Zionisme dan Berdirinya Negara Israel (Bagian 2)

Oleh: Dyna Fitria, S.Si

Sejarah Lahirnya Zionisme

Berdasarkan rentetan sejarah yang dilalui oleh kaum Yahudi dapat dipastikan bahwa pada hakikatnya gerakan ini telah ada sebelum yang dikenal sekarang. Sejarah cikal bakal munculnya zonisme bahkan sudah dimulai kurang lebih 4000 tahun sebelum masehi. Pada masa itu dikisahkan, di kota Ur di tanah Khalda hidup seorang laki-laki yang bernama Terah atau Azar. Lelaki tersebut memiliki tiga orang putra yaitu Ibrahim, Nahor dan Haran [11]. Terah atau Azar adalah ahli pembuat patung  yang terbuat dari batu dan tanah liat. Patung-patung tersebut diperjualbelikan ke seluruh negeri. Pada saat nabi Ibrahim AS dilahirkan tahun 2018 sebelum masehi, pembatan dan penyembahan patung sangat meningkat.

Nabi Ibrahim AS yang beranjak dewasa menentang penyembahan terhadap patung dan menyeru ayahnya untuk menyembah Allah. Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung yang dibuat oleh ayahnya dan menyisakan sebuah patung yang paling besar. Agar sang ayah berpikir jika patung yang paling besar tidak mungkin menghancurkan patung-patung yang kecil, bagaimana mungkin patung dapat berbuat apa-apa dan mengapa harus disembah? Nabi Ibrahim meyakinkan ayahnya untuk menyembah Allah, yang kuasa menghidupkan dan mematikan semua makhluk, mengaur siang dan malam, medatangkan hujan, dan menyuburkan tanah. Rabb dari seluruh alam semesta, pencipta langit dan bumi.

Penentangan Nabi Ibrahim tersebut kemudian sampai kepada raja Namrud. Raja Namrud kemudian memerintahkan untuk membakar nabi Ibrahim. Namun nabi Ibrahim tidak terbakar. Hal tersebut membuat raja Namrud murka. Kemudian, Nabi Ibrahim bersama istrinya sarah dan anaknya Luth meninggalkan kampung halamannya menuju suatu daerah yang tidak menentu. Pengembaraan yang dilakukan nabi Ibrahim beserta keluarganya akhirnya membuatnya sampai ke tanah Palestina atau yang disebut dengan tanah Kan’an [12].

Suku-suku yang mendiami Kan’an atau Palestina pada saat nabi Ibrahim tiba diantaranya suku Kananit, Moabit, Amelekit dan Amorit. Mereka inilah yang memberi istilah ibri yang berarti seberang [12]. Arti lain dari kata Ibri atau Ibrani adalah memotong jalan, menyebrangi lembah, menyebrangi sungai atau memotong jalan pendek. Kalimat Ibri atau Ibrani berasal dari kata “Abara” , tiga huruf, yang berarti bertukar-tukar-tempat atau berpindah. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik atau kebiasaan para penghuni padang pasir pada saat itu [3]

Pada tahun 1918 SM, nabi Ibrahim memperoleh anak dari isterinya Sarah yang diberi nama Ishak. Kemudian dari isterinya Siti Hajar bernama Ismail. Anak keturunan dari Sarah inilah yang nantinya melahirkan seorang anak yang diberi nama Ya’qub. Keturunan Ya’qub yang kemudian tersebar ke penjuru Palestina hingga ke Mesir dengan sebutan Bani Israel[12].

Suku Bani Israel yang berada di Mesir semakin berkembang. Hal tersebut cukup mengkhawatirkan bagi penduduk Mesir. Raja Mesir akhirnya memutuskan agar orang-orang Israel dijadikan hamba sahaya.

Perputaran masa silih berganti membuat jumlah kaum bani Israel semakin bertambah.Sehingga Raja Mesir kemudian membuat sebuah pengumuman unuk membuang setiap anak laki-laki yang lahir. Pada saat Raja Ramses II atau yang dikenal dengan Fir’aun berkuasa, lahilah seorang bayi laki-laki dari orang tua yang bernama Imran [13].

Bayi laki-laki itu adalah nabi Musa AS. Nabi Musa yang dihanyutkan di sungai Nil selamat dan dipelihara oleh Asiyah istri Fir’aun. Setelah dewasa, nabi Musa dan kaumnya keluar dari Mesir menuju Palestina. Namun  nabi Musa AS tidak sampai dan meninggal dunia, demikian juga saudaranya Harun.

Adapun yang membawa kaum Israel ke Palestina adalah Yusya bin Nun. Yusya diwasiatkan oleh nabi Musa AS untuk memimpin kaumnya masuk ke Palestina melalui timur laut sungai Yordan dan menyebrangi sungai itu memasuki kota Ariha. Bani Israil menyerbu wilayah Areha dan membunuh siapa saja penduduk setempat dan juga hewan-hewan. Dari masa inilah untuk pertama kali Bani Israel menduduki Tanah Palestina [3], sampai pada masa nabi Daud dan kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaiman.

Pada masa nabi Sulaiman, kerajaan Bani Israel terbagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan itulah yang sekarang dijadikan alas an histrois untuk mengklaim Negara Yahudi di Palestina. Padahal kerajaan Yahudi di masa nabi Daud AS dan nabi Sulaiman AS tidak lebih dari sebuah kota dan desa-desa di sekelilingnya. Dan hanya kebiasaan bangsa Yahudi memanggil pimpinannya dengan sebutan “Raja” [14]. Menurut pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi yang mengutip pendapat Shekh ‘Abd Al Mu’iz And al Sattar bahwa bani Israel hidup di Palestina juga tidak mencapai bilangan lamanya tentara Inggris menduduki India atau Belanda menguasai Indonesia. Yaitu tidak sampai lebih dari 300 tahun [15].

Sepeninggalan nabi Sulaiuman AS, mulailah riwayat kerajaan bani Israel merosot hingga akhirnya punah setelah bangsa Babilonia yang dipimpin oleh Nebukadnezar menghancurkannya dalam perang selama 9 hari pada tahun 586 SM. Orang-orang Yahudi ditawan dan digiring ke Babilonia. Di sinilah para tokoh Yahudi membesarkan hati kaumnya dengan konsep janji Tuhan, bumi nenek moyang, bumi yang dijanjikan, dan konsep bangsa pilihan Tuhan. Dengan menyebarkan konsep-konsep tersebut, Yahudi berharap dapat melestarikan persatuan dan kemurnian Yahudi untuk mengembalikan bangsa Yahudi [14]. Itulah sebabnya kaum Yahudi selalu membuat konspirasi untuk kembali ke Palestina dengan melakukan pemberontakan [3]. Hal tersebut juga membuat kaum Yahudi terdiaspora ke segala penjuru Romawi [10].

Kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Palestina diantaranya: Ashirian, Babiolonia, Mesir, Persia, sampai kekaisaran Romawi. Setelah pecahnya kekaisaran Romawi, Palestina tetap berada di bawah Naungan “Kekaisaran Romawi Timur” di mana konstantinopel menjadi ibu kotanya hingga datang Fath al Islamiy. Setelah itu Islam yang memberi nuansa Arab yang islami pada tahun 636 M [10].

Dari kilasan fakta di atas, bisa dilihat bahwa zionisme pada hakikatnya telah ada sejak bangsa Yahudi mengalami penindasan dari penguasa-penguasa yang memerintah di Palestina. Dalam hati kaum Yahudi tertanam kenginan untuk hidup di Palestina. Namun setelah penaklukan Islam serta dipakainya bahasa arab dalam kehidupan sehar-hari, sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan lambat laun terarabisasi bahkan masuk Islam [10]. Dan menurut Ahmad Shalabiy, sejak penaklukan Islam di Palestina tidak ada satu orang Yahudi pun yang tinggal di Palestina [3]. Adapun kaum Yahudi yang masih bertahan dengan identitasnya baik sebagai bangsa atau agama, mereka hidup di wilayah-wilayah tempat mereka berhijrah dan khusus yang tinggal dalam wilayah kekuasaan islam, mereka menikmati hidup sesuai degan prisip-prinsip ajaran Islam yang menghargai semua hak warganya, termasuk bangsa Yahudi. Dengan demikian berhentilah sementara aktifitas zionisme pada masa kemenanangan islam [3].

Namun, perasaan kebangsaan Yahudi yang terkubur tetap  menggelora [16]. Para kaum zionisme kembali berusaha memprovokasi orang-orang yahudi untuk menguasi Palestina dan membangun kuil Sulaiman serta mendirikan kerajaan Israel Raya. Mereka membuat konspirasi terhadap bangsabansa lain.

 

Ideologi Zionisme

Sebagai organisasi atau gerakan, zionisme memiliki ideologi sebagai landasan formal perjuangan untuk mencapai tujuannya. Landasan tersebut yaitu landasan agama dan politik.

1.     Landasan Agama

-Keyakinan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka , seperti termuat di alkitab “Perjanjian lama”

– Keyakinan akan datangnya “al-masih”. Tuhan akan mengutus al-Masih dari bukit Zion dan dari keturunan nabi Daud AS untuk menyelamatkan mereka dan membalas dendam kepada semua bangsa.

– Keyakinan bahwa mereka adalah bangsa “pilihan Tuhan” yang memiliki kelebihan dari bangsa-bangsa lain [3].

Dari landasan-landasan tersebut bangsa Yahudi membangun ide-ide, membuat undang-undang dan agenda. Mereka berkeyakinan bahwa tanah Palestina adalah hak mereka. Dan kembalinya mereka ke bukit Zion untuk mendirikan Negara Israel sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan mereka dan mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, maka mereka dapat berbuat apa saja demi terealisasinya agenda-agenda tersebut.

2.     Landasan Politik

Ideologi politik Yahudi tidak dipublikasikan secara terang-terangan, karena mereka ingin tetap dianggap sebagai bangsa yang memiliki keyakinan agama yang bersumber dari kitab suci. Namun ketika slogan kebangsaan dipropagandakan dan meletusnya gerakan-gerakan yang menuntut kemerdekaan di Eropa, orang-orang Yahudipun menuntut satu kebangsaan yang memiliki dimensi politik dan independensi yang mampu melindungi bangsa Yahudi dari segala bentuk penindasan. Suasana kebebasan di Negara-negara besar seperti Inggris dimanfaatkan untuk mendapat belas kasihan dan simpati untuk membentuk Negara di Palestina karena posisi Palestina sebagai wilayah agama dan bersejarah [16].

Eropa barat menyahuti tuntutan mereka karena beberapa pertimbangan, antara lain [16];

1.     Revolusi di Amerika dan Perancis telah memberikan hak-hak setiap bangsa dan kebebasan bagi setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.

2.     Aktif dan berkembangnya gerakan-gerakan nasionalisme

3.     Pembantaian yang dialami bangsa Yahudi di Rusia.

Dengan dasar ideologi agama dan politik ini, bangsa Yahudi membangun cita-citanya, membentuk opini umum, untuk memdapatkan simpati dan dukungan dari Negara-negara barat dan bersikeras menjadikan Palestina sebagai negara mereka [16].

 

Daftar Referensi:

[1] Muhammad Nalm. 2015. Sejarah Yahudi. http://akuislam.com/blog/fakta-menarik/sejarah-yahudi/

[2] Al-Qur’anul Karim

[3] Salaby, Ahmad. 1996. Agama Yahudi. Jakarta: Bumi Aksara.

[4] Encyclopedia Americana. 1974. Vol.29 . New York: American Corporation.

[5] Enciklopedi Umum. 1973. Yokyakarta: Yayasan Kanisius.

[6] Encyclopedia Britannica. 1965. Vol 23 . Chacago: Willian Banton.

(Enscyclopedia Britannica, 1965: 955)

[7] Ali Muhammad Jareshah dan Muhammad Sharif Al Zeibik. Asalib Ghazw al Fikriy lil ‘alam Al Islamiy. Cairo, 1975: Hal 151.

[8] Muhammad Al-Hasan. Al Madhahib wa al Afkir Al Mu’asrah fi Al Tasawwur al Islamiy. Dar Al Bashir li At-Thaqafah wa ‘Ulum al Islamiyah: Hal 351.

[9]Al Bakr. Madhadib Fikriyah di Al Mizan. Cairo, Dar Al-Aqidah. 2002: hal 215.

[10] Aguk Irawan MN. Muqaranah al Adyan 1 (al Yahidiyah). Cairo: Maktabah al Nahdah al Misriyah. 1978: Hal 89.

[11] Ameer, Ali Syed. 1996. Api Islam. Terjema: Djamadi. Jakarta: PT. Pembangunan.

[12] Daya, Burhanuddin. 1982. Agama Yahudi. Yogyakarta: PT. Bagus Arafah

[13] Reade,winwood. 1972. Rligion in History. Bombay: The Micmillan Company of India.

[14] Maufur, Musthofah. Pengantar Penerjemah dalam William G. Carr. Al Yahud waru Kull Al Janmah (Yahudi Menggenggam Dunia). Terj. Musthoffah Maufur. Cet VI: Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2004.

[15] Al Qardhawiy, Yusuf. Al-Quds Qadiyyah Kull Muslim. Cet II: Beiru Al Maktab Al Islamiy, 1998.

[16] Al-Juhaniy, Mani’Hammad. Al Mausuah al Musayasarh di al adyan wa al Madhadhib wa al Ahzab al Mi’asirah. Jilid 1. Cet IV. Al Riyad: Dar al Nadwah al Alamiyah li li at Tiba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi, 1420 H

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *