44 Tahun Hari Tahanan Palestina

Bukan hanya menuntut kembalinya tanah yang dirampas, bulan ini warga Palestina juga meminta agar para tawanan Palestina dibebaskan. Tepat pada tanggal 17 April 2018 kemarin, perlawanan aksi “pawai akbar kepulangan” semakin memanas dengan adanya peringatan hari tahanan Palestina. Tanggal 17 April sendiri ditetapkan sebagai hari Tahanan Palestina oleh Majelis Nasional Palestina pada tahun 1974. Sejak saat itu warga selalu memperingatinya setiap tahun guna mengingatkan dunia akan nasib keluarga mereka yang ditawan penjajah.

Dalam data yang dirilis oleh Aljazeera.net disebutkan, jumlah orang Palestina yang mendekam di penjara Israel sebanyak 6.500 orang. Apabila diprosentasikan, dari 70% keluarga Palestina satu diantara anggota keluarganya ditawan Israel. Mereka yang ditawan terdiri dari 350 orang anak-anak, 62 orang perempuan; diantaranya 21 orang ibu-ibu dan 8 orang perempuan di bawah umur. Terdapat pula 6 orang anggota legislatif dari Dewan Perwakilan Rakyat Palestina.

Dalam satu tahun ini saja, sejak Januari hingga Maret tahun 2018 tercatat 1.928 orang Palestina ditawan oleh Israel. Diantara mereka terdapat 369 orang anak-anak dan 36 perempuan. Diantara tawanan yang ada, terdapat 2 orang tawanan yang mendekam selama 35 tahun di penjara Israel. Ada 700 tawanan yang menderita sakit serius dan membutuhkan pengobatan dan 26 tawanan lainnya yang menderita penyakit kanker.

Masalah tawanan Palestina memang sedikit sekali mendapat perhatian publik bahkan dunia. Padahal tindakan yang dilakukan Israel ini jelas-jelas melanggar HAM, sama seperti kejahatan berupa pengusiran rakyat Palestina dari tanah kelahirannya. Dari mulai penangkapan, persidangan hingga dijebloskan ke dalam penjara, warga Palestina yang ditahan benar-benar diperlakukan tidak adil. Hak pembelaan mereka dirampas, karena tak sedikit dari mereka yang dipenjarakan tanpa sebab yang jelas.

Dalam laporan yang dirilis Lembaga Pembebasan Tawanan Palestina, sepanjang tahun 2018 ini tawanan yang gugur di dalam penjara Israel sebanyak 215 orang, 77 orang diantara mereka gugur karena vonis hukuman mati, 72 tawanan lainnya meninggal karena penyiksaan di penjara, 61 orang lainnya karena kelalaian medis, dan 7 orang tawanan lainnya tewas ditembak dengan timah panas oleh sipir penjara.

Antara Perundingan dan Perlawanan

Permasalahan tawanan merupakan satu dari permasalahan bangsa Palestina. Bagaimana solusi untuk mengakhirinya, ini yang harus dicarikan solusinya. Dalam upaya mengakhiri penjajahan, faksi-faksi di internal Palestina menempuh dua cara, ada yang berjuang melalui meja perundingan, ada pula yang berjuang melalui perlawanan bersenjata. Hal serupa yang coba ditempuh untuk membebaskan warga Palestina yang ditawan.

Baik perundingan dan perlawanan keduanya merupakan satu kesatuan untuk mencapai kemerdekaan Palestina. Tapi diantara dua cara tersebut, jalur perlawanan bersenjata dinilai lebih efektif ketimbang perundingan. Hal ini bisa kita lihat dari proses pertukaran tawanan yang berhasil dilakukan antara gerakan perlawanan Islam Hamas dengan Zionis Israel pada tanggal 11 Oktober 2011 lalu. Saat itu seorang tentara Israel bernama Gilad Shalit berhasil ditukar dengan 1.000 lebih tawanan Palestina.

Pada awal tahun 2017 lalu pihak Zionis Israel merilis 3 nama serdadunya yang hilang dalam perang melawan Hamas di Jalur Gaza. Ketiganya diyakini masih hidup dan ditawan oleh pihak Hamas. Kalau data ini benar, maka ini menjadi kebahagian tersendiri bagi warga Palestina, karena hari kebebasan bagi kerabat mereka semakin dekat. Wallahul Musta’an. 

sumber foto: dakwatuna.com

 

 

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *