Hari Bumi untuk Siapa?

Masyarakat dunia mengenal hari bumi pada bulan April, karena pada bulan diperingati sebagai hari bumi sedunia. Sejarah mencatat, peringatan Hari Bumi (Earth Day) diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.

Saat itu jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam perusakan terhadap bumi. Majalah Time memperkirakan bahwa jumlah massa yang turun ke jalan pada demonstrasi tersebut mencapai sekitar 20 juta. Momen ini lalu dijadikan sebagai peringatan hari bumi sedunia. Hari Bumi kemudian menjadi sebuah gerakan global yang mendunia. Pelaksanaannya di seluruh dunia dikordinasi oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba beranggotakan berbagai LSM di seluruh dunia.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret, ketika matahari tepat diatas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang Bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

*****

Baik PBB maupun para aktivis lingkungan yang menggagas hari bumi di atas, dengan tanggal yang berbeda, tentunya tak sama dengan hari bumi di Palestina. Sejak terjadi perampasan aset dan tanah Palestina pada tahun 1948, tak sedikit penduduk asli Palestina kehilangan tempat tinggalnya. Hal tersebut terjadi secara sistematis dan terprogram oleh para penjajah Bangsa Palestina yang menduduki tanah suci tersebut secara ilegal. Tercatat sejak tahun 1948 hingga 1972 ada 1 juta hektar tanah milik rakyat Palestina yang berhasil dirampas Israel. Kondisi buruk ini terus meningkat di setiap tahunnya, Israel tanpa henti memperluasan wilayah tanah jajahan mereka.

Akumulasi dari segala kezhaliman dan perampasan tanah (land grab) tersebut terjadi di tahun 1976, yang mencapai klimaksnya pada hari Sabtu, 30 Maret 1976. Rakyat Palestina bersatu padu melakukan perlawanan. Mereka menuntut dikembalikannya tanah mereka yang dirampas. Beragam aksi dilakukan, seperti aksi mogok massal dan demonstrasi turun ke jalan.

Aksi massa ini direspon secara brutal oleh Israel. Pasukan bersenjata Israel memmuntahkan timah panas kea rah para demonstran. Sedikitnya 6 orang gugur dalam peristiwa itu, dan puluhan lainnya terluka, serta lebih dari 300 orang ditangkap.

Pada Jumat 30 Maret 2018kemarin, ribuan rakyat Palestina mulai anak-anak, wanita hingga dewasa, berunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza. Ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bumi Palestina dengan mengangkat tema “Great March Return”. Para pengunjuk rasa memiliki dua tuntutan utama yaitu hak kembali ke kampung halaman bagi rakyat Palestina yang terusir sejak 1948 dan mengakhiri blokade terhadap Jalur Gaza.

Sebagaimana 42 tahun silam, kali ini respon Israel pun tak kalah brutal. Bom gas air mata dan timah-timah panas dimuntahkan ke arah para pengunjuk rasa yang sering terstigma negatif sebagai teroris dan melakukan tindakan melawan hukum. Otoritas Kesehatan Palestina menyebutkan, sebagaimana diberitakan oleh Ma’an News Agency (https://www.maannews.com/), 17 orang meninggal dunia dan 1416 lainnya terluka akibat serangan zionis tersebut.Dunia internasional kali ini kembali bungkam, sesekali terdengar kecaman yang tidak berdampak besar. Demikian juga PBB tetap saja tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan kebrutalan tak manusiawi dan kezhaliman yang nampak jelas yang disaksikan milyaran manusia di planet ini.

Jika para pecinta lingkungan menyuarakan hari bumi sebagai perlawanan mereka terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi secara global, maka seharusnya penduduk dunia lebih bersuara ketika land grab (perampasan tanah) dilakukan oleh sebuah negara secara terstruktur dan penuh kezhaliman. Berikan bangsa Palestina hak kembali (right to return) dan segera akhiri blokade terhadap mereka.

Wahai para pecinta bumi, mana suaramu di Hari Bumi? Akhiri kezhaliman, sekarang juga. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 95

Jakarta, 31.03.2018

SAIFUL BAHRI

(Visited 51 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *