Amputasi Kaki Jurnalis Gaza yang terluka di Pawai Kembali

iwishcenter.org – Gaza. “Saya berdiri 800 meter dari pagar pembatas saat mereka menembak saya”, cerita jurnalis Gaza, Yousef Al Kronz (19 tahun) kepada media palestine monitor, dari kasurnya di rumah sakit Istishari, Ramallah.

Dia menembak kedua kaki saya saat sedang mendokumentasikan hari pertama aksi besar “Pawai Kembali” (sebuah rangkaian aktivitas dan aksi yang telah dilaksanakan selama lebih dari 6 pekan, di perbatasan Gaza). Tujuan dari pawai ini adalah untuk menarik perhatian terkait keadaan buruk warga Palestina di Gaza, serta mengambil perhatian terhadap hak kembali orang-orang Palestina ke wilayah-wilayah yang dijajah di tahun 1948.

“Saat itu, saya sedang memakai jaket pers saya. Mereka menembak saya pertama kali di kaki, saat saya mengambil foto peristiwa di aksi tersebut. Saat saya mencoba bangun dengan kaki saya yang masih dalam kondisi baik, mereka kembali menembak kembali kaki tersebut. Saya tidak dapat mendengar suara tembakan itu. Para tentara penjajah Israel menggunakan peredam bunyi senjata. Saya merasakan teman saya datang, namun para tentara penjajah Israel juga menembak teman saya”, tuturnya.

Yousef segera masuk ke unit pengobatan intensif, Kronz mendapatkan perintah dokter untuk menerima perawatan medis di luar Palestina. Namun, penjajah Israel menolak izin Kronz untuk meninggalkan Gaza. “Setelah 11 hari, para dokter menginformasikan kepada saya, mengenai amputasi kaki saya akibat darah yang tidak bisa mengalir”, pungkasnya.

“Alasan kaki pertama saya diamputasi karena pihak otoritas intelejen tidak mempertimbakan izinnya selama satu pekan”, kata pengacara Kronz, Samsan Zaher kepada media Palestine Monitor.

Zaher mengatakan tindakan hukuman merupakan tindakan yang digunakan penjajah Israel untuk melawan semua warga Gaza. “Ini karena Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman memutuskan siapa yang terluka di Gaza, tidak akan mendapatkan izin medis, jika mereka berpartisipasi dalam pawai tersebut. Bukan karena mereka membawa senjata atau karena intelejen mempunyai informasi terhadap para demostran. Namun hal itu berdasarkan partisipasi mereka di dalam pawai ini.

“Tindakan ini seperti pembunuhan yang dilakukan dengan cara dua kali”, tambah Zaher. Pertama, mereka menembak para demonstran tak bersenjata, selanjutnya mereka menolak pelayanan medis diberikan kepada korban luka demonstran. penjajah Israel berkewajiban untuk melakukan tindakan medis, berdasarkan hukum kemanusiaan internasional. Kewajiban medis bagi korban luka secara hukum harus diberikan kepada kedua demonstran dan warga Gaza.

Amnesti Internasional meluncurkan sebuah tindakan darurat untuk menekan otoritas untuk mengizinkan Kronz meninggalkan Jalur Gaza. Organisasi Hak Asasi Manusia Palestina Adalah dan Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan mengajukan sebuah petisi ke Mahkamah Pidana penjajah Israel pada 8 April. “Pengadilan tersebut hanya menyetujui sebuah sidang darurat, ketika kami menginformasikan kepada mereka bahwa kaki pertamanya telah diamputasi. Sidang tersebut berlangsung selama 3 hari penuh”, pungkas Zaher.

Setelah 17 hari setelah mengalami luka, tepat pada Ahad (15/4/2018), Pengadilan penjajah Israel memutuskan penjajah Israel harus mematuhi hukum dengan membolehkan Kronz meninggalkan Jalur Gaza. Kronz mendapatkan perawatan medis di Ramallah sejak dipindahkan pada hari Selasa (17/4/2018).

“Ini adalah pertama kali dalam hidupku, aku meninggalkan Gaza”, ucap Kronz kepada Palestine Monitor.

Dia datang ditemani oleh kakek neneknya. “Orang tuaku terlalu muda dan penjajah Israel masih mempertimbangkan kedua orang tua sebagai ancaman keamanan bagi mereka. Mereka tidak diberikan izin”, tutur Kronz.

“Penjajah Israel mempunyai kekuatan mengeluarkan izin saya dari hari pertama, saya mendapatkan luka. Jika penjajah Israel melakukan memberikan izin di hari pertama saya terluka. Saya masih memiliki kaki pertama saya. Kami para jurnalis tidak terlindungi di Gaza dan tidak ada satupun yang dapat meminta penjajah Israel untuk bertanggungjawab”.

Operasi untuk penyelamatan kaki yang tersisa, dijadwalkan pada tanggal 19 April.

Sumber berita: palestinemonitor.org

Sumber foto: palestinemonitor.org

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *