Hak Pulang yang Dirampas

Dalam Resolusi PBB no. 194 tahun 1948 secara umum disebutkan, mereka yang mengungsi harus diizinkan untuk kembali ke rumahnya dan hidup damai dengan para tetangga. Disamping itu mereka juga berhak mendapatkan ganti rugi dari harta benda yang dirusak atau hilang selama ditinggalkan, sesuai dengan hukum Internasional dan standar keadilan.

Isi resolusi di atas berkaitan dengan nasib bangsa Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya dalam peristiwa Nakbah, 15 Mei 1948, atau tujuh bulan sebelum PBB mengeluarkan resolusi no.194. Sebenarnya rakyat Palestina yang terusir memiliki kekuatan hukum untuk kembali ke kampung halamannya. Namun dalam perjalanannya, sejak tahun 1948, ada jutaan rakyat Palestina yang tak diizinkan kembali, sehingga hidupnya terkatung-katung di kamp pengungsian. Penjajah Israel pun tak pernah mematuhi resolusi yang dikeluarkan beberapa saat sebelumnya berakhirnya perang Arab-Israel ini.

Puncak dari itu semua terjadi pada tahun 1976, tepatnya tanggal 30 Maret yang kemudian dikenal dengan hari bumi. Ketika kebijakan penjajah Israel semakin menggila, merampas tanah rakyat Palestina secara semena-mena. Bumi dalam konteks ini adalah tempat tinggal. Hari bumi bagi orang Palestina artinya memperingati dirampasnya tanah mereka dan melakukan upaya untuk mendapatkannya kembali. Tercatat hingga kini ada 5,5 juta pengungsi Palestina yang terdaftar di UNRWA, mereka bertahan hidup di kamp-kamp pengungsian yang ada di Jalur Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah dan Yordania.

Gerakan Pulang

Terhitung sejak tahun 1976, sudah 42 kali peringatan hari bumi dilakukan oleh rakyat Palestina. Dan yang paling menyita perhatian adalah “gerakan pulang” yang digelar pada tahun 2018 ini. Ada tiga alasan mengapa aksi kali ini menjadi lebih heroik. Pertama, aksi yang melibatkan ribuan rakyat sipil Palestina ini melakukan gerakan serentak mendekati titik terdekat wilayah pendudukan Israel. Terutama di perbatasan wilayah Jalur Gaza. Seperti di Bait Hanun, Kota Gaza, Al-Buraij, Khan Yunis dan Rafah.

Sumber Maan News melaporkan, jumlah demonstran yang turut dalam aksi pada tanggal 30 Maret 2018 kemarin sebanyak 17.000 orang. Mereka melakukan aksi tersebut secara damai di perbatasan tanpa membawa senjata apapun. Tetapi penjajah Israel justru menghadapinya dengan tank-tank militer dengan 1.000 tentara. Tak kurang dari 100 penembak jitu juga disiapkan untuk membidik acak para pengunjuk rasa. Korbannya, 17 orang demonstran gugur dalam aksi itu, dan yang terluka mencapai 1.500 orang.

Alasan kedua, demonstrasi massal ini akan yang menjadi terpanjang dalam sejarah peringatan hari bumi. Dimulai tanggal 30 Maret berakhir tanggal 15 Mei 2018, bertepatan dengan peringatan hari Nakbah (malapetaka), yaitu hari di saat orang-orang Palestina diusir penjajah Israel dari tanah kelahirannya pada perang 1948.

Alasan ketiga terkait dengan agenda presiden Amerika Donald Trump yang akan memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv ke kota Al-Quds. Ide gila ini jelas menyulut kemarahan warga Palestina dan dunia, karena sama artinya dengan mengakui kota Al-Quds sebagai ibukota Israel, sekaligus deklarasi dukungan AS terhadap penjajah. Rencananya, pemindahan kedubes tersebut akan dilangsungkan pada tanggal 14 Mei 2018 bertepatan dengan peringatan 70 tahun berdirinya “negara Israel.”

Amat disayangkan PBB sebagai organisasi dunia yang bekerja untuk perdamaian tidak dapat bertindak apa-apa. Dalam skup DK PBB, sebuah resolusi yang digulirkan oleh Kuwait digagalkan oleh Amerika selaku anggota yang memiliki hak veto. Kuwait sebagai satu-satunya negara Arab yang menjadi anggota Dewan Keamanan akhirnya gagal menuntut adanya penyidikan terhadap tentara Israel yang menembaki demonstran yang tidak bersenjata di perbatasan.

Kondisi ini menunjukkan memang tak ada pilihan lain bagi rakyat Palestina selain berjuang sendiri untuk mendapatkan haknya. Dengan beragam keterbatasan, mereka tetap optimis pada saatnya nanti dapat pulang ke tanah kelahiran, walaupun nyawa yang harus jadi taruhan. (Muhammad Syarief)

 

(Visited 57 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *