora di setiap sudut-sudut hati bangsa Palestina. Bahkan, sampai-sampai anak-anak kecil dan para perempuan menjelma menjadi pejuang-pejuang gigih yang tak takut resiko perjuangan, meraih kemerdekaan dan mengembalikan kebebasan.

Jika hari ini banyak manusia yang utuh secara fisik, sehat badannya, bahkan mendapatkan berbagai fasilitas kehidupan yang mapan, namun  berjiwa kerdil maka seharusnya malu pada mereka berdua.

Jika ada orang-orang yang sehat dan sempurna fisiknya, tapi merelakan dirinya dijajah oleh syahwat dunia dan ambisi materi, maka seharusnya mereka malu pada mereka berdua.

Jika ada orang-orang yang berbadan sehat, tapi diam saja melihat kezhaliman dan penjajahan terhadap dirinya, maka mereka sudah menjadi mayat-mayat hidup sebelum matinya. Dan orang-orang yang mendiamkan kezhaliman tersebut terjadi tanpa ada rasa keterpanggilan menyingkirkannya, maka kebaikan telah benar-benar mati dalam dirinya.

Maka, sebaik-baik kondisi mempertahankan motivasi untuk melawan keterbatasan-keterbatasan adalah dengan membersamai para pejuang dan membaca kisah-kisah perjuangan. Kebaikan dan kebenaran takkan pernah menyerah, selama berada di dalam hati para pejuang. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 94

Jakarta, 24.03.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 93 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *