Perjuangan Tanpa Henti

Hari-hari ini demostrasi rakyat Palestina di Jalur Gaza dalam menuntut “Hak untuk Kembali ke Rumah yang Dirampas” mencapai puncaknya. Satu persatu rakyat Palestina gugur. Bahkan wartawan yang bertugas meliput pun tak lolos dari tembakan pasukan Israel.

Para tentara penembak jitu Israel berbaris di atas bukit dan menargetkan anak-anak lelaki yang tidak bersenjata satu per satu. Ratusan orang terluka hanya dalam beberapa jam, dan sekitar 20 orang kehilangan nyawanya. Tak satu pun dari para korban membawa senjata, juga tidak menimbulkan bahaya bagi tentara Israel yang menjaga perbatasan.

Pembantaian itu jelas-jelas direncanakan. Direncanakan sebelumnya oleh para pemimpin Israel yang bertujuan untuk mengendorkan aksi damai yang rencananya akan berlangsung beberapa waktu ke depan.

Komisaris Jenderal Badan Independen Hak Asasi Manusia (ICHR), Issam Younis Dalam konferensi pers di depan markas Badan HAM Palestina di Gaza pada, Kamis (5/4/2018) menegaskan bahwa tentara penjajah Israel dengan sengaja membunuh para penduduk Palestina dengan menargetkan mereka secara langsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan luka-luka di bagian atas tubuh, terutama di bagian kepala, leher dan dada. Younis mengutuk tindakan tentara penjajah Israel karena menggunakan kekuatan yang sangat berlebihan terhadap para demonstran damai di dekat perbatasan Gaza”.

Seluruh dunia menyaksikan apa yang terjadi Jumat lalu ketika puluhan ribu pengungsi Palestina di Jalur Gaza menyatakan protes mereka terhadap hak dan kepemilikan mereka atas rumah dan tanah asli mereka di Palestina yang dijajah Israel sejak tahun 1948. Di Gaza, populasi pengungsi mencapai lebih dari 2 juta orang. Mereka tinggal di daerah yang padat dan terisolasi. PBB telah menyatakan bahwa pada tahun 2020 Gaza akan “mati”, karena kelangkaan sumber daya dan kurangnya akses ke air minum dan layanan dasar.

Kita harus menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menekan Israel agar tunduk pada hukum internasional dan mengangkat pengepungan 11 tahun di Gaza. Juga kepada Pemerintah Palestina Bersatu untuk membuktikan semangat rekonsiliasi, menghentikan tindakan hukumannya terhadap rakyat Gaza, termasuk memaksa karyawannya di wilayah itu untuk pensiun dini, memotong hingga 50 persen gaji dan mengurangi pasokan listrik, obat-obatan dan peralatan medis.

Dunia cukup melihat dengan mata mereka bahwa yang hidup di Gaza adalah pengungsi. Di mana mereka dibersihkan secara etnis oleh pasukan Israel dalam operasi militer paling kejam di abad ke-20. Bahkan Israel menolak mematuhi resolusi PBB, termasuk Resolusi Majelis Umum 194 tahun 1948, dan mengabaikan hukum dan konvensi internasional, serta hak asasi manusia.

Warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza menolak untuk menyerah dalam keadaan apa pun. Keteguhan ini telah mendorong para pemimpin Israel untuk mencanangkan  pemusnahan massal atas rakyat Gaza. Keinginan Israel ini digambarkan oleh mantan Perdana Menteri Yitzhak Rabin, yang berharap dia bisa bangun pada suatu pagi dan menemukan Jalur Gaza tenggelam ke laut. Di kemudian hari Yitzhak Rabin dibunuh oleh seorang fanatik Israel, dan Gaza tetap teguh tahun demi tahun.

Pada hari ini orang-orang Palestina belum mengangkat bendera putih dan mereka tidak akan meninggalkan hak-hak mereka. Sebaliknya, hari ini mereka telah mengirim pesan yang jelas tentang pembangkangan dan tekad kepada Israel dan seluruh dunia dengan “Great March of Return”. (Iskandar Samaullah)

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *